Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reportase. Tampilkan semua postingan

Mengabdi Sebagai Hamba Allah yang Sejati

Reportase Rutinan Sanggar Kedirian 29 November 2024 dengan Tema Ngawulo Gusti


Konsep Ngawulo Gusti dalam ajaran Islam mengacu pada pengabdian diri sebagai hamba Allah yang sejati. Kata "Ngawulo" berasal dari kata "Kulo" yang berarti "aku" atau "saya", sehingga Ngawulo Gusti dapat diartikan sebagai menjadikan diri sendiri sebagai hamba Allah.

Untuk menjadi hamba Allah yang sejati, seseorang perlu memiliki sifat taqwa. Taqwa berarti takut kepada Allah dan senantiasa berusaha menjauhi larangan-Nya serta menjalankan perintah-Nya. Dalam kehidupan sehari-hari, ketaqwaan dapat diwujudkan melalui beberapa hal, antara lain:

  1. Menjalankan perintah Allah dalam segala aspek kehidupan: Ketaqwaan tidak hanya terbatas pada ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, dan zakat, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari hubungan dengan sesama manusia hingga dalam menjalankan tugas sebagai warga negara.

  2. Menjaga hubungan baik dengan sesama makhluk: Sebagai hamba Allah, kita diajarkan untuk berbuat baik kepada sesama manusia, menghormati hak-hak mereka, dan menghindari perbuatan yang dapat menyakiti hati orang lain.

  3. Menjadi warga negara yang baik: Ketaqwaan juga tercermin dalam sikap kita sebagai warga negara. Kita harus patuh pada hukum dan peraturan yang berlaku, serta ikut serta dalam membangun negara.

  4. Menjaga kesehatan: Kesehatan merupakan anugerah dari Allah yang harus kita syukuri dan jaga dengan baik. Dengan menjaga kesehatan, kita dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk dan menjalani kegiatan sehari-hari dengan lebih produktif.


Sebagai penutup acara rutinan Sanggar Kedirian kemarin, Bapak Bustanul Arifin memimpin doa bersama. Doa yang dipanjatkan tidak hanya sebagai penutup acara, namun juga mengandung harapan agar hasil Pilkada mendatang membawa kebaikan bagi Kota dan Kabupaten Kediri. Acara pun diakhiri dengan lantunan sholawat Asyghil.


(Redaksi Sanggar Kedirian)

Continue reading Mengabdi Sebagai Hamba Allah yang Sejati

Konsep Kemanusiaan dalam Ukhuwah Basyariah

Reportase Rutinan Sanggar Kedirian 1 September 2023 dengan Tema Memanusiakan Manusia

Tema Memanusiakan Manusia kali ini adalah tadabbur dari al-Barzanji attiril-6. Sekedar pengingat beberapa edisi yang lalu, Sanggar Kedirian mengangkat tema dari Maulid al-Barzanji. Apa yang dibahas berurutan mulai dari attiril-1, attiril-2, dst. hingga saat ini attiril-6. Insya Allah akan diteruskan attiril-attiril selanjutnya di edisi mendatang.

Satu persatu dulur-dulur mulai hadir. Saling tanya kabar dan kondisi masing-masing. Sejenak melepas lelah dari rutinitas sehari-hari. Menjalin ukhuwah antar penggiat Sanggar Kedirian setelah selapan tidak bertemu.

Acara dibuka dengan beberapa wirid. Tibalah saatnya pembahasan tema. Satu persatu dulur-dulur mulai mengemukakan pendapatnya. Berikut ringkasannya:

Kemanusiaan adalah konsep yang erat kaitannya dengan ukhuwah basyariah, yaitu hubungan antara makhluk berakal, atau lebih tepatnya, antara manusia. Dalam konteks ini, kita akan menjelajahi berbagai aspek kemanusiaan yang membentuk dasar dari hubungan sosial kita.

Kita, manusia, termasuk dalam kategori Bani Adam, yaitu anak turunan Nabi Adam. Sebagai makhluk berakal, kita memiliki tanggung jawab untuk menjalani kehidupan yang penuh makna.

Manusia disebut insan karena strukturnya berbeda, misal Nabi Adam, Nabi Syits, atau Nabi Isa diciptakan berbeda dengan manusia pada umumnya. Tidak sepantasnya meremehkan perbedaan ke-insan-an setiap individu.

Dalam masyarakat, kita dikenal sebagai An-nas, manusia sebagai makhluk sosial. Kita hidup dalam berbagai bentuk komunitas dan hubungan antarmanusia.

Kita adalah 'abdullah, hamba Allah. Ini adalah hakikat dari penciptaan kita, dan kita memiliki tanggung jawab untuk mengabdikan diri kepada-Nya.

Setelah mencapai kesadaran sebagai 'abdullah, langkah selanjutnya adalah menjadi khalifah, yaitu pemelihara. Setiap orang memiliki tingkat kekhalifahan yang berbeda-beda. Ada yang menjadi khalifah untuk diri sendiri, keluarga, atau bahkan masyarakat lebih luas.

Dengan pemahaman ini, kita dapat memperkuat ikatan kita sebagai manusia dan membangun hubungan yang lebih baik dalam ukhuwah basyariah.
Continue reading Konsep Kemanusiaan dalam Ukhuwah Basyariah

Sujudnya Muhammad: Menghayati Makna dalam Adzan

Reportase Rutinan Sanggar Kedirian dengan tema Sujudnya Muhammad, 23 Juni 2023


Di salah satu sudut kampus Universitas Tribakti, malam itu terasa begitu dingin. Namun, di tengah dinginnya udara, terdapat kehangatan yang memancar dari dulur-dulur Sanggar Kedirian. Mbah Bus mengawali pembahasan Barzanji kali ini dengan men-tadabbur-i adzan. Adzan dan iqomah merupakan kalimat ilahiyah pertama kali yang diperkenalkan kepada bayi agar potensi diri seorang bayi berkembang secara optimal.

Kalimat pertama dalam adzan adalah "Allahu akbar" yang berarti "Allah Maha Besar." Mbah Bus menjelaskan bahwa melalui kalimat ini, kita diperkenalkan pada hubungan vertikal yang menunjukkan kebesaran Allah. Dalam kesederhanaan ungkapan ini, kita disadarkan akan keagungan dan kekuasaan-Nya yang melingkupi segala sesuatu.

