Tumpeng - Tumuju maring Pengeran

 Pambuka Rutinan Sanggar Kedirian 18 Februari 2022

Kabeh manungso lahir procot kanti wuda, ora gawa apa-apa. Sak ler benang wae ora gawa, opo maneh emas pices rojo brono. Artine kabeh manungso asline ora duwe opo-opo, kabeh samu barang ono dunyo kagungane Gusti Allah.


Sekabehane wes dicumepaki Gusti Allah, manungso kari ngolah kanggo nyukupi kebutuhane. Ngolahe manungso ono lewat tani, dagang, guru, seniman, pejabat, presiden termasuk lewat upoyo jasa makelaran, lan liyo liyo.


Amergo kabeh mau asale kagungane allah, manungso kari ngolah manfaatne, mongko sejatine kabeh mau titapane Allah. Dadi wajar yen sakwajibe manungo mbaleke titipan mau marang Gusti Allah. Ukoro liyo, kabeh ditumujuake maring pengeran.


"Tumuju maring Pengeran" diringkes dadi "Tumpeng".


Monggo sedulur kabeh urun rembug babagan Tumpeng, mulai kahanan cilik sing biasa awake dewe lakoni. Monggo sami rawuh ing rutinan Sanggar Kedirian 18 Februari 2022, Jumat Malam Sabtu Legi. Manggon ing Kampus Tribakti, wiwit bakdo isyak ngati sak rampunge.


Continue reading Tumpeng - Tumuju maring Pengeran

Ikhlas Pasrah

Pambuka Rutinan Sanggar Kedirian 14 Januari 2022


Manungsa urip ora luput saka coba lan musibah. Ora sugih ora mlarat, ora ayu ora elek, ora cilik ora gedhe, ora rakyat ora pejabat, kabeh mesti tau ngalami.

Sehat iku coba, sakit ya coba. Sugih coba, mlarat ya coba. Nukil sithik saking dawuhe para sesepuh, ikhlas lan pasrah bisa dadi kunci ngudar njawab saka coba lan ujian Gusti Pengeran.

Mangga sedulur Sanggar Kedirian sami rawuh ing rutinan Sanggar Kedirian kanti tema "Ikhlas Pasrah" ing Jemuah malem Setu Legi, 14 Januari 2022. Manggon ing Kampus Tribakti Kota Kediri, mburi gedung pasca sarjana. Wekdal bakdo Isya' dumugi bibar.

Bismillah...

Continue reading Ikhlas Pasrah

Mahameru

Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 10 Desember 2021

Tema ini lahir sebagai respon atas beredarnya video erupsi Gunung Semeru yang viral beberapa hari lalu. Banyak dari kita yang tidak percaya dan bertanya mengapa sebelumnya tidak ada pemberitahuan dari BMKG? Apakah alat pendeteksi erupsinya benar-benar rusak atau murni keteledoran pihak BMKG? 

Sebenarnya pertanyaan seperti itu tidak penting-penting amat. Sebab mau dijawab selogis dan seilmiah mungkin, kita yang jauh dari lokasi kejadian tidak akan pernah tahu kebenarannya. Justru yang seharusnya kita ketahui ialah bagaimana membaca pertanda alam supaya kejadian seperti kemarin bisa diminimalisir dampaknya.

Soal membaca pertanda alam seperti itu, kita yang mengaku sebagai manusia modern paling beradab jelas tidak bisa dibandingkan dengan manusia kuno macam mbah-mbahane dewe. Hanya dengan niteni gelagat hewan-hewan yang mulai resah, suaranya saling bersahutan tak karuan, hingga secara berduyun-duyun turun gunung, mereka tahu bahwa keadaan sedang tidak baik-baik saja. 

Itu hanya sebagian kecil contoh membaca pertanda alam. Bagi yang tahu tanda-tanda lainnya bisa di-share agar menjadi bahan rembukan bersama. Atau barangkali ada yang mempunyai sudut pandang penghakiman ala-ala Islam Kaffah yang selalu mengaitkan gejala alam dengan murka Tuhan, silakan. Justru semakin menambah keluasan cakrawala pandang kita yang selama ini hanya mengenal Rahman-Rahim namun kurang familiar dengan Jabbar-Mutakabbir, Hasib dan Muntaqim. 

Juga jangan lupakan bahwa nama lain Semeru ialah Mahameru. Maha adalah ungkapan untuk menggambarkan ketakterhinggaan, keagungan. Sementara meru ialah tempat suci persemayaman dewa. Secara harfiah bisa diartikan sebagai pusat keagungan nan suci. Jangan-jangan erupsi kemarin yang mengagetkan itu tanpa disadari adalah karena ulah kita sendiri yang sudah mengotori salah satu tempat suci milik-Nya? Monggo dirembuk sareng-sareng dalam rutinan Sanggar Kedirian kali ini.

Continue reading Mahameru

SAWO (Sawwu Shufufakum)

Pambuko rutinan Sanggar Kedirian 5 November 2021

Belajar berjamaah, meneguhkan niat, memperbaiki segala kekurangan diri lalu merapatkan barisan membentuk barikade pasukan segelar sepapan. Mau pilih formasi yang mana? Supit urang, Garuda Nglayang, Wukir Jaladari atau Cakra Byuha? Monggo kerso, bebas dan terukur.


Disisi lain, hampir mirip seperti Pohon Sawo yang ditanam oleh para pengikut Pangeran Diponegoro dulu dengan nilai falsafah dan simbolisme yang tinggi, Ijasah Ikhlakul A'da' dari Mbah Nun untuk jamaah Maiyah juga sebuah simbolisme layaknya gaman-pusaka doa sebagai momentum awal penggemblengan diri, mematangkan karakter untuk menjadi individu yang lebih tangguh. Karena tidak ada musuh yang lebih dulu kita taklukan selain hawa nafsu kita. Selesai dengan diri kita sendiri.



Dalam sebuah riwayat Kanjeng Nabi nate dawuh: "Jihad paling utama adalah jihad melawan hawa nafsu diri sendiri."


Semangat untuk selalu memperbaiki diri ini yang nantinya diharapkan mampu membentuk landasan kesadaran "positioning", pondasi kesadaran "berani menjadi" dan sebagai "entry point" perjumpaan-perjumpaan dengan nilai-nilai kesadaran lain yang tentunya sesuai dengan "lelaku" masing-masing Jamaah Maiyah.


Jadi mari bersama-sama berbenah diri sebelum seruan “Sawwu Shufufakum" tiba. Sehingga nantinya dengan suara lantang dan tanpa rasa gamang kita siap menyambutnya: "Sami'na wa ato'na".


Continue reading SAWO (Sawwu Shufufakum)

Blokosutho in Love

Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 1 Oktober 2021

Pada Sanggar Kedirian edisi sebelumnya kita sudah sinau bareng tentang al-Qur'an, kesabaran dan keselarasan hati. Masing-masing dimensi tema itu memiliki ruang dan waktunya sendiri, memiliki pemahaman detail dan presisi yang tepat untuk diletakkan pada kalimat yang juga tepat.

Dalam perjalanan diri ini, kita bersama mencoba menyelami makna blokosutho. Apa sebenarnya maksud dari kata “blokosutho” atau “apa adanya” ini. Ada yang memiliki pendapat bahwa blokosutho adalah kejujuran sikap antara perkataan dan perbuatan. Ada juga yang memiliki pendapat bahwa blokosutho adalah menyampaikan informasi secara blak-blakan sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Jika A maka sampaikanlah A, jika B maka sampaikanlah B. Orang Islam sudah tidak asing lagi mendengar ungkapan "qulil haqqo walau kaana murron", katakanlah yang benar (jujur) meskipun itu pahit. Namun dalam hal ini jika kita linear cara berpikirnya bisa jadi yang terjadi adalah ketidakharmonisan. Lantas bagaimanakah yang mesti diterapkan? 

Kurang lebih dua tahun kita merasakan apa yang oleh seluruh penduduk bumi alami. Bercermin pada kebijakan pemerintah hampir seluruh regulasi yang pemerintah atur sepertinya belum menunjukkan adanya kesatuan pendapat, manajemen, dan langkah dalam menghadapi perkembangan situasi pandemi ini. Apakah kurang blokosutho informasi ataukah ada hal lain?

Jika dirasakan lebih dalam, apa-apa yang berlangsung di Sanggar Kedirian bisa dipandang sebagai proses transendensi perjalanan diri. Perjalanan bukan dalam arti menjauhkan diri dari dunia menuju ke akhirat, melainkan perjalanan dalam arti "mblokosutho” diri kepada kekuatan di luar diri kita yang menguasai hidup kita, yaitu Allah Swt. Suatu sikap yang berbanding terbalik dengan sikap menutup diri, entah karena kesempitan ilmu, prasangka buruk, dan sikap negatif lainnya.

Sebagai penanda, penerapan blokosutho sangat cetho dalam praktik majelis ilmu di Sanggar Kedirian. Sinau Bareng di Sanggar Kedirian tidak dapat dikatakan semata-mata sebagai pengajian dalam pengertian sempit, sebagaimana misal menempatkan satu figur sebagai titik pusat, sementara audiens lain sebatas pendengar-pasif. Justru di Sanggar Kedirian hubungan antara pembicara dan pendengar berpola dialogis, yakni tiap orang menjadi subjek-aktif silih berganti untuk sama-sama tumbuh dan belajar secara bersama. Selain itu, bukti keterbukaan forum Sanggar Kedirian adalah siap menerima respon dari mana saja.

