Belajar Skala Prioritas untuk Bedakan Alat dan Tujuan

Reportase Sinau Bareng CNKK di Taman Tirtayasa, 18 Agustus 2018


Sinau Bareng kali ini dalam rangka Milad SMK Al-Huda yang ke-29. Bertempat di Tirtayasa Park, acara yang biasanya dimulai pukul 21.00 WIB, kali ini maju satu jam lebih awal.

Mbah Nun mengajak jamaah mempelajari afdholiyatil asya’, skala prioritas. Agar bisa membedakan antara alat dengan tujuan, washilah-ghoyah. Diperluas lagi bisa membedakan antara wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram.


“Hidup ini maraton atau sprint?” Tanya Mbah Nun kepada jamaah. Kemudian beliau menjelaskan bahwa dunia ini ibarat perlombaan lari maraton sementara finishnya yaitu di akhirat. Dari situ yang bisa digarisbawahi ialah adanya jalan panjang yang harus ditempuh, tak perlu tergesa-gesa, lebih mengutamakan keteraturan dalam mengambil “nafas” sehingga sukses mencapai akhirat. Dalam bahasa al-Quran disebutkan, Wabtaghi fii maa ataaka daral akhirah, wa laa tansa nashiibaka minaddunya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.

Acara kemudian break sejenak dilanjutkan dengan penawaran kepada jamaah untuk maju, bernyanyi bersama Kiai Kanjeng. Seorang jamaah membawakan syair karya Sosrokartono, yang dipopulerkan oleh Sujiwo Tejo, Sugih tanpo bondo, digdoyo tanpo aji… Pakdhe-Pakdhe Kiai Kanjeng yang meresponnya secara spontan ndilalah langsung kllik, selaras dengan lagu tersebut. Para jamaah yang hadir pun ikut bernyanyi bersama.


Paska jeda sejenak, jamaah diajak mendalami sekaligus meluaskan pandangan soal skala prioritas dalam kehidupan. Misal saat membahas skala prioritas dalam pendidikan: yang paling utama dinas pendidikan atau sekolahannya atau muridnya? Ya jelas muridnya. Artinya, demi nama baik sekolah ataupun demi kepentingan dinas pendidikan setempat, tidak boleh mengorbankan murid! Semoga kelak salah satu siswa SMK Al-Huda ada yang menjadi pemimpin, begitu harapan Mbah Nun. “Namun jangan lupa harus tetap rendah hati. (Menerapkan sikap) akhlaqul karimah“.


Sebelum mengakhiri acara sinau bareng, Mbah Nun berpesan agar memfokuskan hidup hanya kepada Allah dan Hubburrasul. Jangan terlalu berharap kepada pemerintah dan ulama. Sekarang ini orang tidak tahu perbedaan antara negara dengan pemerintah.Negara milik rakyat. Pemerintah dipasrahi untuk mengurusnya. Negara tetap jalan meski pemerintahnya tidak jalan. Negara melantik pemerintah. Presiden bukan pemimpin negara sekaligus pemimpin pemerintahan seperti yang ada sekarang. Pemerintah bersifat sementara dan periodik tapi negara berlaku seterusnya. Di situ ada rakyat, ada negara yang berdaulat.

Juga tidak tahu perbedaan antara ulama dengan fuqoha. Ulama itu universitas; orang yang dapat melakukan banyak hal; tahu permasalahan dan solusinya; bisa disambati orang karena tahu hatinya orang yang sedang susah dan senang. Sedangkan fuqoha itu salah satu fakultasnya. Fuqoha ialah orang yang hanya mengerti hukum Islam. Artinya, orang yang ahli hukum Islam tanpa tahu bidang lain belum bisa disebut ulama.
Continue reading Belajar Skala Prioritas untuk Bedakan Alat dan Tujuan

Wani Ndadi

Pambuko Sanggar Kedirian 3 Agustus 2018

Barangkali masih ada pikiran yang mengganjal di antara dulur-dulur Maiyah khususnya di Sanggar Kedirian, mengenai Maiyah yang tidak membentuk sebuah identitas tertentu, ormas, lembaga, yayasan atau bentukan-bentukan lain yang kita kenal selama ini. Karena dianggap bentuk padatan semacam itu akan membuat lebih jelas arah tujuannya dan lebih teroganisir. Maiyah meniti kesabaran untuk tidak tergoda memadatkan dirinya menjadi suatu identitas tertentu. Dinamika yang berjalan sejauh ini mengantarkan Maiyah memfokuskan diri sebagai Majelis Ilmu dengan metode Sinau Bareng, yang berfokus pada upaya-upaya membangun manusia Maiyah yang berilmu, bermartabat dan bermanfaat. Maka setiap unsur dalam jamaah adalah unsur pembentuk yang sama penting menurut peran masing-masing, terutama di dalam membangun kediriannya sendiri. Sehingga dalam hal ini, subjek utamanya adalah manusianya sendiri bukan eksistensi wadag yang diagungkan.