Mbah Bus juga mengungkapkan pemahamannya tentang kalimat-kalimat lain dalam adzan. "Syahadat kepada Allah" adalah kesaksian akan keesaan-Nya, sedangkan "Syahadat kepada Kanjeng Nabi Muhammad sebagai utusan Allah" adalah pengakuan akan peran dan kepemimpinan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah yang terakhir.

Selanjutnya, Mbah Bus menyoroti kalimat "Hayya 'alassholah" yang mengajak kita untuk datang kepada sholat. Dia menjelaskan bahwa kalimat ini mengingatkan akan pentingnya menjaga keteraturan dalam menjalankan kewajiban kita. Sholat merupakan bentuk ibadah yang memiliki makna yang mendalam dan memerlukan kedisiplinan dalam melaksanakannya.

Mbah Bus juga memaparkan pesan di balik kalimat "Hayya 'alal falah" yang mengajak kita untuk mencapai kesuksesan. Namun, dia menegaskan bahwa dalam mencapai kesuksesan, kita tidak boleh melihat orang lain sebagai pesaing, melainkan sebagai mitra dalam perjuangan menuju kemenangan bersama.

Kalimat terakhir dalam adzan, "La ilaha illallah," menurut Mbah Bus, mengajarkan bahwa kemenangan sejati hanya dapat terwujud melalui konsensus bersama untuk meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Ini adalah prinsip tauhid yang menjadi dasar utama dalam ajaran Islam.

Mbah Bus juga mengingatkan bahwa meskipun Nabi Muhammad memiliki derajat yang tinggi, beliau tetap menyadari posisinya sebagai seorang 'abdu (hamba) Allah. Hal ini menggambarkan rendah hati dan kesadaran akan keagungan Allah.

Kang Zakaria menambahkan penjelasan perihal sujud. Sujud dalam sholat merupakan wahana untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Dalam sujud, kita bisa mencapai taqarrub ilallah (kedekatan dengan Allah) dengan memahami dan menghayati makna "wasjud waqtarib" (sujud dan mendekatlah).

Kang Zakaria lalu mengutip pemikiran dari Imam al-Ghazali. Menurutnya, sujud adalah momentum terdekat seorang hamba dengan Tuhannya. Imam al-Ghazali juga menjelaskan bahwa orang yang mampu menikmati manisnya sujud akan merasakan kedekatan yang kuat dengan Allah. Dalam sujudnya, mereka melampaui jarak dan memahami keagungan Allah.

Kang Zakaria juga menekankan bahwa ciri-ciri sholat yang diterima adalah pelakunya tidak hanya menghindari maksiat, tetapi juga benar-benar tidak menyukai maksiat tersebut. Ini menandakan bahwa seseorang telah mencapai tingkat kesucian dan ketakwaan yang tinggi.

Adzan bukan hanya sekadar panggilan untuk sholat, tetapi juga mengandung pesan-pesan yang mendalam dan bermakna bagi kehidupan seorang Muslim. Dengan men-tadabbur-i adzan yang mendalam, kita dapat memperoleh kebijaksanaan dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya dalam setiap sujud kita.


Continue reading Sujudnya Muhammad: Menghayati Makna dalam Adzan

Al-barzanji Aththiril-3

Catatan Rutinan Sanggar Kedirian, 19 Mei 2023 


Pada rutinan bulan lalu, kita telah membahas Al-barzanji Aththiril-1 berlanjut Aththiril-2. Edisi kali ini merupakan series dari tema bulan lalu. Apakah akan dilanjutkan sampai Aththiril-19? Wallahu A'lam. 


Aththiril-3 berisi segala suasana menjelang kelahiran Nabi Muhammad. Kelahiran Nabi yang sudah dinanti oleh seluruh makhluk. Kaum Jin berbahagia, tumbuh-tumbuhan berbuah dengan lebatnya, hewan-hewan yang dapat berbicara dengan fasih. Sementara manusia terbagi menjadi dua. Ada yang mengharapkan kelahiran Nabi sebagaimana kaum yang mengimani kitab terdahulu. Ada pula yang menyangkal kelahirannya sebagaimana Raja Abrahah yang tidak mau tertandingi kekuasaannya di Jazirah Arab. 


Informasi tentang kelahiran Nabi ini berasal dari kitab-kitab dan shuhuf-shuhuf terdahulu. Juga dari kegelisahan zaman yang ditandai dengan tidak adanya pembaharu sejak zaman Nabi Isa diangkat ke langit. 



Pembahasan beranjak ke Sholawat Asyghil. Mbah Bus mengibaratkan Sholawat Asygil sebagai "gaman" agar kita tidak sampai didholimi oleh orang lain. Oang Jawa biasa menyebutnya "sluman-slumun-slamet". 


Seperti biasa, dalam sinau bareng selalu ada sesi tanya jawab. Kang Gatot bertanya tentang mukjizat. Jawaban Mbah Bus ialah mukjizat biasanya datang saat seseorang mengalami ketidakberdayaan, sangat pasrah, tentunya dengan didahului oleh usaha, eling lan waspada. Insya Allah akan di-ijabahi keinginannya. Itulah mukjizat. 


Pembahasan beralih ke topik nasab, sebuah topik yang sering dibicarakan di media sosial akhir-akhir ini. Sebagaimana nasab Sayyid Abdullah dan Sayyidah Aminah yang masih saudara, sebenarnya kalau dirunut kita masih mempunyai kemungkinan saudara. Akan tetapi sejak pemerintahan kolonial berkuasa, tepatnya pasca-Perang Diponegoro, semua catatan nasab Bangsa Indonesia ditiadakan.


(Redaksi Sanggar Kedirian) 
Continue reading Al-barzanji Aththiril-3

Satukan Tujuan, Sampingkan Identitas Kedaerahan

Reportase Majelis Masyarakat Maiyah Sanggar Kedirian Tema Stadium Kanjuruhan, 21 Oktober 2022.