Blokosutho in Love, itulah tema yang diangkat pada Sanggar Kedirian edisi Safar 1443 H. Apa maksudnya? Apa tujuan tema itu diangkat? Memang paradoks, blokosutho kok dijadikan tema? Tapi orang Maiyah tidak rumit dalam membaca tema. Orang Maiyah tidak pernah merasa rugi. Banyak hal yang didapatnya. Anggap saja tema hanya pijakan awal. Maiyah menawarkan banyak khasanah ilmu yang bisa dibawa pulang sebagai bekal.

Continue reading Blokosutho in Love

Sendhen Qur'an

Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 27 Agustus 2021

Sendhen, bersandar, padanan katanya dalam bahasa arab ialah sanad, yang juga bisa diartikan sandaran. Kegiatan bersandar biasanya dilakukan saat kita merasa lelah, tak berdaya. Namun ketidakberdayaan akibat pandemi ini justru semakin membuat kita jauh dari al-Quran. 

Buktinya, coba tanyakan pada diri anda masing-masing. Jika merasa jauh berarti benar dugaan saya. Namun jika merasa dekat, jangan-jangan anda sedang terkena salah satu penyakit hati yaitu 'ujub, membanggakan diri sendiri.

Imam al-Ghazali menyebut 'ujub sebagai penyakit kronis. Kepada dirinya sendiri, pengidap penyakit ini merasa mulia dan dan besar diri, sementara kepada orang lain ada kecenderungan untuk meremehkan dan merendahkan.Untuk mengobati penyakit hati macam 'ujub itu, orang Jawa zaman dahulu membuat ramuan khusus yang dikumpulkan dalam syi'iran Tombo Ati.

"Tombo ati iku ana limang perkara" "Kaping pisan moco qur'an sak maknane" "Kaping pindo sholat wengi lakonono" "Kaping telu wongkang sholeh kumpulono"

"Kaping papat weteng siro kudu luwe" "Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe" "Salah sawijine sopo biso ngelakoni" "Insya Allah Gusti Pengeran ngijabahi"

Nah, pertanyaannya, mengapa obat penyakit hati yang pertama bukan sholat malam atau berkumpul dengan sholihin atau dzikir bermunajat atau menahan lapar namun justru moco qur'an sak maknane? Apakah itu hanya sekedar urut-urutan untuk menyeimbangkan rima atau ada hierarki pemaknaan di dalamnya? 

Di tengah situasi yang tidak pasti, beredar banyak informasi yang tidak jelas antara  kebenarannya dan kesalahannya. Maka manusia perlu rujukan informasi yang dipastikan kebenarannya. Apakah itu?

Mungkin itu bisa menjadi pemantik awal diskusi rutinan ini. Monggo hadir dalam rutinan Sanggar Kedirian, pada Jumat malam Sabtu Legi 27 Agustus 2021 di Kampus Tribakti Kota Kediri, mulai pukul 20.30 WIB.

Continue reading Sendhen Qur'an

Gak Bar-Bar..!!, Sabaaar..?!

Pambuko rutinan Sanggar Kedirian 23 Juli 2021


Berduyun-duyun sejumlah orang, belasan, puluhan namun belum pernah hingga berjumlah hingga ratusan orang duduk melingkar sambil ngopi, tertawa, bergembira. Ada pula yang sambil ngudud namun akan dimatikan batangnya ketika saatnya sholawatan dan wiridan. Semua hanyut dalam kekhusyukan kerinduan. Itulah gambaran suasana Sinau Bareng di Sanggar Kedirian, salah satu Majelis Maiyah yang telah diselenggarakan hampir satu dekade.


Berawal dari segelintir orang, kemudian belasan hingga kini mencapai puluhan. Di setiap malam Sabtu Legi bersama duduk melingkar, bertukar pikiran, berbagi pengetahuan membunuh kesombongan ego intelektual, tak ada yang merasa lebih tahu, tak ada yang dianggap paling dungu, semua berproses mencari kebenaran di dalam kesabaran, bukannya saling tuding menyesat-sesatkan pandangan.


Tak mudah menjaga keberlangsungan forum Sinau Bareng ini. Keswadayaan bersama membangun kesadaran organisme yang terus menerus meniti kesabaran untuk tidak tergoda memadatkan dirinya menjadi suatu identitas komunal tertentu, apakah itu organisasi massa (ormas), perkumpulan, yayasan, perguruan, atau bentukan-bentukan lain. Di sini tampak bahwa kesabaran yang ditempuh Maiyah tidak berarti kelambanan atau stagnasi dalam geraknya, bahkan di dalamnya secara personal berlangsung pusaran yang terus menerus nggiser. Namun demikian, sejak adanya pandemi Covid-19-yang sudah berlangsung kurang lebih 16 bulan hingga entah sampai kapan hal ini akan berlangsung-terjadi dampak kepada pola kehidupan kita bahkan juga mungkin pada pendapatan kita dan banyak hal lain yang mungkin kita mengalami apa yang disebut sebagai kekacauan batin dan pikiran. Baik dari kebijakan pejabatnya, kebenaran informasinya, kepentingan pribadi-pribadi manusianya dan segala macam hal yang terkesan tidak becus dan serius pengelolaannya. 


Dari kerangka itulah bagaimana kita saling menguatkan batin agar tidak terlibat dalam kekacauan ini? Meskipun dalam keadaan yang seperti ini, adakah kita menemukan jawaban terhadap taddaburan kita selama ini?


Mbah Nun pernah menyinggung idiom ”La'ibun wa lahwun" dalam Surat al-An'am ayat 32, “Wa mal hayatud dunya illa la'ibun wa lahwun, walad darul akhiratu khairul lillazdiina yattaquun, afalaa ta'qiluun.” Artinya: ”Dan setiap kehidupan yang ada di dunia ini tiada lain kecuali permainan dan senda gurau, dan sungguh akhirat adalah tempat yang terbaik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” Pendek kata, Mbah Nun mengingatkan bahwa jauh-jauh hari Gusti Allah sudah memperingatkan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah permainan, tinggal kita mampu untuk memahaminya atau tidak. Memangnya kalau sudah paham lantas mau bagaimana? Nah itulah salah satu pertanyaannya. Barangkali bisa dijadikan sebagai bahan pemantik diskusi rutinan Sanggar Kedirian malam ini. Monggo...


Continue reading Gak Bar-Bar..!!, Sabaaar..?!

Tirakat Milad Sanggar Kedirian

21 Agustus 2019

Redaksi

Di antara macam-macam jenis ibadah kepada Allah, selain yang diperintah melalui Nabi dan Rosul yang disebut ibadah Mahdhoh ada pula ibadah kepada Allah yang juga bisa kita inisiatifi sendiri. Dimana manusia mendapatkan kesempatan untuk menciptakan cara dan konteksnya melalui ibadah Muamalah. “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56), sehingga semua apapun yang dilakukan manusia seharusnya diniatkan hanya untuk beribadah kepada Allah. Salah satunya adalah jenis puasa, yang bisa kita hikmahi untuk memperkaya batin kita di luar ibadah puasa Mahdhoh yang diperintahkan. Kita inisiatifi dari nurani atau dari kesadaran batin, baik untuk pendalaman, pengolahan dan pendadaran batin beserta harapan pertolongan-pertolongan dari Allah. Sehingga utamanya dalam berpuasa ini adalah kemampuan kita dalam kesadaran menemukan batasan-batasan tertentu dalam berbagai bidang. Dan pembatasan itulah hakikat puasa, minimal dengan berpuasa kita tidak jadi melakukan suatu kemaksiatan. Jadi di samping kita melakukan puasa sebagai bentuk kepatuhan kepada perintah Allah SWT, juga alangkah indahnya kalau kita juga mencari bentuk-bentuk puasa dari berbagai macam jenis, yang munculnya tidak karena Allah menyuruh, tetapi karena kita memiliki kesadaran bahwa kita harus melakukan pembatasan-pembatasan dan itulah puasa di dalam inisiatif kita sendiri.

Dalam rangka memperingati milad Sanggar Kedirian ke-7 ini, bersama kita menginisiatifi untuk melakukan puasa pada hari jumat tanggal 23 Agustus 2019. Dan kita melakukan buka puasa bersama di Hutan Joyoboyo sekaligus tumpengan sebagai wujud syukur kita.

Redaksi Sanggar Kedirian

Continue reading Tirakat Milad Sanggar Kedirian

Memenjarakan Diri Sendiri

7 Oktober 2019

Gatot SP

Terkadang kita sering memenjarakan diri sendiri dengan menyempitkan makna sebuah kata. Mrongos, misalnya, kita memaknainya sebagai seseorang yang diberi kelebihan gigi dibandingkan orang pada umumnya. Dan orang yang kita anggap mrongos akan tersinggung jika kita menyebutnya seperti itu karena menganggap mrongos itu jelek.

Pertanyaannya, siapa yang menyatakan kalau mrongos itu jelek? Darimanakah stereotip tersebut berasal? Apakah dari lingkungan sekitar atau dari diri kita sendiri? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang patut kita simulasikan sebelum terlalu jauh menuduh Tuhan telah menciptakan sesuatu yang jelek.

Maka mari kita lapangkan dada, meluaskan cakarawala pikiran, dan jangan terburu-buru menyikapi sesuatu yang mungkin belum kita ketahui duduk perkaranya.

Continue reading Memenjarakan Diri Sendiri

Jangan Sempit!

10 November 2019

Gatot SP

Terkadang kita sering memenjarakan diri sendiri dengan kesempitan dalam pemaknaan sebuah kata yang disepakati antara manusia satu dengan manusia yang lainnya.