Sanggar Kedirian melangkah pada suatu kesadaran mengenai organisme. Ciri utama dari organisme adalah keikutsertaan setiap individu secara organik untuk berperan di dalam penataan, pengorganisasian dan pengelolaan, sesuai dengan potensi diri masing-masing. Sewajarnya organ tubuh manusia, yang mana setiap bagiannya bekerja dengan sendiri. Hal ini berlaku kepada hal apapun dalam kehidupan. Sehingga apakah kesanggupan untuk berani (wani) menjadi diri sendiri, merupakan proses pencapaian yang mewujud (ndadi) itu sendiri?

Continue reading Wani Ndadi

Njawani Jowo

Pambuko Sanggar Kedirian 29 Juni 2018


Konon situasi tata kehidupan orang Jawa sebelum datangnya agama Hindu, Budha dan Islam, sudah pada tingkat numinous, dimana orang Jawa dengan roso yang dirasakan sudah meyakini adanya Yang Maha Kuasa (Gusti Kang Murbeng Dumadi) yang lebih besar dan tinggi yang tidak bisa dijangkau dan dikuasai manusia. Sehingga dengan kemampuan penghayatan falsafah hidup yang lahir pada waktu itu, Jawa sudah mempunyai konsep tatanan kehidupan. Jawa sudah memiliki budaya dalam berbagai bidang mulai pertanian, perniagaan, kesenian, sosial, politik, arsitektur, dan banyak bidang lainnya. Juga nilai-nilai hidup saling mencintai, menyayangi, saling menghormati antar sesama makhluk hidup. Jawa mengajarkan bagaimana menghormati yang tua, baik secara lisan bahasa maupun perilaku. 


Dalam catatan sejarah, mengapa Islam yang dibawa oleh para pedagang lebih dari 800 tahun tidak mengalami perkembangan di tanah Jawa? Namun justru mengalami perkembangan pesat setelah kemudian Islam dibawa oleh Walisongo? Hanya butuh 40 tahun Islam sudah sangat pesat di tanah Jawa. Adakah penyelarasan nilai-nilai ajaran Islam yang dibawa Walisongo dengan kebudayaan Jawa? Lantas kenapa yang berkembang saat ini justru Budaya Jawa dianggap bertentangan dengan ajaran Islam? Lalu hikmah apa Allah menciptakan kita untuk menjadi orang Jawa?

Bukankah nilai-nilai Jawa yang mengajarkan kita bagaimana bermasyarakat yang njowo (mengerti, paham dan tahu) namun seiring perkembangan jaman mengalami degradasi oleh orang-orang Jawa sendiri. Sehingga orang Jawa kehilangan katakternya sebagai orang jowo yang njowo, kehilangan kejawanannya. Banyak orang Jawa ora njowoakeh wong jowo ora njowoni. Bukankah kebangkitan karakter bangsa dimulai dari manusianya? Dan bagaimana kebangkitan karakter manusia akan terjadi jika manusia tidak tahu siapa dirinya?

Sanggar Kedirian dalam forum sinau bareng mencoba menggali dan memahami kembali khasanah Jawa sebagai pembelajaran mengenai Jawa. Mengajak bersama-sama Njawani Jowo yang bertepatan dengan momentum halal bi halal pada 29 Juni 2018, Jumat malam Sabtu Legi di GNI Kota Kediri, pukul 20.00 WIB.

Insyaallah Ustadz Bustanul Arifin sebagai pagar keilmuan akan Istiqomah membersamai diskusi santai kita. Semoga KAnjengKUStik sehat selalu dan bisa menyegarkan suasana kajian diskusi Sanggar Kedirian. Group sholawat Habsy Khidmatul Khuluq SMKN 1 Ngasem bersama Group Sholawat Nurrohmah Dander Kota Kediri insyaallah memberikan kemesraan dalam suasana halal bi halal.

Bismillahirrahmanirrahim.

Continue reading Njawani Jowo

Hoax Hoeeek

Pambuko Sanggar Kedirian 25 Mei 2018


Hoax ibarat sebuah makanan atau minuman yang bila dimasukkan mulut ditelan masuk ke perut bakal bikin penyakit. Maka seyogyanya hoax mesti kita muntahkan, mesti kita buang saat dimulut, yang dalam tangkapan telinga orang Jawa menjadi “hoeeek”.