Oleh: Arsuma Wisnu


Kegiatan rutinan Majelis Masyarakat Maiyah Sanggar Kedirian pada hari Jum'at, 21 Oktober 2022 berhasil dilaksanakan dengan lancar di Kampus IAI Tribakti Kota Kediri. Rutinan ini merupakan sebuah bentuk penghayatan untuk mencari dan merumuskan tentang apa yang terjadi terhadap sebuah perkembangan ilmu pengetahuan, kondisi sosial masyarakat, serta berperan menentramkan seluruh umat dan seluruh alam.

Tema rutinan mengangkat tentang "Stadium Kanjuruhan" dimana makna pada tema ini bukan hanya tentang bangunan/fisik yang digunakan untuk acara olahraga, akan tetapi jika kembali diresapi adalah bagaimana tentang tingkatan dalam daur hidup/perkembangan suatu proses.

Belasungkawa sedalam-dalamnya terhadap korban yang tidak bersalah, semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Dengan apa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, 1 Oktober lalu, semoga menjadi yang terakhir.

Ini adalah momen bagi seluruh umat untuk bersatu. Sampingkan identitas kedaerahan yang selama ini telah memecah belah kita semua, satukan tujuan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Dengan kita bersatu, semua ujian yang akan dihadapi pada tingkatan yang lebih berat dan tidak mudah akan menjadi lebih mudah untuk dicarikan jalan keluar alternatif terbaik.
Continue reading Satukan Tujuan, Sampingkan Identitas Kedaerahan

Ganteng Renteng

Catatan singkat rutinan Sanggar Kedirian dengan tema Gandeng Renteng

Sejenak berfikir bersama tentang kehidupan dan bangsa, puluhan jamaah Maiyah kemarin malam Sabtu Legi berkumpul, bersholawat, berdiskusi, berdoa bersama di sudut ruang kampus IAI Tribakti, Kota Kediri.

Dalam kesempatan kali ini, mengusung tema "Gandeng Renteng," sebuah tema yang cukup menarik jika dikaitkan dengan kehidupan manusia, kondisi bangsa saat ini, dan lain sebagainya. Dalam situasi kondisi bangsa yang tidak menentu seperti sekarang ini, berkumpul bersama dan berfikir bersama sangatlah diperlukan dengan harapan dan tujuan agar tercapai sebuah pemikiran yang tepat, sehingga langkah yang diambil pun akan tepat pula.

Dalam acara ngumpul bareng tersebut, dulur-dulur jamaah Maiyah juga ditemani seorang pagar keilmuan sekaligus dosen di IAI Tribakti, dan juga seorang budayawan yang cukup kompeten di bidangnya, yaitu KH. Bustanul Arifin.

Sesi demi sesi telah dilalui dan tak terasa waktu sudah larut malam, hingga acara pun diakhiri dengan mahallul qiyam dan doa oleh Pak Bustanul Arifin. Semoga acara tersebut bermanfaat bagi semua. Amin.

(Hartono Basingkem)

Continue reading Ganteng Renteng

Keistiqomahan di Tengah Keterbatasan Pandemi Covid-19

Reportase rutinan Sanggar Kedirian "Tan Kena Kinaya Ngapa", 29 Mei 2020


Udara dingin Desa Kelutan tak berhenti datang menghampiri. Hembusannya datang dengan sepoi-sepoi. Merasakannya kadang membuat bulu kuduk berdiri. Namun, membuat rasa tenteram di hati.

Malam itu, tepat malam Sabtu Legi, Pak Bustanul 'Arifin mengundang dulur-dulur Sanggar Kedirian (SK), Tasawwuf Cinta (TC), Kiai Bagus, Ki Anom Kusumo untuk menyelenggarakan acara rutinan di ndalem beliau. Berbeda dengan rutinan biasanya yang digelar di Taman Hutan Joyoboyo atau dua bulan sebelumnya yang dipindahkan ke Kampus Tribakti karena kondisi pandemi.

Meski masih berada dalam kondisi pandemi Covid-19 yang melarang perkumpulan massa, toh kegiatan ini tetap istiqomah dijalankan. Tampaknya, penggiat Sanggar Kedirian memang memilih tetap menjalankan keistiqomahan daripada ikut arus berita yang terkadang tidak sesuai dengan kenyataan.

Acara dimulai, Kang Hartono sebagai moderator mengajak para hadirin untuk membaca surat al-Fatihah. Hajat paling utama ditujukan kepada mertua Pak Bus yang sehari sebelumnya meninggal dunia. Jadi selain rutinan, acara kali ini juga dalam rangka takziyah sekaligus syawalan. Tiga hajat dalam satu acara.

Tahlilan dipimpin oleh Kang Tholib. Dilanjutkan membaca wirid "Duh Gusti" bersama-sama. Di sela-sela pembacaan wirid, Kang Hartono membacakan puisi yang telah dikarangnya.

Mengawali sinau bareng, Kang Hartono meminta para hadirin untuk menyampaikan apa yang sedang dialaminya, terutama dalam menghadapi kondisi pandemi Covid-19. Satu per satu hadirin dari SK maupun TC bergantian menyampaikan kondisinya. Tak jarang cerita berubah menjadi curhatan.

Kang Rifa'i mulai menyampaikan kondisinya. Aktivitasnya dalam pengeboran sumur tetap berjalan seperti biasa. Air tetap menjadi kebutuhan primer, tak peduli masa pandemi. Kang Rifa'i yang biasa dipanggil Bang Djoni ini juga punya aktivitas lain. Kepiawaiannya dalam memainkan keyboard dan organ tunggal dalam keadaan normal sering diminta mengisi event. Namun, larangan pengumpulan massa merubah job menjadi sepi.

Sementara itu, Makdhe Girin menceritakan aktivitasnya selama pandemi Covid-19. Sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap kebersihan di ATM, Makdhe mempunyai ceritanya sendiri. ATM sering dianggap sebagai tempat yang rawan dalam penyebaran penyakit Covid-19 karena di dalam suatu bilik kecil yang bermacam-macam orang bergantian memasukinya. Sama juga dengan uang yang dianggap sebagai salah satu sarana sebaran Covid-19 karena dipegang oleh banyak orang. Ada orang yang saking hati-hatinya membuka pintu ATM dengan menggunakan sikut. Adalagi cerita orang yang menyemprot uangnya dengan hand sanitizer setelah keluar dari mesin ATM.