Semisal dicontohkan manakala seseorang yang kebetulan diberi kelebihan gigi daripada umumnya (mrongos). Manakala dia dibilang mrongos dia akan marah. Karena mrongos dianggapnya jelek.

Siapa bilang kalau mrongos itu jelek?

Pemikiran kita sendiri yang menganggap bahwa mrongos itu jelek. Ditambah perasaan yang seakan mengiyakan bahwa mrongos tersebut jelek.

Dan tanpa sadar kita menuduh Tuhan yang membuatnya jelek.

Maka mari kita lapangan dada, jangan sempit dalam berfikir dan menyikapi sesuatu yang mngkin kita tidak tahu apa maksud dibalik itu, karena kita punya batasan.

Continue reading Jangan Sempit!

Maiyah Antar Faham

29 Juli 2019


عَنِ إبْنِ عَباس رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ. (رواه النسائي و ابن ماجه والبيهقي وغيرهم)

Artinya : Dari Ibnu Abbas rodhiallohu ‘anhuma berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Jauhkan diri kalian dari berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama. Sesungguhnya berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”_ (HR. An-Nasa’i 5/268, Ibnu Majah no.3029, Al-Baihaqi, At-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah)

Pelajaran:

  1. Yang dimaksud “Ghuluw” dalam hadits ialah berlib dalam melaksanakan agama sampai melampaui batas.
  2. Nabi ﷺ memperingatkan ummatnya dari sikap ghuluw dan mengatakan dengan jelas bahwa itu adalah sebab kehancuran dan kebinasaan, karena menyelesihi syari’at dan menjadi penyebab kebinasaan ummat-ummat terdahulu.
  3. Bahkan ghuluw menyebabkan manusia bisa menjadi kafir dan meninggalkan agama mereka.
  4. Di antara bentuk ghuluw, yaitu sikap ghuluw terhadap orang-orang shalih dengan mengagungkan mereka, membangun kubur-kubur mereka, membuat patung-patung yang menyerupai mereka, bahkan sampai akhirnya mereka disembah.

Ayat Al-Qur’an

Penyakit pertama yang paling besar yang terjadi pada kaum Nûh Alaihissallam , sebagaimana Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan tentang mereka;

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا ۞ وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا ۞ وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا ۞ وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا ۖ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا

“Nuh berkata, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.” Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaguts, Ya‘uq dan Nasr. Dan sungguh, mereka telah menyesatkan orang banyak; dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.” [QS. Nûh/71: 21-24]

والله اعلم بالصواب…

Semoga kita selalu mendapatkan ilmu manfaat dan dimudahkan beramal sholeh. Hanya Allah-lah yang memberi taufik dan hidayah…

Continue reading Maiyah Antar Faham

Mangiyah, Menyatukan Alam Dan Waktu

29 Juli 2019

Waktu sangatlah berharga. Begitu berharganya waktu, menyia-nyiakannya adalah bentuk puncak kerugian, bahkan lebih berbahaya dari kematian.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها

“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya”. [Al-Fawaid hal 44]

Kita sadari bahwa Mayoritas manusia banyak lalai dan menyia-nyiakan waktu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari no. 6412)

Waktu memang sangat berharga dan harus dipergunakan dengan sebaik mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat agar kita selamat dunia akhirat.

Semoga Bermanfaat.

Continue reading Mangiyah, Menyatukan Alam Dan Waktu

Barok-ah Kopi-kiran

5 Mei 2020

Review Tema Rutinan Sanggar Kedirian 13 Juli 2017

Teman-teman Sanggar Kedirian memang sangar, memilih judul seperti di atas. Mencari teman yang tidak tampak untuk diajak berpikir. Kopi dan rokok.

Berkaitan dengan kopi ternyata mengandung keberkahan yang besar di sana. Tentu bagi yang lambungnya bermasalah bersedia merelakan untuk orang lain. Siapkan kopi murni. Jangan kopi jitu, kopine siji jagunge pitu. Guna mencari berkah di dalamnya.

Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Attas menyampaikan bahwa membuat kopi panas dapat mengusir jin dari dalam rumah

وكان الحبيب أبو بكر بن عبد الله العطاس يقول : إن المكان الذي يُترك خالياً يسكنون فيه الجن ، والمكان الذي تفعل به القهوة لا يسكنونه الجن ولا يقربونه.

Bahwasanya al-Habib Abu Bakar bin Abdillah al-Attas berkata, “Sesungguhnya tempat rumah kalau ditinggalkan dalam keadaan sepi/kosong maka para jin akan menempatinya. Sedangkan rumah/suatu tempat yang mana di situ biasa membuat hidangan minuman kopi, maka para jin tidak akan bisa menempatinya dan tidak akan bisa mendekat/mengganggu.”

Sumber Kitab Tadzirunnas, hal. 177. Dalam Tarikh Ibnu Toyyib dikatakan:

يا قهوة تذهب هم الفتى # انت لحاوى العلم نعم المراد

شراب اهل الله فيه الشفا # لطالب الحكمة بين العباد

حرمها الله على جاهل # يقول بحرمتها بالعناد

“Kopi adalah penghilang kesusahan pemuda, senikmat-nikmatnya keinginan bagi engkau yang sedang mencari Ilmu”

“Kopi adalah minuman orang yang dekat kepada Allah, di dalamnya ada kesembuhan bagi pencari hikmah di antara manusia”

“Kopi diharamkan bagi orang bodoh yang mengatakan keharamannya dengan keras kepala”

Komentar al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami:

ثم اعلم ايها القلب المكروب أن هذه القهوه قد جعلها اهل الصفاء مجلبة للأسرار مذهبة للأكدار وقد اختلف في حلها اولا وحاصل ما رجحه ابن حجر في شرح

العباب بعد ان ذكر أنها حدثت في اول قرن العاشر . ان للوسائل حكم المقاصد ،فمهما طبخت للخير كانت منه وبالعكس فافهم الأصل

“Lalu ketahuilah duhai hati yang gelisah bahwa kopi ini telah dijadikan oleh Ahli Shofwah (Orang-Orang yang bersih hatinya) sebagai pengundang akan datangnya cahaya dan rahasia Tuhan, penghapus kesusahan.”

Para ulama berbeda pendapat akan kehalalannya. Namun alhasil yang diunggulkan oleh Ibnu Hajar dalam Kitab Syarhul Ubab setelah penjelasan bahwa asal usul kopi di awal abad kesepuluh hijriyah memandang dari qo’idah “bagi perantara menjadi hukum tujuannya, maka selama kopi ini dimasak untuk kebaikan maka mendapat kebaikannya begitu juga sebaliknya, maka fahami asalnya.”

Suatu ketika as-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw. dalam keadaan terjaga. Ia berkata kepada Nabi Saw., “Wahai Rasulullah, aku ingin mendengar hadits darimu tanpa perantara”. Rasulullah Saw kemudian Bersabda, “Aku akan memberimu tiga hadits yang salah satunya: Selama bau biji kopi ini masih tercium aromanya di mulut seseorang, maka selama itu pula malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untukmu.”

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله واصحا به وسلم

____________________________

*Selama Ramadhan, Rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Continue reading Barok-ah Kopi-kiran

Nanthing Tulus

5 Mei 2020

Review Tema Rutinan Sanggar Kedirian 25 Januari 2019

أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسۡجُدُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلۡأَرۡضِ

Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah?” (Surat al-Hajj: 18)

Di dalam penggalan ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa hanya Dia-lah semata yang berhak disembah, dan tiada sekutu bagi-Nya.

Bersujud kepada-Nya semua makhluk yang ada di langit dan di bumi. Yaitu para malaikat yang berada di seluruh penjuru langit, juga para manusia, jin, hewan, tumbuhan, dan seluruh makhluk lainnya yang ada di bumi.

Pengertian sujud di dalam ayat ini, bila dikaitkan dengan makhluk selain manusia, jin, dan malaikat, berarti tunduk mengikuti hukum atau kodrat yang ditentukan oleh Allah untuk mereka, baik mereka melakukannya secara sukarela maupun terpaksa, dan mereka tidak dapat lepas dari ketentuan tersebut.

Sedangkan sujud bagi manusia, jin, dan malaikat, berarti patuh kepada hukum-hukum Allah, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

____________________________

*Selama Ramadhan, Rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Continue reading Nanthing Tulus

Berguru Kepada Ibrahim

6 Mei 2020

Review Tema Sanggar Kedirian 11 September 2016

Nabi Ibrahin a.s., moyang dari 75.000 diantara 124.000 nabi/rasul yang diutus menuntun umat agar senantiasa berada di jalur yang benar (shiroth al mustaqiem) tidak pernah pasrah mengikuti petunjuk dan perintah Allah. Salah seorang dari Ulul Azmi yang meninggalkan kemewahan di Mesir dan memilih hidup di Palestina, serta tidak menolak ketika diperintah Allah menuju Makkah bersama Nabi Ismail, putra sulung beliau. Hal inilah yang kemudian menjadi penguat bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah seorang Rasul, keturunan beliau.

Nabi yang lahir di negeri Babilon saat pemerintahan Raja Namrud itu adalah keturunan Nabi Nuh a.s. melalui jalur Tarih bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aabir bin Shalih bin Afrakhsyad bin Saam, putera nabi Nuh as. Masa kecil beliau di dalam gua sejak beliau lahir. Maka tatkala dewasa takjub melihat panorama, bintang, bulan, matahari dan ombak-ombak yang perkasa, lebih memberi warna kehidupan dibanding dengan patung-patung yang disembah oleh kaumnya yang dibodohi oleh penguasa, Raja Namrud yang juga mengaku dirinya sebagai tuhan.