Hoax yang deras menyerang kita berupa informasi-informasi palsu yang diolah menjadi sebuah kebenaran.

Sebagaimana lidah yang memberi informasi perasa sebuah sesuatu yang masuk ke mulut, maka kita harus memperpeka perasa kita terhadap sebuah hoax. Agar tidak tertelan dalam perut kehidupan kita sehingga mempengaruhi pola pikir.

Bulan Ramadhan mengajak kita untuk selalu menahan diri, mengajak kita lebih jernih memilah dan memilih sesuatu untuk kita masukkan ke dalam tubuh kita. Hoax pun harus kita tahan agar tidak sembarangan masuk ke tubuh kita. Sebagaimana kita berpuasa, menahan diri menerima hoax atau berbuat hoax.

Mari melingkar bersama membangun rasa kepekaan memahami hoax untuk kita hoeeek-an dalam rutinan Sanggar Kedirian:

Hari: Jumat malam Sabtu Legi, 25 Mei 2018.

Jam: 16.00 WIB.

Lokasi: Gedung GNI Kota Kediri.

Rutinan diawali buka bersama, dilanjutkan Sholat Jamaah Magrib, Isya’ dan Tarawih.

Continue reading Hoax Hoeeek

Wasiat Nabi Saw Tentang Wanita

 



•┈◎❅❀( *Edisi Hari Kartini* )❀❅◎┈•
Sabtu, 21 April 2018 / 5 Sya’ban 1439 H.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال،قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُؤْذِيْ جَارَهُ، وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْئٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا. (رواه البخارى ومسلم)

Artinya:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa salam bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia menganggu tetangganya, dan berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, maka engkau mematahkannya dan jika engkau biarkan, maka akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berbuat baiklah kepada wanita.” (HR. Imam Bukhari no. 5185, kitab an-Nikaah; dan Imam Muslim no. 60, kitab ar-Radhaa’, II/1091)

Pelajaran yang terdapat pada hadits di atas:

1. Diantara tanda orang yang beriman (percaya) kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hari akhir adalah orang yang tidak menggangu tetangganya dan bisa berbuat baik pada istrinya, sebagai pemimpin, pembimbing, ngayomi dan ngayemi sehingga ia bisa terus menjadi istri yang shalihah.
2. Hadits di atas berisi anjuran agar berlemah lembut untuk melunakkan hati wanita yang cenderung bengkok (bersikap kurang baik).
3. Hadits di atas juga berisi tentang bagaimana cara memimpin wanita, yaitu dengan cara memaafkan mereka dan bersabar terhadap kebengkokan mereka.
4. Dan siapa yang ingin meluruskan mereka, berarti mengambil manfaat (adanya) mereka. Karena setiap manusia pastilah membutuhkan wanita; ia merasa tenteram kepadanya dan menjadikannya sebagai penopang kehidupannya.
5. Seolah-olah beliau SAW. mengatakan: “Mengambil manfaat mereka tidak akan tercapai kecuali dengan bersabar terhadapnya.”

Tema hadits yang berkaitan dengan ayat Al-Qur’an:

1. Dalam hal ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan istri sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah yang harus dijaga. Ia adalah salah satu nikmat-Nya yang wajib disyukuri, sebagaimana yang diperintahkan-Nya;

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا … ۞

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,…” (QS. Ar-Ruum/30: 21)

2. Bertutur kata dengan baiklah kalian kepada mereka (istrimu), dan berlakulah dengan baik dalam semua perbuatan dan penampilan kalian terhadap mereka dalam batas yang sesuai dengan kemampuan kalian;

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۞

“Dan bergaullah dengan mereka secara baik.” (QS. An-Nisa’/4: 19)

*والله اعلم بالصواب…*

*Semoga manfaat*

[Bustanul 'Arifin]

Continue reading Wasiat Nabi Saw Tentang Wanita

Sikapi dengan Kuat, Temukan Prasangka Tepat

 Reportase Sanggar Kedirian 20 April 2018 

Membangun diri menjadi pribadi yang kuat menjadi motivasi dulur-dulur kembali berkumpul dalam diskusi rutinan Sanggar Kedirian. Dengan mengangkat tema besar “Ajeg Jejeg” diharapkan semua dulur-dulur Sanggar Kedirian memiliki pondasi yang kuat dalam menjalani kehidupan, serta konsisten menebar kebaikan dan kebahagiaan.