Pria bernama asli Budi Santoso ini berpendapat bahwa seharusnya kita jangan terlalu takut kepada virus Covid-19. Imun terbentuk ketika kita tidak takut. Jika imun kuat, Covid-19 yang takut pada kita.

Berbeda dengan Makdhe Girin, Kang Roy menyampaikan apa yang dialami di desanya. Penggiat SK yang dipercaya oleh warganya menjadi pamong desa ini bercerita bahwa pada kenyataannya penanganan Covid-19 benar-benar berbeda dengan protokol Covid-19 yang diberitakan. Covid-19 diberitakan secara wah dengan segala macam protokolnya. Pada kenyataannya, protokol itu tidak didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai.

Memang sebaiknya dalam melihat berita harus pintar-pintar melihat bagaimana kenyataannya. Setidaknya dengan adanya Covid-19 ini orang-orang menjadi lebih sadar bahwa berita di media massa terkadang tidak sesuai dengan kenyataannya.

Sebagai moderator, Kang Hartono menengahi. Dalam menghadapi apapun termasuk pandemi ini, tidak semestinya terlalu takut juga harap hati-hati jangan menjadi takabbur. Berkaitan dengan mata pencaharian yang terpengaruh, yakinlah tetap ada jalan. Menyitir apa yang berkali-kali dipesankan oleh Pak Bus, "Boleh pasrah tapi jangan berputus asa."

Diskusi semakin hangat. Petikan gitar Kang Gatot "Ndrengez" membawakan lagu "Tan Kena Kinaya Ngapa" menambah hangatnya suasana. 

"Tan kena kinaya ngapa"

"Manungsa isane ngreka lan njangka"

"Mula aja nganti ndhisiki kersa"

"Supaya lakumu ora rekasa"


Jika dulur-dulur penasaran dengan lagunya, langsung saja klik linknya https://youtu.be/RWtaBScfcig. Saat reportase ini ditulis, tak kurang dari 2.000 pengguna Youtube sudah mendengarkan lagu ini.

Suara Kang Gatot mampu membangkitkan simpul-simpul saraf yang sempat tak terfokus. Kini tiba saatnya memfokuskan pikiran guna menyerap apa saja ilmu-ilmu yang akan di-wedar-kan oleh Pak Bus.

"Surat al-Baqarah ayat 286, itu adalah ayat rahman. Ayat yang penuh berkah yang ketika turun ayat itu Nabi Muhammad sujud berkali-kali. Ayat yang memberikan motivasi besar dalam kehidupan. Laa yukallifallahu nafsan illa wus'aha. Jadi, gak usah kuatir. Apapun yang dilakukan manusia sudah terukur dengan kemampuan." Pak Bus mengawali wedaran-nya.

Lebih lanjut, Pak Bus juga menyampaikan tadabbur surat al-Mu'minun ayat 78. "Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati (fuad). Amat sedikitlah kamu bersyukur." Pendengaran lebih bisa menangkap banyak informasi dalam waktu yang sama daripada penglihatan. Misalnya saat kita berdiam diri di rumah. Informasi yang ditangkap oleh penglihatan adalah barang yang ada di rumah itu. Namun, pendengaran bisa menangkap informasi suara tetangga yang punya 3 hajatan sekaligus. Tetangga sebelah ada tahlilan, yang agak jauh ada mantu, desa sebelah nanggap ludruk. Itu semua bisa diterima oleh pendengaran dalam satu waktu.

Masih di surat al-Mu'minun ayat 78. Informasi bisa diterima dalam bentuk apa saja. Tetapi, karena pengalaman, daya, cipta manusia berbeda menghasilkan pendapat yang juga berbeda.

"Neng ndunyo piro suwene, paribasan mung mampir ngombe," pesan Pak Bus mengingatkan. Kehidupan dunia itu tidak lama akhir episodenya. Wayang itu rame saat palagan, kalau dhalangnya sudah tancep kayon ya sudah berakhir.

"Abot anak ketimbang telak. Wis aku rapopo rekasa sing penting anakku kepenak." dawuh Pak Bus mengakhiri wedaran-nya.

Continue reading Keistiqomahan di Tengah Keterbatasan Pandemi Covid-19

Mereka yang Ndhedher Angin dan Ngunduh Badai

Reportase Rutinan Sanggar Kedirian "Ngunduh Wohing Pakarti, 14 Februari 2020


Sanggar Kedirian (SK) adalah  suatu wadah untuk menempa diri. Bagaimanapun keadaannya rutinan harus berjalan. Dengan fasilitas atau tidak, kesempatan bertemu selapan sekali harus diistiqomahi sebagai media berbagi ilmu, kebijaksaan, dan kebahagiaan.

Sebagaimana yang dilakukan Mas Adi malam itu. Dia selalu berpesan "hore" dalam banyak kesempatan. Menurutnya dengan ber-hore segala kerisauan akan dibereskan sendiri oleh Allah. Metodenya seperti ini: sebelum bertawasul, lupakan dulu semua masalah yang ada; bayangkan sesuatu yang indah-indah; bisa pantai, pegunungan atau bayangan indah lainnya. Jika visualisasinya sudah selesai baru dimulai tawasulannya. "Sudah (membaca) alhamdulillah masak susah," begitulah kata Kang Adi menularkan energi kegembiraannya.


Barangkali karena ketularan energi dari Mas Adi, Kang Tri Wibowo membawakan lagu ciptaannya sendiri yang diberi judul "Sinau". Uniknya, lagu ini di-mix dengan lagu anak-anak yang bunyinya begini:

//Ayo kanca dolanan ning jobo//Padhang mbulan padhange kaya rina//Rembulane sing awe-awe//Ngelingake ojo turu sore-sore//

Penasaran ingin dengar lagunya? Monggo bisa klik disini  https://youtu.be/gytBmHK8NRw.


Ndhedher dan Ngunduh Wohing Syukur

Sedulur-sedulur yang datang ke rutinan SK mayoritas anak muda dan cowok. Tapi malam itu seorang ibu rumah tangga ditemani oleh suaminya ikut melingkar bersama. Dialah Bu Ema dan Pak Sugeng. Perjalanan mereka sangat panjang dan patut dipotret sebagai pembelajaran bagi kita yang masih muda. 