Nabi yang bergelar Kholilullah itu meluruskan akidah dengan mendebat sang raja, kenapa tidak menyembah hewan saja yang hidup dari pada patung buatan manusia? Apakah tidak sadar kalau dia tidak mampu membalik arah matahari dari timur ke barat, yang digerakkan oleh Tuhan pemberi hidup manusia dan pencipta seluruh alam? Namrud menjawab bahwa ia pun dapat menghidupkan dan mematikan manusia, halmana disanggah beliau bila itu tidak mematikan tetapi membunuh dengan kejam didasari keserakahan dan ketidakmampuan.

Nabi yang menunjukkan mukjizat tidak mempan dibakar ketika pada akhir perdebatan dimasukkan ke dalam tungku itu, menyadarkan masyarakat sehingga menyembah Allah dan mengajarkan kepada kita bahwa kunci kesuksesan hidup adalah: sabar dan sadar dengan perjalanan hidup, tidak perlu membandingkan materi dan potensi milik kita dengan kepunyaan orang lain, menjadikan pelajaran terhadap apapun yang kita temui dalam kehidupan, dan mengambil sisi positif pada setiap kekurangan yang kita lihat dan rasakan. “Kembali ke Diri”.

____________________________

*Selama Ramadhan, Rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me- _review_ tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.
Continue reading Berguru Kepada Ibrahim

Bermaiyah

9 Mei 2020

Review Tema Sanggar Kedirian 19 Juli 2019

Kata maiyah bila diruntut berasal dari bahasa Arab ma’a, bersama atau menyertai, misal akhir QS. al-Baqarah (2):154, “Innallaha ma’as-shobirin”, Allah bersama/menyertai orang-orang yang sabar, setelah sebelumnya berseru agar menjadikan sabar dan salat sebagai senjata meminta pertolongan. Ma’iyah dapat diartikan sebagai faham kebersamaan. Yaitu segolongan orang yang selalu ingin bersama-sama dengan siapa saja, dan melebur dalam bahasa Indonesia menjadi maiyah.

Ber, kata depan yang menunjukkan kepunyaan. Misal berbudi mempunyai arti orang yang mempunyai budi. Bermaiyah dapat diartikan orang yang mempunyai jiwa kebersamaan. Dalam skala besar adalah sekelompok masyarakat yang mendambakan terpeliharanya rasa persatuan dan kesatuan di negeri tercinta, Indonesia.

Alur bermaiyah dimulai dari pribadi yang memperhatikan anggota tubuh yang berbeda fungsi tetapi saling menolong dan membutuhkan. Jika salah satu terasa sakit yang lain ikut merasakan. Lalu keluarga, penghuni sekitar rumah dan akhirnya dengan orang yang sefaham dari berbagai lingkungan. Berbeda nasib tetapi berkeinginan sama, mewujudkan kebersatuan arah “naluri” dalam kebhinekaan hati memayu hayuning bawana. Merindukan kedamaian di setiap sisi kehidupan tak terbatas.

Ngleluri (ngleluhuri) ajaran leluhur memayu hayuning bawana adalah perintah-sebagaimana dalam al-Qashash: 77-tidak berbuat kerusakan di muka bumi serta berusaha berbuat baik dengan siapa dan apa yang ada di bumi semampu mungkin. Tanpa memayu hayuning bawana tidak mungkin mendapat kedamaian.

Melupakan jasa-Nya tidak akan mungkin mendapat kebahagiaan karena kita terus menikmati jasa baik-Nya. Jasa baiknya menumbuhkan bahan makanan dan minuman menjadikan kita mampu memenuhi hasrat makan dan minum. Dengan makan dan minum kita mampu bertahan hidup hingga terjadi dinamisasi dalam kehidupan.

Bermaiyah tidak harus memaksakan kesamaan akidah (Al-Baqarah: 256) tetapi bermaiyah perlu menyamakan kaidah. Kaidah dalam hidup adalah saling tolong dalam berbenah. Dalam berbenah tidak boleh merasa lelah karena akan menimbulkan keputusasaan. Keputusasaan akan menumbuhkan rasa tidak percaya diri. Tidak percaya diri merupakan awal kehancuran hati. Kehancuran hati akan merubah pola pikir. Perubahan pola pikir menjadikan hilangnya kaidah. Hilangnya kaidah menghilangkan daya dan rasa. Bila daya dan rasa hilang rasa bermaiyah pun terhalang. Akhirnya cita-cita kebersamaan tinggal angan-angan. Padahal hidup itu nyata.

Urgensi dari bermaiyah salah satunya menumbuhkan rasa handarbeni terhadap bangsa yang hidup kebanjiran segara madu dan kabegjan kebrayan, anugerah yang tiada tara dengan limpahan sumberdaya alam yang tak ternilai harganya. Bahwa bangsa dan negara Indonesia menjadi “incaran” bangsa lain. Kita mengalami penjajahan dan pendudukan selama hampir empat abad. Seolah belum merdeka meski pascaproklamasi, roda “kehidupan” belum berputar sempurna dan hingga kini ketahanan hidup tidak berubah.

Selama kaidah hidup dipertahankan dalam kebersamaan, kebanjiran segara madu dapat dinikmati. Kenikmatan hidup didapat bila percaya diri dan tidak putus asa. Menyerah boleh tetapi jangan putus asa.

____________________________

*Selama Ramadhan, Rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Continue reading Bermaiyah

Kediri – Temui Diri

9 Mei 2020

Review Tema Sanggar Kedirian 11 November 2016

Di awal perjalanan, kita diberi nasehat– lambaran urip–berupa sesanti: rila lamun ketaman, ora getun lamun kelanganrila lan legawa lair terusing batin dan wong urip mung mampir ngombe agar mampu menata hati pada tiap periode hidup dalam perjalanan hidup. Menjadikan diri sebagai pembanding terbaik terhadap keadaan yang kita jalani dengan keadaan orang lain. Melampaui dan meninggalkan kata merga keadaan.

Dalam perjalanan, kebanyakan kalimat tarji’ (innalillahi wa inna ilaihi raaji’un) diperuntukkan untuk orang wafat walau makna sebenarnya menunjukkan ketidakmampuan dan kesempurnaan. Sejalan dengan tarji’, ada ungkapan indah wong urip mung mampir ngombe. Kita hidup ini sekedar mengembalikan stamina di tengah perjalanan yang tiada tahu kapan harus berhenti, hingga datang saat perpisahan di terminal yang dekat rumah-Nya. Kemudian pergi lagi hingga terminal akhir dari setiap perjalanan. Bertemu lagi dengan orang yang dulu pernah kita temui, di padang mahsyar.

Dalam perjalanan itu banyak peristiwa yang kita temui dan membuat hati bergolak untuk segera menyikapi peristiwa itu. Sesuai dengan yang apa kita tahu walaupun sebenarnya kita tidak tahu. Bisa juga membiarkan peristiwa itu dengan “sebuah rasa” berbanding terbalik atau “sebuah rasa” yang lurus dengan peristiwa itu.

Tidak sedikit yang menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran–dengan mengingat al-Mujadilah ayat 9–bahwa semua akan kembali kepada kita dan Yang menciptakan kita. Hingga rila lamun ketaman, ora getun lamun kelangan terhayati, menerima yang diberikan dengan apa adanya serta tidak menyesal jika itu hanya dititipkan dan bukan untuk kita. Yang ada hanyalah sebuah kedamaian dan ketenangan menjalani hidup.

Rila lamun ketaman, ora getun lamun kelangan membentuk diri selalu bahagia. Memiliki tujuan hidup yang lurus dengan tindakan dan sikap sederhana. Menganggap kehidupan dunia sebagai jalan perantara yang mengantar pulang dalam keabadian. Dunia dan daya tariknya disikapi dengan bijaksana. Bila memiliki, bersyukur dan bila tidak memiliki, bersabar melalui usaha yang tiada henti, tidak iri dengan apa yang dimiliki orang lain.

Di akhir perjalanan, jika itu sebuah benda maka akan berpindah ke tempat lain, jika itu milik kita maka akan menjadi milik orang lain, jika itu kita maka akan kembali kepada yang menciptakan kita. Menyikapi dangan rila lan legawa lair terusing batin, bukan dengan PSBB.

Melakukan sesuatu untuk pihak lain, sebagai perantara orang lain menikmati rejeki dengan rasa masing-masing. Melakukan segala sesuatu dengan niat membantu, menolong diri tanpa mengharapkan imbalan, apalagi balasan.

Rila lan legawa lair terusing batin menuju sikap ikhlas tanpa pamrih. Melakukan sesuatu dengan sepenuh hati. Totalitas dan kapasitas terbaik yang dimiliki. Menjalankan kewajiban sesuai tanggung jawab yang dipikulkan. Merasa bahagia bila orang lain mendapat kepuasan. 

Selalu menunjukkan sikap optimis dengan pekerjaan. Yakin bahwa semua kembali kepada diri kita. Mengulum senyum hingga di sana. Menemui diri kita sendiri.