Sebelum diskusi dimulai, dilaksanakan tadarusan yang dalam kesempatan itu dibacakan surat Ali Imron. Selain itu, di tengah-tengah kegiatan berlangsung, dilantunkan Sholawat sebagai wujud kecintaan dan kerinduan terhadap Allah dan Rasulullah.


Karpet biru dan segelas kopi menemani kami melingkar bersama menemukan nilai. Mas Hartono membuka diskusi memancing dulur-dulur untuk membahas tema ajeg jejeg.

Mas Ibrahim menyampaikan bagaimana ide tema ajeg jejeg ini muncul, dari mas Gatot yang memiliki pemikiran bahwa dalam hidup ini kita harus waspada atas prasangka atas diri sendiri, kepada orang lain dan kepada sesuatu.


Dikembangkan pada unen-unen “Urip kudu tansah eling lan waspodo” yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut mas Andri, “Ibarat silat kita harus menyiapkan kuda-kuda untuk siap menghadapi serangan. Siap yang dimaksud ialah ketepatan menyikapi segala sesuatu dengan pas terhadap segala serangan informasi.”

Di kalangan dulur-dulur Sanggar Kedirian seringkali ada ungkapan, “Sing penting ajege lur.”Menurut mas Adnan, ” Ajeg adalah sering atau Istiqomah. Jejeg ialah sebuah penekanan, sebuah pemahaman bagaimana dengan sebuah prinsip kita menyikapinya.”


Dalam diskusi tersebut, Pak Bustanul ‘Arifin, selaku pauger keilmuan, menguraikan garis tema yang didiskusikan. Beliau menuturkan, “Ajeg jejeg berasal dari Bahasa Jawa “Jeg” yang artinya tidak pernah berubah dan tidak mudah goyah. Jadi kita dituntut selalu ajeg , agar nantinya kita tetap jejeg dalam menghadapi berbagai macam kondisi kehidupan ini.”

Pak Bus menambahkan, “Di tengah-tengah sesuatu yang salah harus selalu ditumbuhkan sesuatu yang benar. Saat kesalahan dilakukan secara bersama-sama dan terus-menerus maka bisa jadi dianggap suatu kebenaran. Maka sikap ajeg jejeg bisa membuat perubahan untuk mencari yang benar-benar benar.


Diskusi rutinan malam Sabtu Legi ini, digelar di pelataran Gedung GNI, Kota Kediri. Acara yang dimulai pukul 21.00 WIB ini dihadiri sekitar 25 orang dari Kediri dan sekitarnya.

Di sesi terakhir, acara dipuncaki dengan Mahallul Qiyam dan melantunkan Sholawat. Diskusi ditutup dengan bersalam-salaman antar seluruh dulur-dulur Sanggar Kedirian sebagai wujud tali kasih dan pasuduluran. [Alwim]

Continue reading Sikapi dengan Kuat, Temukan Prasangka Tepat

Ajeg Jejeg

Pambuko Sanggar Kedirian 20 April 2018


Kedaulatan seseorang sangat berpengaruh terhadap kewaspadaannya. Harusnya ajeg jejeg untuk menambah kekuatan kewaspadaanya. Ajeg jejeg sebagaimana membiasakan diri untuk bersikap kuda-kuda. Dimana orang tidak mudah terombang-ambing dengan informasi yang ada. "Urip kudu tansah eling lan waspodo" salah satu terjemahan bisa menjadi Dzikr dan Taqwa. Waspada berbeda dengan curiga. Waspada terhadap apapun yang bisa menghambat kemuliaan hidup. Berposisi di tengah-tengah terhadap informasi yang berkembang misalnya. "Asa antakrohu syaian wahuwa khoirun lakum wa 'asa an tuhibbu syaian wahuwa syarrun lakum". Terkadang sesuatu yang buruk menurut kita adalah yang baik dan bisa jadi sesuatu yang menurut kita jelek ternyata baik. Ajeg jejeg menjadi modal untuk waspada terhadap apa-apa yang dihadirkan Allah.
"Undzur ma qola wala tandzur man qola".Lihatlah apa yang diucapkan bukan siapa yang mengucapkan. Mau tidak mau sikap subyektif kita masih terpengaruh dengan ketokohan seseorang sehingga lupa dan tidak waspada terhadap apa yang diucapkannya. Ucapan pun akan ditelan mentah-mentah tanpa ada tabayyun terlebih dahulu. Ketika sudah sinkron dengan orang yang kita anggap tokoh di situlah seharusnya lebih waspada. Jangan-jangan kita hanya menjadi duplikatnya dan tidak berdaulat atas diri. Ketika menganggap orang yang tidak sesuai dengan kita di situlah kita juga harus waspada, jangan-jangan kita malah mendapat pelajaran yang agung darinya.
Mari sinau bareng dengan tema "Ajeg Jejeg" dalam rutinan sanggar Kedirian di musholla GNI Kota Kediri pada hari Jumat malam Sabtu Legi, 20 April 2018, pukul 20.00 WIB. Bersama Kang Bustanul 'Arifin (pauger keilmuan) dan Kanjeng Kustik. Semoga Alloh memberikan kita semua kekuatan untuk Ajeg Jejeg.

