Njawani Jowo

Pambuko Sanggar Kedirian 29 Juni 2018


Konon situasi tata kehidupan orang Jawa sebelum datangnya agama Hindu, Budha dan Islam, sudah pada tingkat numinous, dimana orang Jawa dengan roso yang dirasakan sudah meyakini adanya Yang Maha Kuasa (Gusti Kang Murbeng Dumadi) yang lebih besar dan tinggi yang tidak bisa dijangkau dan dikuasai manusia. Sehingga dengan kemampuan penghayatan falsafah hidup yang lahir pada waktu itu, Jawa sudah mempunyai konsep tatanan kehidupan. Jawa sudah memiliki budaya dalam berbagai bidang mulai pertanian, perniagaan, kesenian, sosial, politik, arsitektur, dan banyak bidang lainnya. Juga nilai-nilai hidup saling mencintai, menyayangi, saling menghormati antar sesama makhluk hidup. Jawa mengajarkan bagaimana menghormati yang tua, baik secara lisan bahasa maupun perilaku. 


Dalam catatan sejarah, mengapa Islam yang dibawa oleh para pedagang lebih dari 800 tahun tidak mengalami perkembangan di tanah Jawa? Namun justru mengalami perkembangan pesat setelah kemudian Islam dibawa oleh Walisongo? Hanya butuh 40 tahun Islam sudah sangat pesat di tanah Jawa. Adakah penyelarasan nilai-nilai ajaran Islam yang dibawa Walisongo dengan kebudayaan Jawa? Lantas kenapa yang berkembang saat ini justru Budaya Jawa dianggap bertentangan dengan ajaran Islam? Lalu hikmah apa Allah menciptakan kita untuk menjadi orang Jawa?

Bukankah nilai-nilai Jawa yang mengajarkan kita bagaimana bermasyarakat yang njowo (mengerti, paham dan tahu) namun seiring perkembangan jaman mengalami degradasi oleh orang-orang Jawa sendiri. Sehingga orang Jawa kehilangan katakternya sebagai orang jowo yang njowo, kehilangan kejawanannya. Banyak orang Jawa ora njowoakeh wong jowo ora njowoni. Bukankah kebangkitan karakter bangsa dimulai dari manusianya? Dan bagaimana kebangkitan karakter manusia akan terjadi jika manusia tidak tahu siapa dirinya?

Sanggar Kedirian dalam forum sinau bareng mencoba menggali dan memahami kembali khasanah Jawa sebagai pembelajaran mengenai Jawa. Mengajak bersama-sama Njawani Jowo yang bertepatan dengan momentum halal bi halal pada 29 Juni 2018, Jumat malam Sabtu Legi di GNI Kota Kediri, pukul 20.00 WIB.

Insyaallah Ustadz Bustanul Arifin sebagai pagar keilmuan akan Istiqomah membersamai diskusi santai kita. Semoga KAnjengKUStik sehat selalu dan bisa menyegarkan suasana kajian diskusi Sanggar Kedirian. Group sholawat Habsy Khidmatul Khuluq SMKN 1 Ngasem bersama Group Sholawat Nurrohmah Dander Kota Kediri insyaallah memberikan kemesraan dalam suasana halal bi halal.

Bismillahirrahmanirrahim.

0 komentar:

Posting Komentar