____________________________

*Selama Ramadan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Continue reading Kediri – Temui Diri

Keranjang Sampah

10 Mei 2020

Review
Tema Sanggar Kedirian 16 Desember 2016

Sampah, orang Jawa memberi istilah wuh berarti sebuah kerendahan. Kependekan dari huwuh (dibaca uwuh). Bila diberi kombinasi mempunyai makna kembali ke diri: “E” wuh, serba bingung, apakah telah sesuai dengan ajaran atau belum; “pake” wuh, merasa tidak pas dengan sikap yang kita tentukan; “ra” wuh, masalah yang disikapi dengan baik dan tidak menyinggung perasaan; ewuh aya, merasa serba salah. Serta kombinasi kata atau kalimat lain yang bermakna agar selalu menunjukkan sikap baik dan berhati-hati terhadap segala sesuatu yang menyangkut diri kita dengan makhluk lain atau terhadap lingkungan.

Sampah mempunyai makna di kehidupan. Adanya sampah menunjukkan kalau kita tidak hidup sendiri. Sampah roti karena kita berhubungan dengan pabrik. Sampah kacang karena kita berhubungan dengan kebun (teringat lirik lagu “Dondong opo Salak” yang berbunyi, “Kacang karo roti, adi diparingi”).

Keranjang dalam bahasa Jawa disebut kranjang yaitu alat transportasi berbasis otot untuk memindah atau menyimpan barang sementara waktu. Bila ditulis tersusun atas tiga huruf ( ka-na-ja, 5-2-13). Ka berarti potensi diri, na: dasar, ja: keinginan selalu menang.

Keranjang dibuat dari anyaman bambu (deling) berlubang besar bermakna di setiap sesuatu jika ingin mempunyai arti dalam kehidupan, maka harus memperhatikan sisi positif dan sisi negatifnya. Misal kata tatune arang kranjang menunjukkan betapa pandainya menyimpan sebuah kesedihan, memperhalus kalimat yang mengerikan menjadi kalimat yang sejuk. Dalam sebuah peperangan apabila seseorang telah mengalami luka parah terkena senjata biasanya sudah tidak bisa lagi diharapkan kembali sehat dan normal, maka memilih kalimat “tatune arang kranjang” untuk memperhalus agar teman dan keluarganya tidak panik. Bahwa manusia kebanyakan mempunyai watak ingin selalu berada di atas rata-rata sekalipun hidupnya bersandar dengan orang lain, maka sifat ini harus dilepaskan karena potensinya dapat dibaca orang banyak.

Keranjang sampah merupakan gambaran bagaimana kita bersikap seperti bumi. Dalam ilmu Hasta Brata dijelaskan bahwa bumi tidak membeda-bedakan makhluk yang berada di permukaan dan di dalam tubuhnya. Semua diterima dengan tulus karena mereka mempunyai hak bertempat padanya.

Seorang yang berjiwa keranjang sampah selalu melihat potensi yang dimiliki oleh saudaranya, mencari kelebihan diantara kekurangan yang tampak, didaur ulang agar dapat dimanfaatkan dengan lebih baik. Keranjang sampah menggambarkan kerendahan hati, menjauhi sikap gegabah dalam memutuskan tindakan, jangan terburu membuang sesuatu, agar tidak timbul penyesalan. Pecut diseblakna, wis bacut dikapakna ?

____________________________

*Selama Ramadhan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me- review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.
Continue reading Keranjang Sampah

Ramadan 12 Bulan

Review Tema Sanggar Kedirian 8 Juni 2017

Di awal Ramadan, berat rasanya berpuasa karena harus meninggalkan aktivitas yang bersifat metabolis, sebagian maupun keseluruhan. Biasanya merokok dan ngopi beberapa saat untuk menyehatkan sistem respirasi, harus berdiam membiarkan rasa kecut bin masam di bibir. Biasanya ngemil, harus mengulum lidah di pagi hari, karena puasa.

Puasa, dalam bahasa Jawa disebut pasa: siyam dan maneges. Pasa banyak yang memaknai sebagai usaha ngepasne rasa, bagaimana merasakan sesuatu yang dirasakan saudara kita yang hidup dalam kekurangan sandang pangan. Pasa memberikan sentuhan rasa bagaimana jika kita yang kekurangan sandang atau perangkat hidup. Perangkat hidup yang didambakan adalah berkecukupan dalam lenggah dan sembah atau kedudukan dan kepantasan.

Lenggah merupakan kemapanan dalam pekerjaan. Sedangkan sembah adalah kepantasan dalam pergaulan seperti pakaian, uang, sarana transportasi dan komunikasi yang mengundang decak orang lain. Puasa menggugah rasa bagi orang yang telah cukup atau berkelebihan terhadap pangan, bagaimana reaksinya bila melihat keperbedaan di bawah standar. Hingga timbul rasa iba yang sebenarnya, tidak hanya mencapai kepantasan.

Siyam merupakan cita-cita besar mencapai kualitas dan kuantitas yang berbeda, dari “kates” biasa menuju “jenis taiwan”, bila itu “ayam” menuju “jenis bangkok”. Siyam adalah ibadah yang komplet baik pahala maupun kemantapan doa bahkan orang tidur pun bernilai pahala.

Orang berpuasa disebut maneges, bahwa setelah membina rasa, ia mencari arti dari setiap langkah perjalanan hidupnya, apakah yang dilakukan berguna bagi orang lain atau tidak berarti sama sekali. Ia mencari makna dari setiap gerakan bibirnya, apakah ucapannya menyenangkan atau menyakitkan, apakah harga hartanya dapat menolong harga dirinya. Atau pertanyaan lain yang jawabannya menyangkut kesempurnaan dirinya.

Ramadan adalah bulan berharap dan berdoa, berharap mendapatkan arti dan berdoa mencari arti. Ramadan berasal dari akar kata roma, api yang membakar dengan cepat. Di bulan itu dosa dan kesalahan dibakar dengan cepat melalui perbuatan yang secara kuantitas sama dengan di bulan lain, bila perbuatan itu diniatkan untuk orang lain dan menjadikannya terhindar dari dosa. Sabda Rasul, ”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa maka pasti dikabulkan”.

Puasa adalah ibadah lahir batin. Secara lahir menahan nafsu fisik dan secara batin menahan kemungkaran. Secara lahir melakukan sedekah dan secara batin rajin berdoa. Dari sini muncul istilah donga sinandhi atau doa yang tidak terus terang. Bahwa sedekah yang dikeluarkan berupa apa dan seberapa pun sebagai usaha mencegah malapetaka (as-shodaqatu lidaf’il bala’). Secara lahir melakukan ibadah dan secara batin berusaha pasrah.

Di akhir bulan Ramadan, keindahan rasa mulai memasuki oksigen darah yang ikur beredar ke seluruh tubuh. Kebahagiaan mulai terasa dan diri kita telah menemukannya dengan ditandai keterkejutan dan gumam hati, “Benarkah bulan mulia ini akan berakhir?” Kita merasakan ketentraman hati walau hanya sebentar lalu berharap semoga bulan-bulan berlalu bagai Ramadan. Ya, Ramadan 12 bulan.

___________________________________

*Selama Ramadan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Continue reading Ramadan 12 Bulan

Obor Paseduluran

Review Tema Sanggar Kedirian 20 Januari 2017

Terdapat beberapa istilah dalam paseduluran, semisal ungkapan sedulur sinarawedi, kadang sentana, sedulur tunggal bayu, kadang tunggal wredha, trah sawadhah. Istilah lain yang diambil dari bahasa Arab: ukhuwwah basyariyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah islamiyah sebagai ungkapan agar selalu bersatu bagai tebu setagon yaitu buah tebu yang terikat oleh klaras daun tebu. Dalam membina persaudaraan tidak perlu memandang perbedaan karena sebenarnya perbedaan itu memberi manfaat besar dalam mengikat paseduluran yang sebenarnya.

Paseduluran bila diurai berakar pada wejangan lur yang artinya mencabut dengan mudah, kependekan dari luhur yang berarti mulia. Paseduluran dapat dimaknai sebuah keinginan mencapai derajat mulia walaupun harus merelakan keberadaan yang dimiliki terlepas. Melepas sifat adigang, adigung dan adiguna. Tidak peduli disebut bathang lelaku (seperti mayat berjalan, orang yang tidak bercita-cita tinggi) karena orang kebanyakan melihat bau kapine, orang terdekat sajalah yang dijadikan mitra.

Paseduluran dalam konteks basyariyah atau kemanusiaan sebagai kelanjutan wawasan wathaniyah, berbangsa dan bernegara yang sapadan. Berdasarkan QS. al-Hujurat: 13, manusia mempunyai kedudukan yang sama di bumi. Karenanya harus ngrakit paseduluran, bersahabat dan menjunjung tinggi kesamaan derajat, bahwa manusia adalah trah sawadhah dari Nabi Adam a.s. dan Ibu Hawa. Dalam berilmu pun mereka tunggal bayu yang menghormati kadang wredha yang mengajari kita berbagai pengetahuan.

Di awal perjumpaan, paseduluran merupakan wujud kesamaan hati dan keinginan. Saat di tengah perjalanan, jika terjadi perbedaan dalam wawasan maka segera dilupakan. Paribasan gemblung jinurung edan kewarisan, melakukan sesuatu yang tidak sesuai aturan kebanyakan orang, tetapi berhasil meski dibilang tidak umum. 

Apabila sudah hampir sampai di akhir perjalanan, paseduluran dibangun dengan sesanti dicacad ora gela dielem ora muyeng. Api paseduluran dibangun dengan prasasti yang ditatah dalam hati: walaupun dibuka aibnya tidak merasa sakit hati. Bukan karena tidak punya perasaan tetapi karena menghormati persaudaraan. Sebaliknya tidak akan merasa berbangga hati apabila dipuji-puji apalagi sampai muyeng, lupa diri.