Continue reading Ajeg Jejeg

Ndhedher

Pambuko Sanggar Kedirian 16 Maret 2018

Menanam hari ini, bisa jadi kita yang menanam tidak mengalami masa panen, tapi anak cucu kita yang akan menikmati hasil tanaman kita.

Menanam kebaikan istilah lain nandur becik, keharusan bagi setiap pribadi sebagai tabungan yang akan kita nikmati nanti atau dinikmati anak cucu. Menanam kebaikan akan menuai kebaikan, begitu juga sebaliknya.

Namun kita tak boleh lupa, sebelum kita menanam ada hal yang wajib kita lakukan, yakni menyiapkan benih-benih secara baik dan tahapan-tahapan menghasilkan benih yang baik. Istilah Jawa ini namanya ndhedher.

Proses ndhedher ini bisa mengolak-alik biji-bijian benih, atau istilah lain ditapeni diatas tampah. Lalu merendam benih yang kemudian disiangi diatas pembenihan hingga benih-benih ini tumbuh keluar daun yang siap ditanam sebagai bibit tanaman.

Ndhedher adalah sebuah proses kecil tapi ndhedher akan menghasilkan bibit-bibit masa depan yang unggul.

Wes wayahe..
Wes sangate..
Wayah ndhedher..


Atas hal ini, Sanggar Kedirian mengajak bersama belajar ndhedher pada:
hari: Jumat malam Sabtu legi
tanggal: 16 Maret 2018
jam: 20.00 WIB
tempat: Mushola GNI kota Kediri

Tentunya dengan penyegaran musik Kanjeng Kustik dan pemandu keilmuan Ust. Dr. Bustanul Arifin, Dosen IAIT Tribakti, akan menambah keasyikan ndhedher. Monggo melingkar bersama ndhedher masa depan dengan kebaikan-kebaikan. Semoga Alloh menyertai kita semua. Amin.
Continue reading Ndhedher

Kejangkung Leluhur

Pambuko Sanggar Kedirian 9 Februari 2018 

 

Melompat lebih jauh itu perlu ancang-ancang, semakin jauh ancang-ancang yang kita ambil maka akan semakin jauh hasil lompatan kita. Melompat itu masa depan, ancang-ancang itu masa lampau.

Ancang-ancang bisa dengan cara memahami sejarah siapa kita. Lalu mengidentifikasi leluhur kita siapa. Agar tahu harus di posisi mana. Sehingga kita bisa berbuat bertindak yang bagaimana. Bila diurutkan menjadi Identifikasi-Posisi-Orientasi.

Jika tak paham siapa diri kita, maka akan mengalami disidentifikasi yang berakibat pada disposisi. Selanjutnya akan mengalami disorientasi. Hancurlah peradaban jika sudah mengalami 3 hal ini.

Kejangkung Leluhur, mengajak belajar kepada sejarah, masa lalu, memahami leluhur kita, agar kita mampu memberikan daya lompat yang jauh untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan, syukur-syukur negara.

Mari duduk melingkar bersama Sanggar Kedirian. Sila merapat dulur-dulur sekalian dalam rutinan hari Jumat malam Sabtu Legi tanggal 9 Februari 2018 pukul 20.00 WIB bertempat di GNI Kota Kediri.

Mari kita bersilaturahmi, berkumpul, berdiskusi, mengingat dan menyapa kanjeng nabi serta bernyanyi dan menikmati alunan lagu yang akan kita bawakan bersama Kanjeng Kustik.

Continue reading Kejangkung Leluhur

Malu

Pambuko Sanggar Kedirian 1 Desember 2017

Malu, dalam bahasa Jawa artinya memalu (memukul memakai palu) sebuah kata kerja melakukan pukulan dengan palu. Malu dalam istilah bahasa Indonesia itu adalah sebuah ungkapan perasaan yang dari sebuah respek hati dan pikiran akibat sebuah tindakan yang dialami sebelumnya atau sesudahnya yang ingin ditutupi. Ada orang yang malu dilihat karena aurot terbuka. Ada yang malu kalau tampil gak necis. Ada juga yang malu akibat berbuat buruk.