Tunggu edisi khusus tentang reportase perjalanan mereka! Sekarang lebih baik mari kembali ke reportase rutinan ini. 

Adalah Kang Ali, sedulur SK spesialis belakang layar, pada malam itu turut urun rembug. Bisa mendengarnya berpendapat di forum besar adalah kelangkaan yang hanya bisa disamai dengan jumlah badak bercula satu. Ia sedikit membagikan pengalam tentang kegiatan pelestarian alam; bersama lingkar LJR  mengupayakan reboisasi dan menebar bibit ikan di beberapa titik yang bisa dijangkau. "Orang-orang sering mengaji, wudhu menggunakan air suci. Namun tak pernah dibahas dan diupayakan bagaimana agar terus dapat air bersih sampai generasi berikutnya. Salah satu tujuan tanam pohon ya untuk ini," jelas Kang Ali mantap.


Dari sisi lain, Kang Zainuri berpendapat bahwa ngunduh tidak selalu berupa woh (buah). Tanaman pisang, misalnya, sudah bisa diambil hasilnya meski belum berbuah; daun, ontong, pelepah. 

Mas Adi menimpali dengan petuah-petuah motivasinya:

  1. Agar pakarti sehari-hari tetap positif tipsnya ialah, saat bangun tidur membaca Alhamdulillah kemudian dalam hati ditanamkan untuk siap senang "hore" untuk diajak outbond seharian oleh Gusti Allah;

  2. Tips selanjutnya agar pakarti tetap positif ialah mengatur pakarti dalam bersosmed, utamanya Facebook. Akun Facebook yang selalu membagikan postingan negatif, lebih baik diblokir saja. Bangun tidur sudah diawali dengan Alhamdulillah dan bahagia, masak harus lenyap begitu saja hanya karena Facebook-an.


Benang merah dari beberapa pendapat di atas ialah ada tidaknya unduhan yang bisa diambil dari sebuah proses tergantung cara penyikapan terhadap suatu hal. Apakah bisa mengambil hikmah kemudian bersyukur atau justru tidak mendapat apa-apa? 

Namun dalam Surat Ibrahim ayat 7 disebutkan, lainsyakartum la azidannakum wa lainkafartum inna adzabi lasyadid. Menurut Pak Bus bisa diartikan: terlambat bersyukur dapat mengakibatkan kesalahan, itulah yang biasa disebut kufur.


Kemudian Pak Bus mulai menerangkan makna "Ngunduh Wohing Pakarti". Ngunduh (download). Wohing dari akar kata woh yang artinya adalah hasil, sementara pakarti dari kata karto yang artinya menang besar-karena diakhiri -i menjadi kemenangan kecil.

Sementara makna secara istilahi-nya oleh Pak Bus dipadu-padankan dengan pepatah lama, "Siapa yang menabur angin, akan menuai badai." Artinya, tema malam ini sama dengan hukum sebab akibat yang akan terus berlanjut. Misalnya ketika saat disakiti orang lain namun tidak membalas, barangkali dengan itu membuat kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan akan ditutupi oleh-Nya. Amin.


Continue reading Mereka yang Ndhedher Angin dan Ngunduh Badai

ROMANTISME ORGANISME SANGGAR KEDIRIAN

Reportase Rutinan Sanggar Kedirian "Problem Solving Organisme" 10 Januari 2020


Adzan Maghrib berkumandang, memanggil-manggil untuk segera mendirikan sholat tiga rokaat. Di sisi lain adzan tersebut mengingatkan untuk segera bersiap-siap bergegas menuju area Taman Hutan Joyoboyo Kota Kediri yang kebetulan saat itu hari Jumat malam Sabtu Legi bertepatan jadwal rutinan Sinau Bareng Majelis Masyarakat Maiyah Sanggar Kedirian edisi tanggal 10 Januari 2020. Bersamaan dengan suara iqomah, tiba-tiba hujan turun membawa berkahnya berupa curahan air yang melimpah, seakan tumpah-ruah dari langit.


Terlihat wajah-wajah yang pasrah. Peralatan sound system, kompor, alas karpet dan lainnya yang terlanjur diturunkan dari kendaraan terpaksa ditutupi dengan menggunakan lembaran banner Sanggar Kedirian. Betapa tidak khawatir hatinya Kang Asrul, Kang Ilham dan beberapa sedulur SK karena peralatan tersebut basah kuyup. Namun apa daya, hujan yang semakin deras memaksa mereka untuk menikmati dingin sembari  berbasah-basahan. Meski telah menepi mencari tempat berteduh seolah derasnya air hujan tidak mau ditinggalkan dan memeluk mereka dengan cipratan-cipratan air lembutnya.


Sementara beberapa sedulur SK lainnya yang berencana berangkat seusai sholat Maghrib, mengabarkan bahwa belum bisa berangkat ke Taman Hutan Joyoboyo. Hujan mulai berkurang curahannya setelah Isya'. Kesempatan ini dimanfaatkan mereka untuk memacu sepeda motor menembus belaian lembut sang hujan.

Adalah Hartono, beserta anak bungsunnya yang masih kelas tiga SD yang pertama kali masuk di Musholla Taman Hutan Joyoboyo. Mereka kemudian langsung memasang banner tema Sanggar Kedirian “Problem Solving Organisme". Sementara ubo rampen lainnya baru cemepak pada pukul 21.15 WIB. Artinya molor satu jam lebih dari rutinan-rutinan sebelumnya. Mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa menyalahkan mekanisme organisme Tuhan. Yang bisa dilakukan hanya mengikuti aliran-Nya.