____________________________

*Selama Ramadan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Continue reading Obor Paseduluran

Di Luar Jangkauan

Review Tema Sanggar Kedirian 31 Maret 2017


Jangkauan, keinginan besar yang menimbulkan istilah “luar biasa”. Tiada beda mana gagal dan mana berhasil, manusia hanya asrah jiwa. Tidak ingin hidup tetapi diberi hidup, jalani pola hidup di tengah pengaruh kehidupan.

Luar biasa, manusia bagai bathang kridha ula keli (arti bathang adalah bangkai, kridha bermakna menjalankan sesuatu untuk mencapai sesuatu). Sekalipun mampu mempengaruhi kehidupan tetapi yang dilakukan manusia bukanlah kehendak manusia. Namun, sebuah keinginan agar tetap hidup di antara reaksi keterpaksaan demi kehidupan. Bagai ula keli, hidup di daratan gelap (leng) dan sesekali keluar memenuhi hasrat hidup. Rela jika harus terjebak dalam arus dan terbawa, beralih tempat hidup dengan pola tidak berubah.

Di mana pun bertempat, keinginan manusia sama yaitu mencari kemapanan dan kedamaian sesuai dengan kehendak diri. Berada di antara bayangan “keberhasilan” yang dicapai kelompok tertentu. Padahal asor kilang mungguhing gelas, bahwa sebenarnya isi gayung dan gelas sama, tetapi kelihatan berbeda bila disejajarkan. Kita berkecil hati dan belum merasa hebat daripada orang lain karena melihat fasilitas secara kuantitas, bukan kemanfaatan.

Kita sering menggunakan tronton hanya untuk mengangkat kursi kecil, padahal sudah cukup dibonceng sepeda. Asor kilang mungguhing gelas memberi ajaran agar dalam hidup tidak terlalu muluk-muluk, membanggakan diri sendiri dan sombong. Dicacad ora gela dielem ora muyeng menjadi landasan membentuk keyakinan, bahwa kita pasti berhasil menaklukkan dunia, karena kita adalah jawata hing ngarcapada.

Sebagai raja di bumi hendaknya mengetengahkan sabar dalam sifat dan menyifati sifat dalam sabar sebagai laku utama. Luas bumi yang tidak seluas dunia manusia tentunya menumbuhkan sikap bijaksana.

Belajar dari perang Badar dan perang Uhud dimana kesabaran menjadi kunci keberhasilan kedua perang tersebut. Sungguh di luar jangkauan, perbandingan pasukan tidak seimbang bukan menjadi soal menggapai kemenangan. Tetapi kemenangan bisa berbalik menjadi kekalahan manakala sabar tidak disifati. Sehingga usai perang Uhud Rasul Saw. bersabda, “Kita baru saja melakukan perang kecil dan perang yang lebih besar telah menunggu yaitu perang melawan nafsu.”

Maka jadikan sabar dan ibadah kita sebagai wasilah menguasai dunia. Dengan sabar dan ibadah menjadikan mulut lebih luas daripada lautan, mata lebih indah daripada bintang, telinga lebih menjangkau daripada angin, dan jiwa lebih tinggi daripada gunung.

____________________________

*Selama Ramadan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Continue reading Di Luar Jangkauan

Nol

18 Mei 2020

Review
Tema Sanggar Kedirian 22 September 2017

Kondisi kulminasi (titik tertinggi) dan kondisi antiklimaks (titik terendah) menyadarkan kita bahwa tiada lagi kekuatan yang kita miliki. Kita juga menjadi sadar bahwa kekuatan yang kita miliki sangatlah terbatas. Kekuatan manusia atau pun makhluk lainnya dari tidak ada menjadi ada kemudian tidak ada lagi.

Ketika kita dalam kondisi di titik terendah tentu ingin mendaki ke titik yang lebih tinggi. Namun, ketika sampai di titik yang paling tinggi mau tak mau harus kembali lagi menuruni titik yang lebih rendah. Di sini ada sebuah tanda tanya besar. Sesungguhnya kekuatan itu ada di mana? Ketika di bawah atau di atas?

Saat akan mendaki, tenaga dalam kondisi penuh karena suplai mudah didapat. Begitu juga saat akan menurun, tenaga juga penuh karena suplai gravitasi. Di mana letak perbedaan tenaga antara di titik terendah dan di titik tertinggi?

Di titik keduanya mampu karena serba bantuan dari-Nya. Berujung-pangkal pada kelelahan, berawal-akhir dengan istirahat. Dari lamunan itu, muncul kesadaran kenapa firman pertama-Nya menasihatkan agar mengawali dengan membaca Asma-Nya bila hendak membaca, mendaki dan menggali alam manusia.

Asma itu secara global dikenal dengan bacaan Basmalah dengan lafaz bi ismi Allah al-Rahman al-Rahim mengandung tiga Asmaul Husna, nama utama dan terpuji milik Allah. Basmalah terdiri dari tiga alif, menandakan adanya ahadiyah yang memonopoli segala urusan dan kebutuhan makhluk. Semua sembah dan puji tertuju pada satu tempat yaitu kepada Zat sejati yang menggerakkan zat-zat milik makhluk, mulai dari unsur zat tunggal hingga bentukan berupa campuran dan senyawa yang menyusun tubuh makhluk.

Nama utama Allah itu ketiganya diawali dengan huruf alif. Disebut alif dzat al-Wahid yang dalam ilmu makrifat disebut banyu nur alif. Bahwa segala makhluk tercipta karena air, dalam setiap sesi kegiatannya selalu membutuhkan air. Maka harus menyadari adanya banyu nur alif yang meliputi langit dan bumi. Air langit menghidupi makhluk di bumi dan air bumi menghidupi makhluk di laut. Di bawah kuasa Zat yang wujud sendiri tanpa ada yang mewujudkan, Zat yang hidup sendiri tanpa ada yang menghidupkan (qiyamuhu binafsihi).

Genggaman Tuhan dilambangkan dengan huruf ba’, artinya dengan kehendak Allah segala sesuatu terjadi. Dalam ilmu makrifat disebut sebagai sifat sejatinya alam. Bahwa diciptakannya Nabi Muhammad Saw. dengan gelar Nur Allah–biji atau asal dari semua makhluk–sebagai wasilah diciptakannya alam ini. Alif dan ba’ pada Basmalah merupakan pangkal kehidupan, pangkal tenaga, pangkal upaya dan pangkal keberhasilan setiap makhluk baik yang mempunyai insting maupun yang mempunyai akting. Adanya Nur Allah dikarenakan Gustialah akan menunjukkan kepada manusia sekaligus memberikan contoh kepadanya bahwa Gustialah itu Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu yang tercipta.

Bagi makhluk yang berakting (manusia), ketika ia dipasrahi sebagai jawata ing ngarcapada, ia berlaku seolah menjadi tuhan kecil. Di muka bumi ia mengatur kehidupan. Bahkan ia berani merubah pola hidup makhluk yang dikaruniai insting (hewan dan tumbuhan) dengan temuan ilmu rekayasa genetika. Berani memotong siklus dalam sebuah ekosistem dengan mengelabuhi makhluk berinsting melalui inseminasi buatan, media vegetatif sampai dengan membuat biosfer baru demi kepentingan memunculkan varietas pengganti yang terkadang merubah pola hidup makhluk lainnya. Saat kreasinya (rekayasa genetika dll.) menemui kebuntuan, yang dilakukan adalah memulai lagi dari nol.

Usaha dan upaya terdahulu yang menemui kebuntuan seolah dilupakan ketika memulai lagi usahanya dari nol. Tidak menyadari bahwa setiap makhluk mempunyai ketergantungan dengan lingkungannya, baik lingkungan “biotik maupun abiotik”–dalam tanda petik karena sebenarnya semua makhluk mempunyai kehidupan.

Secara lahir, gejala dan akibat perubahan alam seperti pengembangan daya, cipta, rasa dan karsa manusia merupakan penyikapan perputaran kehidupan. Sebuah temuan baru terkadang merupakan temuan yang sudah lama ada. Seperti halnya mode pakaian yang kembali ke nol. Bahkan ada yang bilang, “Simpan pakaian kita sekarang, besok akan jadi modern.” Jangan malu dengan apa yang kita miliki sekarang. Jangan malu dengan pekerjaan dan sarana hidup lain milik kita. Elek elek duwek dhewek kita perjuangkan dari nol atau mungkin dari min dengan segala kemampuan yang kita miliki. Biarkan dibilang kuno toh pada saatnya nanti akan jadi modern dengan sendirinya.

Setelah mempelajari dan memperhatikan (iqro’ – istiqro’) dengan fenomena alam yang seolah selalu berbalik arah, mestinya kita bangga menjadi orang yang nJawani dengan sikap selalu menjiwai terhadap berbagai peristiwa. Kita mempunyai bebasan lengkap untuk menentukan sikap seperti sangkan paraning dumadi, asal usul kejadian. Bumi asalnya tidak ada, manusia asalnya tidak ada, langit dulunya juga tidak ada lalu diadakanlah Nur Muhammad sebagai wasilah alam. Kelak, semua akan kembali tidak ada, kembali ke-Nol.

____________________________

*Selama Ramadan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Continue reading Nol

Kejangkung Leluhur

20 Mei 2020

Review Tema Sanggar Kedirian 9 Februari 2018

Serat Wulangreh Raja Surakarta Sri Susuhunan Pakubuwana IV pada bait atau pupuh ketiga memberikan gambaran tentang perilaku tidak baik dan kebablasan menjadikan hidup terjerat penderitaan. Nasihat dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa dan tidak pernah diperhatikan, sementara perilaku tidak baik menjadi kebiasaan. “Sekar gambuh ping catur || Kang cinatur polah kang kalantur || Tanpa tutur katula-tula katali || Kadaluwarsa kapatuh || Kapatuh pan dadi awon.”