Anehnya ada orang yang malu kalau orang lain tahu kita berbuat korupsi, mencuri tapi kok ya tetap saja melakukan tindakan korupsinya. Karena malu, si Fulan terpaksa menutup wajahnya ketika diekspos media. Bahkan menutupinya dengan tindakan yang sebenarnya lebih memalukan untuk menutupi malunya. Menutup malu dengan tindakan memalukan ini bisa jadi malah akhirnya si Fulan menjadi tak tahu malu. Sehingga orang yang gregetan terhadap orang yang tak tahu malu terpaksa ingin malu (memalu/memukul dengan palu) kepalanya.

Mari membangun rasa malu yang proposional dalam rutinan Sanggar Kedirian pada

hari: Jumat malam Sabtu Legi
tanggal: 1 Desember 2017
pukul: 20.00 WIB
lokasi: Musholla GNI Kota Kediri

dengan pemandu pagar keilmuan Ust. DR. Bustanul Arifin MM. dan Kanjeng Kustik sebagai pengiring nyanyian dan sholawatan.

Continue reading Malu

Ngejur Ati, Perbaiki Keburukan

Reportase Sanggar Kedirian 27 Oktober 2017

Hari Jumat, malam Sabtu Legi, 27 Oktober 2017. Atas dasar cinta dan semangat paseduluran, rutinan Sanggar Kedirian (SK) dilaksanakan kembali. Berbeda dengan rutinan biasanya yang berlokasi di emperan Gedung Nasional Indonesia (GNI), malam ini Sanggar Kedirian mengambil tempat di emperan musholla GNI. Karpet-karpet yang digelar merupakan wujud me-nyumangga-kan siapa saja yang hendak duduk bareng, sinau bareng, menyambung dengkul. Seperti biasa, acara diawali dengan pembacaan Alquran sebagai pambuka sekaligus bahan tadabbur seluruh jamaah. Kang Lingga, yang kebetulan dipasrahi memandu acara malam ini, memaparkan tema “Ngruwat Karep”. Sejenak kemudian, Kang Lingga menyerahkan mik kepada salah satu penggiat SK, Mbah Gatot, yang lebih akrab disapa “Kang Gareng”.

Karep; kabeh menungsa nduwe karep,” ungkap Mbah Gatot mengawali. “Masalahnya, bagaimana kita bisa menyelaraskan, mengatasi karep tersebut. Semisal begini; ada seorang pengusaha ingin memarkir mobil. Ternyata, si tukang parkir adalah kanca SMP-nya. Karep yang punya mobil ya bayar parkir. Tapi, karep si tukang parkir -karena kanca dhewe– ya tidak usah. Atau sebaliknya, karep yang punya mobil tidak usah bayar. Karep si tukang parkir -karena kanca dhewe- ya mbok nilai parkirnya ditambahi. Nah, di sinilah sebenarnya bagaimana (penentuan) sikap kita dalam mengolah dan meng-ruwat karep tersebut.”

Secara serius, jamaah diajak menerawang dan terjun pada pikiran masalah yang sedang dikaji. Melihat banyaknya jamaah yang baru merapat di SK, Mbah Gatot spontan memaparkan bahwa di Sanggar Kedirian tidak ada guru dan tidak ada murid. Semua sinau bareng. Sebelum seluruh jamaah dipersilakan merespon Mbah Gatot, lagu “Hasbunallah” dari Kanjeng Kustik menjadi penyejuk dan penyeimbang suasana. Petikan senar, getaran seruling, rentetan not orgen, dan gesekan biola ikut serta memadukan cinta menjadi kesatuan nada.

“Tujuan dan karep ini sama apa tidak, ya?” Cak Har menyambung diskusi, memberikan rangsangan terkait karep, supaya arah keinginan, angan-angan, dst. bisa jelas nantinya.

Mik diserahkan kepada siapapun yang hendak urun rembuk, sekaligus memperkenalkan diri bagi dulur yang baru saja hadir. Bang Wahyu (Gundul, pen.) menyumbangkan suaranya, “Tujuan dan cita-cita ya sama. Jadi, tujuannya ke sana, arah cita-citanya ya ke sana; wis podo ae. Kalau ditanya cita-cita, saya ingin jadi TNI, meskipun gagal. Karep saya juga ke sana.”