Begitu juga kesadaran positioning sedulur-sedulur Sanggar Kedirian yang langsung mengambil perannya masing-masing; tidak ada yang memerintah atau pun meminta. Mereka memberikan fungsi dirinya sesuai dengan kemampuan masing-masing; Kang Toma dan Kang Tomy yang paham elektronik memberikan tenaga fikirannya serta membawa perangkat sound system, Kang Dion menginfakkan tenaga pikirannya untuk membikinkan teh hangat dan kopi pelepas kantuk. Begitu juga yang lain, ada yang mengurusi infak pinjam Ndhedher untuk permodalan, ada yang mengurusi infak kas rutinan, yang suka musik memberikan hiburan sholawatan dan masih banyak lainnya. Aliran-aliran yang dilakukan sedulur-sedulur SK ini menjadi semacam romantisme perjalanan sehingga menjadi bahasan tema rutinan kali ini "Problem Solving Organisme”.


Lantas, apa itu Problem Solving Organisme?

Menurut Mas Rida, organisme adalah suatu kumpulan dari beberapa organ yang berkumpul dan bekerjasama. yang diupayakan untuk kerjasama. Kang Fathur menambahinya dengan menganalogikakan organ tubuh manusia yang mempunyai tugas masing-masing dan saling bersinergi meski tidak ada komando yang ditunjuk secara resmi. "Begitulah cara kerja organisme!" tegasnya. Mas Naufal dari Paseban Majapahit kemudian mencontohkannya dengan organisme semut.

Sementara menurut Cak Kan, dengan memakai cara pandang organisasi untuk melihat problem solving dalam organisme, pemimpin dalam sebuah organisasi yang telah ditunjuk harus tahu dan bertanggung jawab pada yang dipimpinnya. Itu sah-sah saja. Meski dalam organisme yang selama ini kira pahami, semua orang bertanggung jawab pada dirinya sendiri terlebih dahulu. Dari situ muncul istilah yang populer di kalangan penggiat Maiyah Sanggar Kedirian: tiada yang bisa kita tagih selain diri sendiri.


Jika kita bisa nanthing diri sendiri dan sudah sumeleh dengan kehendak-Nya, niscaya  masalah sebesar apapun tidak menjadi soal, begitu kata Mas Adi. Ia juga tak lupa mengingatkan untuk terus wiridan dan sholawatan agar bisa mengetahui kehendak Allah.

Allahu Allahu//Ya Rabbi Shalli Ala Mukhtar Thibbil Qulub... Menjadi salah satu kunci untuk mengetahui momentum kapan mencair, memadat, menguap, juga bertumbuh-kembang, sebelum akhirnya membusuk dan kembali kepada-Nya.

Dalam proses pembusukan tersebut, menurut Mas Andry, ada yang masih bisa digunakan dan ada yang harus dibuang karena mengandung racun. Keduanya bisa diketahui dengan mudah jika kita mengetahui permasalahan organisme. Dan jika mau memecahkannya atau menjadi problem solver, maka alangkah lebih baiknya jika meneladani Kanjeng Nabi yang sanggup mempersaudarakan kaum Ansor dan Muhajirin.


Namun satu hal yang harus kita tanamkan sebelum jauh-jauh membahas bagaimana menjadi problem solver dari organisme; pertama kita harus mengidentifikasi diri; di posisi manakah diri kita dalam sebuah organisme?

Continue reading ROMANTISME ORGANISME SANGGAR KEDIRIAN

Menjalani Lelaku Kehidupan dengan Kesadaran Sami'na wa Atha'na

Reportase Sanggar Kedirian 6 Desember 2019


Saat Mas Sabrang dengan gaya retorika ala filsuf sedang membedah eskalasi kompleksitas yang mesti disadari oleh Simpul Maiyah yang hadir pada Silatnas Maiyah 2019, di Musholla Taman Hutan Joyoboyo, sedulur-sedulur Sanggar Kedirian, tengah menyinauni "Lika-Liku Lelaku". 

Ya, kebetulan rutinan Sanggar Kedirian pada Malam Sabtu Legi 7 Desember 2019 berbarengan dengan Silatnas Maiyah yang diselenggarakan di Semarang. Secara kebetulan juga saat Silatnas Maiyah tengah membahas complexity kahanan saat ini, Pak Bustanul Arifin tengah mentadabburi al Baqarah ayat 284-286-yang intinya adalah Al-Qadir tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Terakhir, satu contoh kebetulan lainnya ialah pada malam hari saat pembahasan lakuning urip seseorang sudah diatur oleh Sang Dalang, esoknya Mbah Nun menambahi, "Anda memasuki kompleksitas dengan trust. Yakni bukan hanya Anda berusaha percaya kepada Allah, tetapi juga bagaimana Anda harus membuktikan bahwa Anda dapat dipercaya oleh Allah." Seolah-olah semua kebetulan tersebut saling berkaitan meski dipisahkan ruang dan waktu. Jangan-jangan, seperti inikah sistem koordinasi organisme Maiyah?

Pertanyaan itu tidak perlu saya jawab di sini. Bagi yang sempat membacanya silahkan merenungkan jawabannya sendiri. Sekarang mari kita lanjutkan kembali reportasenya. Dimulai dengan tanggapan dari beberapa sedulur Sanggar Kedirian.


Kang Zainuri: kalau sudah diniati, maka tidak akan ada lika-liku lagi.

Mas Andri: tidak ada makhluk di dunia ini yang tidak diuji. Semua diuji dengan kapasitasnya masing-masing. Kalau tidak percaya mengapa Kanjeng Nabi sesampainya berjumpa Allah dan Bima setelah bisa masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci disuruh kembali ke dunia lagi? Artinya, tugas kekhalifahan di bumi belum selesai dan tidak boleh ditinggalkan. Semua harus dihadapi meski kadang tak semulus yang kita harapkan.


Seorang sedulur dari Pati: bercerita mengenai lika-liku kehidupannya yang pernah menjadi pemulung.

Kang Lathif: turut urun cerita perjalanan hidupnya hingga sampai aktif rutinan Sanggar Kedirian. Menurutnya, iklim paseduluran yang dibangun di Sanggar Kedirian tidak menganggap rendah orang yang baru masuk. Semua sama dan dianggap seperti saudara sendiri.


Lik Hartono: sebelum menanyakan perbedaan antara lelaku dengan aurad sempat bercerita sedikit mengenai kehidupannya yang sangat berlika-liku. 