Apabila diurai secara sederhana, nyanyian atau tembang gambuh di atas menunjukkan betapa besar perhatian terhadap rakyat agar berperilaku utama. Baris keempat berisi tentang pentingnya memberi nasihat kepada yang lupa dengan laku utama, jangan sampai kadaluwarsa dan menyebabkan terjadinya peradaban baru yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

Nasihat yang diberikan berpedoman pada eling purwa duksina, belajar kepada generasi terdahulu bahwa yang mengikuti ajaran agama akan mendapatkan kebahagiaan, sebaliknya bagi yang tidak memperhatikan nasihat akan menyesal dan menemui ketidakpastian dalam hidup, selalu bingung dalam memutuskan sesuatu, tidak percaya dengan apa yang terjadi. Salah satu nasihat itu adalah mengingat asma telu, tiga nama yang menjadi purwa duksina kehidupan makhluk.

Gambuh atau pertemuan ketiga nama itu terdapat pada ajaran makrifat tentang Zat Sejati, Sifat Sejati dan Asma Sejati. Zat Sejati adalah Allah dengan sifat dua puluh dan asmaul husna yang harus diyakini adanya oleh makhluk, yang menciptakan dan memelihara seluruh alam seisinya: alam malaikat, alam manusia, alam hewan maupun alam tumbuhan. Semuanya mampu hidup sesuai batas masing-masing karena kehendak Zat Sejati yang memelihara alam dengan penuh kebijaksanaan dan keadilan.

Genggaman atau wadah dari cahaya kehidupan adalah Sifat Sejati yang dimiliki Rasul akhir zaman, Muhammad Saw., sebagai rohmatan lil ‘alamiin beliau terlebih dahulu diciptakan sebelum alam lain. Alam lain merupakan emanasi Nur Muhammad. Semua penghuni langit dan bumi senantiasa mengagungkan asma beliau dalam shalawat. Semestinya kita juga melakukannya untuk njangkung rahmat. Kemuliaan derajat manusia bergantung pada pembawa Sifat Sejati. Beliau menuntun manusia agar senantiasa sesuai alur agama dan beliau akan memberi syafaat bagi yang percaya disaat kepercayaan tidak dibutuhkan lagi.

Asma Sejati adalah Nabi Adam a.s., manusia yang pertama kali diciptakan Gustialah ‘Zat Sejati’ dari saripati tanah. Melalui Adam a.s. Gustialah menciptakan manusia dan menjaga genetika manusia yang disimpan di tulang punggung. Berbeda dengan makhluk lain yang berlaku seleksi alam, yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan akan punah. Generasi manusia terlindungi (kejangkung) Asma Sejati. Walau menikah dengan suku atau bangsa yang berbeda bentuknya tetaplah manusia. Faktor dominasi tidak merubah bentuk dan variasi warna kulit.

Rantai pemeliharaan Asma Sejati–sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an–selalu diperbaiki dari generasi ke generasi. Dimulai dari peristiwa Habil dan Qabil hingga anak cucu Nabi Adam yang ngelantur diperbaiki generasinya melalui banjir bandang pada masa Nabi Nuh a.s., hingga yang tersisa delapan puluh orang yang kesemuanya beriman kepada Allah. Penyelewengan terjadi ketika pada suatu waktu terdapat negara yang penuh dengan prostitusi, gay, lesbian hingga bayi laki-laki di-sweeping oleh Raja Namrud. Setelah konspirasi Namrud dikalahkan oleh Nabi Ibrahim dan banyak yang mengesakan Allah, umat Nabi Luth a.s. dilebur dengan membalikkan kota, hingga yang tersisa generasi Nabi Ibrahim dan Nabi Luth beserta umat mukmin binaan beliau.

Ketika penyelewengan terhadap kitab Taurat dan Shahifah para nabi dan rasul memuncak, pemurnian Asma Sejati dilakukan bersamaan dengan sweeping Raja Fir’aun terhadap bayi laki-laki segenerasi dengan Nabi Musa a.s. Setelah dewasa, beliau mengajak kaumnya beriman hingga suatu saat terjadi perdebatan tauhid dengan Fir’aun dan paranormalnya. Usai perdebatan, mayoritas tentara dan pejabat mengimani Allah dalam hati. Kegigihan memelihara Asma Sejati itu tergambar dalam peristiwa Dewi Mashithoh yang tetap teguh memegang keimanannya walaupun nyawanya terancam. Akhirnya Fir’aun dan prajuritnya yang ngelantur habis tenggelam di laut merah. Yang tersisa adalah Nabi Musa a.s. dan pengikutnya yang setia membawa Asma Sejati.

Diri Nabi Muhammad di samping sebagai Sifat Sejati juga pembawa Asma Sejati. Beliau menyempurnakan ajaran para nabi dan rasul terdahulu. Memurnikan agama Nabi Isa dan pembawa kitab lainnya dengan tatanan hidup sejati melalui al-Qur’an (lihat QS. 2: 185 dan QS. 3: 1-6). Setelah menyempurnakan hukum pernikahan dan halal haram dalam Islam, beliau menyeru kepada umatnya agar selalu bersabar dan membela agama Allah, menjadikan sabar dan sembahyang sebagai sarana memohon pertolongan Gustialah, menyeru umatnya agar taat kepada Gustialah, taat kepada Gusti Nabi dan mengikuti Gusti Ratu, serta mengembalikan semua urusan melalui al-Qur’an, as-Sunnah dan keputusan para sahabat yang dibawa oleh pewaris beliau untuk mempertahankan Sifat Sejati dan Asma Sejati. Orang tua kita rajin mengajarkan akhir surat al-Baqarah ayat 286 untuk njangkung anak cucu. Mengikuti doa Nabi Ibrahim pada surat Ibrahim ayat 40-41. Membuat kita kejangkung leluhur.

____________________________

*Selama Ramadan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Continue reading Kejangkung Leluhur

Sedhelet


22 Mei 2020

Review Tema Rutinan Sanggar Kedirian “Sedhelet” 5 Januari 2018


Wong urip mung mampir ngombe, nyebar godhong kara, dan urip mung sak drema adalah sebagian ungkapan yang sering kita dengar sebagai bentuk kesadaran bahwa manusia tidak mempunyai kemampuan menentukan dan memastikan sesuatu, yang dimampui hanyalah berusaha menyikapi hiruk-pikuknya dunia agar tidak terlalu tertinggal masa. Sedhelet merupakan siratan sedhilet atau sedhilit, dengan maksud sangat sebentar. Bila diurai dari kalam wejangan berasal dari: let, jeda atau antara; lit, berarti sedikit; menjadi dhilet, sebentar atau dhilit, sangat sebentar. Panambang “se” pada kata sedhilet atau sedhilit bermakna satu, seukuran atau senilai. Setiap peristiwa yang dialami manusia hanyalah sementara, terbatas dengan kemampuan dan waktu. Perjalanan hidup sangat singkat dari tempat satu ke tempat lainnya, dari generasi ke generasi dengan batasan sejauh mana pengetahuannya.

Wong urip mung mampir ngombe, orang hidup tentu tidak lama, hanya sedhelet. Berjalan mencari keberadaan. Keberadaan yang didapat ternyata hanya sedhilit karena harus digantikan orang lain. Kemudian berjalan lagi mencari kebenaran. Kebenaran yang didapat hanya sedhilit karena saat kita membenarkan tersirat keinginan mencari tahu tentang keyakinan. Keyakinan yang didapat ternyata juga sedhilit karena terjeda dengan percaya atau tidak percaya, terbawa di alam impian.

Nyebar godhong kara, bahwa setiap episode di dunia yang hanya sedhilit ini–dikiaskan mampir ngombe–harus dilalui dengan sabar. Gustialah memerintahkan agar menjadikan sabar sebagai senjata untuk memohon pertolongan. “Wasta’iinu bisshobri wasshalah, innallaha ma’asshobiriin.” Jadikanlah sabar dan salat sebagai sarana memohon pertolongan, sesungguhnya Allah menyertai orang-orang yang berbuat sabar.

Setiap urusan akan bertemu dengan mangsa sejati yaitu antara suka dan tidak suka, bahagia dan sengsara. Semuanya merupakan cobaan dari Gustialah sebagaimana tertuang dalam rukun iman yang keenam: wabilqodri khoirihi wa syarrihi minallahi ta’ala.

“Dhandanggula pahit amemanis, dhandang susah gula kabingahan, kan sinandhang sapa wae.” Berisi wejangan agar selalu bersikap sabar dalam dalam keadaan apapun. Susah dan bahagia bukanlah sesuatu yang aneh untuk tetap bersabar. Susah dan bahagia memang berjodoh sejak manusia masih dalam kandungan. Bila yakin selalu sabar akan mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 249,

ﻛَﻢْ ﻣِﻦْ ﻓِﺌَﺔٍ ﻗَﻠِﻴﻠَﺔٍ ﻏَﻠَﺒَﺖْ ﻓِﺌَﺔً ﻛَﺜِﻴﺮَﺓً ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﻊَﺍﻟﺼَّﺎﺑِﺮِيْن

“Berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Sebagaimana perang Badar dimana pasukan mukmin dan kuffar Makkah perbandingannya 1:3, tiga ratus tiga belas melawan seribu, karena bersabar diberi kemenangan. Sebaliknya kemenangan di depan mata pada perang Uhud harus tertunda dan banyak korban, karena tidak nyebar godhong kara.