Cak Adnan, yang baru saja hadir, mengejar Bang Wahyu, “Kira-kira yang membuat gagal itu (faktor) dari dalam diri atau dari luar?”

“Nah iku; saya dulu kurang dhuwur, Rek. Masiya ora dadi TNItapi nek jaket ae nduwe.

Jawaban Bang Wahyu sontak disambut tawa para jamaah. Keceriaan yang tidak dibuat-buat semacam ini menambah kehangatan dalam ber-sedulur. Sebagaimana gojlokan dan poyokan yang bertebaran di sepanjang diskusi, celetukan-celetukan ringan menimbulkan gelak tawa spontan yang memeriahkan suasana.

Dhe Budi, (akrab disapa Makde Giren) memaparkan tentang ruwat, “Dadi ruwat itu ngapiki sing elek. Nek enek apa-apa ala, yuk digoleki apike. Jadi, selalu timbulkan sugesti positif.”

Secara bergantian, jamaah diserahi mik untuk memperkenalkan diri. Hal yang menarik saat diserahi mik adalah banyaknya jamaah yang mengenalkan diri sekaligus ikut urun rembug. Misalnya ada yang berpendapat, tujuan itu apa yang hendak ditempuh; jalan untuk mencapai tujuan itulah karep. Tujuan menjadi manusia adalah mati. Nah, bagaimana karep bisa menjadi bekal mati? Sungguh-sungguh atau tidak? Ada juga yang merespon Mbah Gatot mengenai guru. Guru tidak hanya di sekolah dan di kampus. Jadi, guru itu berguru pada siapa saja dan apa saja. Berguru pada alam, misalnya jika ada gempa bumi, kita bisa mempelajari kejadian tersebut.

“Manusia tujuannya mati. Nah, tujuan atau cita-cita tidak akan hadir kalau tidak ada karep.” kata Gus Faizin yang kebetulan hadir, membenarkan pendapat jamaah sebelumnya mengenai tujuan dan karep.

Malam ini, beberapa jamaah yang hadir, meskipun berdomisili di Kediri, sebenarnya berasal dari kota lain. Seperti Didin dari Blitar, keponakan Yai Muzzammil dari Sumenep, dan Latif dari Tuban. Usai sesi perkenalan diri, mik kembali diserahkan ke depan. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, Cak Adnan menjelaskan, “SK sengaja mengambil tema dari kejadian sehari-hari yang nantinya bisa memberikan sumbangsih untuk selanjutnya. Kalau bicara kejadian publik, data kita kurang. Lagipula, kalau urusan sekitar beres, pada akhirnya yang lain kok saya kira katut.”

Pukul 22.45, Kanjeng Kustik meng-cover lagu Iwan Fals “Seperti Matahari”; disusul dengan puisi Cak Har tentang ngruwat karep. Jamaah mendapatkan kesempatan rengeng-rengeng sejenak, sebelum kemudian melanjutkan diskusi lagi.

Beberapa jamaah menyadari memang sulit jika menuruti karepe dhewe. Salah satu cara sederhana adalah ngalah. Namun, sampai batas mana ngalah tersebut? Kang Andri mencoba menjawab, “Ngalah itu sama dengan ngejur atine dhewe. Memang agak berani kalau kita mengambil jalan ngalah. Di sana ada perang antar kepala dan hati, hingga nanti siapa yang mampu menang.”

Sementara itu, Kang Toma merumuskan definisi tema, “Ngruwatngrumangsani nek gawat. Karep, mekare nek ngarep. Nah, untuk menangani karep, saya tertarik dengan tulisan di belakang kaos Mas Andri: ‘Muhammad adalah energi’. Ini upaya kita untuk terus menyinergikan kekuatan.

Diskusi semakin gayeng saat tiba-tiba gerimis hadir di tengah-tengah acara. Kehangatan justru semakin bertambah karena kondisi tersebut; tubuh harus didekatkan, direkatkan, menuju emper musholla. Satu per satu karpet dilipat, tetapi acara tetap dilanjutkan.

Kang Mas Ibrahim memberikan argumen mengenai cita-cita dan karep. Cita-cita itu tujuan jangka panjang, karep itu perjuangan, berjuang untuk selalu karep mewujudkan cita-cita. Berjalannya detik tidak bisa dihindari, berputarnya jam dinding tak mungkin bisa dielak. Maka, seluruh jamaah ditodong untuk membawa satu-dua bungkus hasil diskusi malam ini.

Sebagai rasa syukur atas segala keadaan, lagu “Syukur” menjadi akhir suguhan Kanjeng Kustik. Disertai kesungguhan hati, para jamaah menutup rutinan Sanggar Kedirian dengan Mahallul Qiyam yang dipimpin Gus Faizin.