Pak Bustanul Arifin kemudian menerangkan arti lelaku-yang tidak sama dengan pengertian kebanyakan orang karena beliau belajar Bahasa Jawa dari wejangan orang tua. Lelaku berasal dari kata laku. Laku berasal dari perkataan "loh itu aku", seperti itulah aku. Setiap orang memiliki kekhasan masing-masing. Ibarat penjahit satu dengan penjahit lainnya yang mempunyai teknik memasang kancing baju yang berbeda. Manakah yang paling benar? Entahlah. Yang penting tujuan dari adanya kancing baju tersampaikan, ya tidak masalah. 


Itu makna laku menurut othak-athik kebahasaan ala Pak Bustanul Arifin. Sementara lelaku secara sosio-culture dapat dimaknai sebagai syarat agar kita dapat melakukan "lakon" dengan baik. Kalau tidak tahu syarat suatu lelaku maka bertanyalah pada yang lebih mengetahui. Di sinilah posisi aurad itu-sebagai salah satu syarat dalam lelaku.

Lebih lanjut, Pak Bustanul Arifin bercerita, "Saya pernah sowan kepada seorang Kiai bersama teman-teman saya. Ada 5 orang dengan kasus yang sama. Diberi aurad yang berbeda-beda. Ada yang diberi aurad puasa 7 hari dengan berbuka tiap harinya berkurang satu kepel nasi. Hari pertama 7 kepel, kedua 6 kepel dan seterusnya. Tiba saatnya saya diberi aurad hanya perintah bersholawat saja. Tetap boleh makan." Kalau tujuannya menggak-menggok, tentu akan bertanya lagi, "Mbah Yai, kenapa tidak seperti teman saya? Seumpama ditambahi masih kuat kok."


Jika kita langsung mantep nglakoni, maka sebenarnya tidak pernah ada lika-liku. Semua yang sudah, yang sekarang, yang belum, dan yang akan kita kerjakan sesungguhnya selalu diberikan petunjuk oleh Allah. Tinggal kita mau atau tidak menjemputnya sembari matur, "Wa qalu sami'na wa atha'na," sendika dawuh, Gusti.

(Zakaria)

Continue reading Menjalani Lelaku Kehidupan dengan Kesadaran Sami'na wa Atha'na

Seperti Tempe, Manusia Juga Terus Berproses untuk Mengetahui Dirinya

Reportase Rutinan Sanggar Kedirian “Tahu ke-Diri” 1 November 2019


Malam itu, sampai dengan pukul 20.30 WIB yang berkumpul hanya sekitar sepuluh orang. Sebagai penggiat, tentu ada rasa khawatir juga. Bagaimana jika nanti sinau bareng hanya diikuti oleh beberapa orang saja? Meski jumlah orang bukan patokan keberhasilan dan rutinan sinau bareng tetap akan dilaksanakan, namun terlalu sedikit yang datang juga perlu menjadi bahan evaluasi.

Untungnya setengah jam kemudian banyak yang datang berbondong-bondong. Mereka langsung bergabung, melingkar bersama sedulur yang lain. Diskusi pun semakin semarak dan hangat setelah pemanasan “adu dengkul” yang digawangi oleh Kang Har.

Tamu dari Ndalem Pojok turut hadir pada malam itu. Ndalem Pojok pernah menjadi saksi kehidupan Soekarno. Sewaktu kecil beliau pernah hidup di situ. Rumah yang pernah ditempati Soekarno sekarang menjadi situs bersejarah dan menjadi wadah berkegiatan lintas komunitas. 

“Saya menemukan tempat diskusi dimana orang-orangnya rendah hati,” ucap Mas Kusno, selaku perwakilan dari Ndalem Pojok. “Inilah perbedaan sinau bareng dengan diskusi pada umumnya. Di sini tidak ada yang memaksakan kehendaknya.”

“Memang benar. Orang-orangnya rendah hati. Saya harus mesti belajar tahu diri. Belajar mengetahui diri sendiri dulu sebelum mengetahui orang lain,” timpal perwakilan Ahmadiyah yang turut datang bersama Mas Kusno. Ia selalu mengawali dan mengakhiri pendapatnya dengan salam. Barangkali karena ia adalah seorang muballigh Ahmadiyah yang tahu diri. Beliau sadar berbeda dengan yang lain. 


Perbedaan tidak perlu dirisaukan, apalagi sampai dilabeli sesat. Simbah kita mengajarkan untuk menampung semua perbedaan yang ada, kemudian mengeksplorasinya hingga menemukan titik ketersambungannya dengan Tuhan. 

Dan tidak hanya perbedaan saja yang dieksplorasi, kemampuan diri adakalanya juga harus dieksplorasi, begitu dawuh Pak Bustanul Arifin. Tujuannya agar kita tahu ke-diri; artinya tidak hanya sadar kesalahan dan kekurangan melainkan juga sadar dengan potensi yang ada pada diri kita. “Kalau mau tahu diri baca surat Thoha!” Tegas Pak Bustanul Arifin.


Beliau kemudian mengeksplorasi pemaknaan unen-unen “isuk dele sore tempe”. Selama ini rura basa tersebut dikonotasikan negatif. Pak Bustanul Arifin kemudian mengembalikan denotasinya: hidup itu yang diharapkan selalu ada perubahan. Seperti proses kedelai menjadi tempe yang melalui peragian. Ragi, dalam Bahasa Jawa, sama dengan regi, artinya sesuatu yang berharga. Seseorang yang terus-menerus mengolah dirinya akan menjadi berharga. Ibarat kedelai berubah menjadi tempe. Tempe lama-kelamaan juga akan mengalami perubahan menjadi tempe bosok. Seseorang yang sudah berharga akan mengalami fitnah. Maka tempe bosok diolah lagi menjadi sambel tumpang agar kembali bermanfaat. Nah, biasanya sambel tumpang dilauki tahu karena tahu tidak bakal berubah. Di situlah manfaat tahu (ke-diri).

Sekian.

Continue reading Seperti Tempe, Manusia Juga Terus Berproses untuk Mengetahui Dirinya

Maaf, Riyayan-nya di Youtube Saja

Reportase Rutinan Sanggar Kedirian “Niti Priksa Lampah” 23 Agustus 2019

Rutinan sinau bareng yang bertepatan dengan nengeri kelahiran Sanggar Kedirian yang ketujuh sudah berlangsung beberapa bulan lalu. Namun reportasenya baru kukerjakan sekarang. Jadi kalau ada nuansa yang tidak tepat, maafkanlah. Mau bagaimana lagi, saat menulis ini aku mengalami sendiri ngendikane Mas Sabrang soal kata (bahasa) yang mempunyai limitasi.