Urip mung sak drema, manusia tidak mempunyai kemampuan menentukan dan memastikan sesuatu. Manusia hanya mampu berusaha menyikapi perkembangan tiap peristiwa yang terjadi dengan mengerahkan segenap daya, cipta, rasa dan karsa yang terbatas oleh kemampuan–biasanya memilih kata ruang–dan waktu. Manusia sadar bahwa hidup bukan abang-abang lambe dan keberlanjutan dinasti harus dipikirkan secara bijaksana. Dalam keadaan bagaimanapun abot anak ketimbang telak, selalu berpikir bahwa anak adalah penerus segala karunia yang diberikan Gustialah. Ikhtiar senantiasa dilakukan pada setiap kesempatan walau menyadari bahwa kridhaning ati tan abisa ambedhah kuthaning pesthi tetap berusaha kaya welut dilengani, ora kena bapak ya kena anak hingga akhir batas yang telah ditentukan Kang Akarya Jagad. Berusaha, bekerja dan berkarya tiada pernah henti meskipun di dunia mung sedhela banget alias hanya sedhelet.

____________________________

*Selama Ramadan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

Continue reading Sedhelet

Kembali ke Setelan Pabrik

Pambuko rutinan Sanggar Kedirian 9 April 2021


Memasuki beberapa hari menjelang bulan Ramadhan 1442 H, Sinau Bareng Sanggar Kedirian kali ini dengan tema Kembali ke Setelan Pabrik, hal ini tak lepas dari sebuah ajakan untuk kita kepo sama diri kita sendiri. Karena ”Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu”, “Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya”. Logika pemahamannya, dengan kita mengenali diri sendiri merupakan salah satu jalan mengenal yang sejati Allah SWT.


Belakangan ini kita memang sedang dilanda oleh fanatisme-fanatisme, heroisme golongan yang direproduksi terus-menerus, pembangunan militansi sempit berbenturan dengan militansi golongan lain sehingga yang terkorbankan adalah kehidupan sesrawungan, bebrayan dan komunalitas. Kita mengingat kembali, bahwa sejak dulu manusia Jawa-Nusantara sudah punya istilah empan papan, atau istilah modernnya disebut positioning dan ini adalah inti dari segala manajemen. Setiap hari bahkan setiap detik harus tahu posisi kita dan harus melakukan apa, ini merupakan satu kunci juga agar kita terselamatkan dari fanatisme golongan dengan menyadari bahwa semua versi kebenaran selalu relatif bila datangnya dari manusia.


Dalam ilmu psikologi ketika kita berada di dalam posisi bersedih, patah hati atau galau itu semua melalui proses yang namanya “menolak”, dan ketika kita merubah proses itu dengan “menerima”, selesai masalah. Tentu dengan pertimbangan presisi batas diri masing-masing manusia dan Intinya perjalanan adalah mencari apa yang sejati. Karena sejati tak akan terganti, maka “Kembali ke Setelan Pabrik” adalah konsep perilaku kepasrahan sebagai manusia kepada Allah Swt.


Tentu ini adalah positioning yang diperlukan dalam nilai-nilai perjuangan panjang yang tidak bersifat sementara, namun untuk sesuatu yang abadi. Tahun-tahun ke depan jelas sangat sulit untuk kita prediksi apa yang akan terjadi. Jangankan mengenai peta perpolitikan nasional ataupun bencana kesengajaan internasional bahkan kita tidak tahu mengenai nasib diri kita sendiri. Harapannya, ini tidak menjadikan diri kita pesimistis dalam menghadapi masa depan, namun justru dengan kepasrahan kita kepada Allah Swt semestinya mampu membuat diri kita untuk optimistis menyongsong masa depan dengan cara berusaha mengikuti akhlak Rasulullah menjalani kehidupannya. Bagaimana caranya?



Catatan:

Akan dimulai lebih awal jam 19.30 dengan kirim doa.


Continue reading Kembali ke Setelan Pabrik

We Read-Ing Katresnan

Pambuko rutinan Sanggar Kedirian 5 Maret 2021


Kerinduan yang menggembirakan. Itulah suasana yang tergambar pada setiap malam Sabtu Legi yang diselenggarakan oleh Simpul Sanggar Kedirian. Beragam wajah orang yang merindu, penuh kebahagiaan akan segera terobati karena kembali berjumpa, tentu dengan protokol pemahaman kesehatan masing-masing. Bahkan ada yang saking rindunya dua kali pertemuan dalam hitungan bulan jawapun dirasa masih kurang, sehingga pertemuan-pertemuan dalam lingkaran kecil yang diistilahkan sebagai “ngopi gedhen” bisa saja terjadi baik di warung-warung dan di rumah para penggiat Sanggar Kedirian. Lantas apakah perjumpaan itu sekedar hanya untuk njagong, berdiskusi, berteori dan sekedar rerasan saja? 




Penglihatan Batin


Terus belajar membangun keakraban dengan komunikasi interaktif antar kita yang menitikberatkan pada pendewasaan dan perluasan hikmah dalam mengelaborasi peristiwa yang dialami atau pengalaman antar penggiat nampaknya masih menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Meskipun sementara ini perdebatan dalam mempertahankan kebenaran masih sering terjadi, hal lumrah yang hendaknya kita sadari bersama bahwa dalam menempuh perjalanan kebajikan mestinya selalu berada dalam keseimbangan. Walaupun tak jarang pula dalam memetik pemaknaan hikmah Sinau Bareng itu dapat teraplikasikannya sikap dan perilaku bijaksana serta kearifan dalam bermasyarakatnya masing-masing kita, karena ”Ngelmu kuwi kelakone kanthi laku”.


Meskipun dengan ilmu itu perbedaan akan mudah kita temukan, namun dengan kebijaksanaan kita dapat menemukan kesamaan dari hal yang berbeda-beda. Ada seribu kemungkinan pengetahuan di luar batas logika faktual yang selama ini kita jadikan acuan penglihatan kebenaran, yang patut kita curigai untuk memahami dalam menjangkau analisis kebenaran. 




Maningal, Manekung dan Maneges 


Kali pertama yang diwahyukan oleh Allah kepada Rasulullah SAW adalah kata Iqra’, bacalah. Sebuah perintah yang sangat tegas, bahwa yang pertama kali harus dilakukan oleh manusia adalah Iqra’. Lantas kita membaca apa? Khasanah ilmu modern mungkin tidak mampu menjangkau pemahaman mengenai hidayah, ilham, atau istilah-istilah warungan-seperti tembus, roso ngeng, krenyeng-krenyeng, krenteg ati, dll. yang kadang muncul di dalam interaksi kehidupan kita sehari-hari. Dalam islam dikenal dengan konsep taqwa sedangkan di Jawa ada istilah eling lan waspada yang dikutip dari salah satu syairnya pujangga Ronggowarsito. Sebuah konsep tentang manusia yang beruntung, yang tidak mudah terbawa arus, untuk selalu berpikir dan waspada terhadap segala apa yang dirasakan oleh pacra indra maupun batin kita. 


Tema Sanggar Kedirian bulan Rajab kali ini bertema We Read-Ing Katresnan. Sebuah tema yang memiliki pemaknaan berlipat jika dibaca dengan ejaan inggris berarti “kita membaca” dengan ejaan Indonesia menjadi “wirid” serta ejaan Jawa pada kata terakhirnya dapat diartikan “berawalnya cinta”. Ada tiga kata kunci dalam tema tersebut yaitu: membaca, wirid dan cinta. Jika dirangkai dalam pengertian; Tidak ada satu pun manusia di dunia yang mengetahui tentang segala hal. Sehingga jika satu diantara kita ada yang mengetahui tentang satu hal, kemudian yang lain mengetahui satu hal yang lain. Akan ada nilai lebih tentang pembacaan makna kehidupan ini.


Terhadap sesuatu hal yang masih bisa dijangkau dengan ilmu dan akal, maka kita gunakan semaksimal mungkin akal pikiran kita untuk memahami hal tersebut untuk menyelesaikan persoalan yang kita hadapi. Tetapi jika dengan ilmu dan akal kita sudah tidak mampu menjangkaunya, maka kita gunakan iman. Caranya bisa dengan menyapa Allah dan Rasulullah untuk meneguhkan pijakan tauhid, sekaligus penyataan cinta kita kepada Rasulullah saw. melalui wirid dan sholawat.


Kegembiraan dalam kebersamaan di Sinau Bareng ini tidak mungkin tidak kita syukuri dan tentu saja terima kasih kita kepada Mbah Kiai Drs. Bustanul Arifin, M.Pd.I., yang selama 9 tahun lebih, sudah menanam benih-benih katresnan-nya guna menemani kita di Sanggar Kedirian dengan sangat setia. Semoga kebersamaan ini masih akan terus berlanjut. Aamiin.


Dengan begitu kita dapat belajar dari beliau bahwa nilai-nilai Maiyah bisa disebarluaskan, ditanam, diinformasikan dimana saja dalam spektrum yang beragam, dalam kondisi masyarakat kita masing-masing. 


Mlaku sak tekan-tekane... nyingkirake apa wae sing katon gemletak ora sak mestine ing pinggir utawa tengah ndalanapa wae sing isa mbebayani lakune liyan... Adalah? (isilah dengan pemaknaanmu sendiri).


Continue reading We Read-Ing Katresnan