Continue reading Ngejur Ati, Perbaiki Keburukan

Ngruwat Karep

 Pambuko Sanggar Kedirian 27 Oktober 2017

“Yowislah sak karepmu”. “Yo karepku to!” “Sak karepmu kono.”

Kalimat diatas adalah ungkapan yang sering kali kita dengar dan ucapkan. Berusaha dari hal jelek ke hal baik dinamakan ngruwat. Merubah amburadul menjadi cantik adalah ngruwat. Merawat dan menjaga amanah adalah ngruwat. Berusaha berfikir keras, bekerja keras, berkreativitas dan ulet adalah ngruwat. Bergantung kepada tuhan atas segala hal yang diusahakan dan dikerjakan menuju kebaikan adalah ngruwat.

Sementara karep ialah keinginan, karep juga bermakna harapan. Sebaik-baiknya keinginan dan harapan ialah keinginan Tuhan. Menjaga dan menjalankan keinginan Tuhan, pastilah sang penjaga dan pejalan keinginan itu akan dijamin atas Tuhannya.

Akan tetapi jangan lupa, sebuah karep bisa muncul dengan menggantungkan harapannya kepada orang lain. Entah itu sahabat, teman bahkan saudaranya, sehingga pencapaian sebuah karep tadi akan terpenuhi bilamana orang lain tersebut menuruti sebuah harapan yang dikarepkan, sedangkan andai kata pihak lain tadi tidak bisa memenuhi apa yang diharapkan maka disitu akan muncul sebuah kekecewaan. Di sinilah letak bahasan untuk kita wedar, bertukar pikiran, berpendapat dalam menyikapi serta mengkaji hal yang mungkin bisa terjadi kepada siapa saja termasuk diri kita masing-masing.

Mari melingkar bersama dan ngruwat karep dalam rutinan Sanggar Kedirian, pada

hari: Jumat Kliwon malam Sabtu Legi, 27 Oktober 2017
lokasi : Musholla GNI kota Kediri
pukul : 20.00-24.00 WIB
pemandu Keilmuan: Ust. DR. Bustanul Arifin
penyegar : Kanjeng Kustik

Continue reading Ngruwat Karep

“0” (Nol) – Keseimbangan Pandangan

Pambuko Sanggar Kedirian 22 September 2017 

Rutinan bulan kali ini bertepatan dengan hari dimana Kedirian melahirkan tunas-tunas baru, tunas baru yang diharapkan lebih bertanggung jawab, lebih murni, lebih progresif, lebih tangguh, dan lebih bisa diandalkan untuk memimpin dan dipimpin.

Sejak dilahirkan Kedirian awal tahun 2010-an, memang diniatkan sebagai ruang bagi kalangan siapapun untuk sinau bareng menumbuhkan kesadaran atas diri kita sendiri, mengenali diri kita sendiri. Sehingga demi keberlangsungan itu tetap terjaga sekaligus untuk menumbuhkan harapan masa depan, maka tunas baru itu bernama Sanggar Kedirian, yang lahir setahun lalu. Belajar dari masa lalu untuk menempuh masa depan adalah bagian dari proses perjalanan diri mengenal diri, baik dalam konteks pribadi maupun komunitas. Peringatan satu tahun Sanggar Kedirian ini harapannya hanya satu “ridho Alloh”.

Berangkat dari bulan sebelumnya yang mengangkat tema “Maos, Ngaos, Looss”, adalah sebuah tekad dan sikap untuk membaca, menganalisa, mentadabburi setiap apapun semampu-mampunya, sampai mencapai titik temu hakikatnya, dan akan semakin medekatkan kita pada Allah. Pada rutinan kali ini Sanggar Kedirian mengangkat tema “0” (NOL) yang mana merupakan keberlanjutan dari tema bulan lalu. “0” (NOL) dalam bilangan, akan banyak kita temukan filosofi atau makna analogi kehidupan manusia. Namun nilai primer dalam tema ini lebih mengajak kita untuk berlatih menjaga kesadaran keseimbangan, bukan hanya keseimbangan berpikir, melainkan juga keseimbangan berperilaku, keseimbangan informasi bahkan mampu menyeimbangkan kekhusyukan di tengah kegembiraan.

Sedulur, monggo bareng-bareng ngonceki tema “Nol” ini. Piye sakjane “Nol” kuwi? Mari melingkar bersama menemukan titik keseimbangan pada “Nol”.


Continue reading “0” (Nol) – Keseimbangan Pandangan