Acara malam itu benar-benar terlampau memukau untuk dipotret lewat tradisi tulis. Bayangkan; para penggiat bersengaja masani rutinan malam itu sejak jauh-jauh hari; panitia acara sejak sore sudah bersiap-siap, tak sampai satu jam kemudian acaranya dimulai-tumpengan, sholawatan, menyanyikan 3 stanza Indonesia Raya, pencak silat, pembacaan puisi, pemutaran video perjalanan Sanggar Kedirian, dilanjut dengan video dari Mas Sabrang dan Lik Ham- dan semua hal itu terlampau memukau untuk dituliskan, maka, lebih baik langsung menonton video “Niti Priksa Lampah” di channel youtube Sanggar Kedirian. Rasakanlah sendiri riyayan ala Maiyah.

Continue reading Maaf, Riyayan-nya di Youtube Saja

Bacalah!

 


Reportase Sanggar Kedirian 10 Mei 2019

Lantunan Doa Tahlukah, Hizb Nashr, dan wirid Thibbil Qulub sebagai pembuka rutinan malam itu. Meski hampir tidak terdengar karena tenggelam oleh ramainya kendaraan yang berlalu lalang, namun tidak menyurutkan semangat sedulur Sanggar Kedirian untuk melingkar di lokasi baru: Taman Hutan Jayabaya.

Setelah wirid selesai, Kang Adnan menyampaikan poin-poin hasil dari Syukuran ‘Ajibah Maiyah pada waktu acara Padhang Mbulan kemarin. Dari banyaknya poin yang disampaikan, semakin menambah rasa syukur dalam benak saya-barangkali juga sedulur yang lain-karena dipertemukan dengan Maiyah. Dan shalawat Ya Thaybah yang  dibawakan oleh Kanjeng Kustik adalah salah bentuk syukur sebelum acara inti dimulai.

Para penatua Sanggar Kedirian membagi jamaah yang hadir menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok mempunyai tugas membuat tiga pertanyaan yang berkaitan dengan tema Wayahe Moco. Pertanyaan tersebut kemudian didiskusikan bersama-sama.

***

“Lebih dulu mana membaca dengan mengerti yang harus dibaca?” tanya perwakilan kelompok dua.

“Membaca ya membaca. Tidak perlu acuan untuk memulainya,” jawab perwakilan kelompok empat.

Sementara kelompok satu menjawabnya dengan menyodorkan sudut pandang lain, “Itu kebutuhan atau dibutuhkan?” Hanya kesadaran dari diri kita masing-masing yang mengetahui jawabannya. “Lantas bagaimanakah cara untuk menumbuhkan kesadaran?”

Kelompok tiga menjawabnya dengan menekankan perlunya menyelam ke dalam diri, berintropeksi. Misalnya dimulai dari hal sepele mengubah kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.

Sementara kelompok dua menjawabnya dengan teori kesadaran, “Ada beberapa tahap dalam kesadaran: pertama kesadaran magis atau gerak refleks. Kedua, kesadaran naif: karena masih baru, maka ada sedikit keraguan dalam bertindak. Ketiga, kesadaran masif: mulai melakukannya dalam banyak hal. Dan terakhir, kesadaran praksis atau kesadaran tindakan.”

***

Sebelum acara dipungkasi dengan pembacaan shalawat, para penatua membekali sedulur-sedulur bagaimana cara menyikapi opini di media sosial yang menyudutkan Mbah Nun. Bisa dengan mengintrospeksi diri, jangan-jangan kita sendiri termasuk pihak yang menyudutkan. Bisa juga dengan merecehkannya dan mengisinya dengan konten yang mendinginkan isu.

Sebab semua pertarungan di media sosial, jika dilihat dari jarak pandang yang agak jauh, sebenarnya tidak lebih dari rekayasa para pemilik modal.

Continue reading Bacalah!

Istiqomah Menuju Ghoyah Sejati

 


Reportase Let’s G(h)oyah, rutinan Sanggar Kedirian 5 April 2019

Kelak, malam Sabtu Legi Bulan April akan dikenang sebagai malam bersejarah bagi Sanggar Kedirian. Sebab pada malam itu… Nanti di akhir reportase saja penjelasannya. Ini namanya teknik foreshadowing, kalau tidak saya buat begitu pasti reportase yang teramat panjang ini akan membosankan. Jadi, nikmati saja. Sementara saya akan melanjutkan reportase lagi. Setelah protokoler pembukaan tunai dilaksanakan, sedulur-sedulur dikelompokkan; masing-masing kelompok beranggotakan enam-tujuh orang, diberi lembaran kertas yang berisi pertanyaan seputar tema Lets Ghoyah. .

“Sesungguhnya yang kita lakukan sehari-hari hanyalah sebatas washilah,” kata moderator, Kang Adnan, memantik diskusi. Kemudian disambung Lik Hartono, “Cobalah pakai teori 5W1H untuk mencari ghoyahmu.”

Kelompok Dua mendapatkan kesempatan pertama untuk menjawab pertanyaan pertama yang membicarakan soal pekerjaan dunia dan akhirat. Menurut Kelompok Dua, apapun yang kita lakukan saat ini adalah pekerjaan dunia. Setelah mati baru kita melakukan pekerjaan akhirat.

Jawaban tersebut disanggah oleh kelompok lain. Pekerjaan bisa bernilai dunia atau akhirat tergantung niatnya. Jika setiap pekerjaan berusaha untuk diakhiratkan-dicari kebaikan, manfaat dan kemaslahatannya-otomatis pekerjaan tersebut bernilai akhirat. Ada juga yang menjawab bahwa akhirat adalah perlambang konsekuensi. Siapa yang berbuat baik maka akan mendapat balasan kebaikan begitu juga sebaliknya.

Dari semua jawaban tersebut, manakah yang paling benar? Nanti dulu. Masih banyak pertanyaan dan tanggapan lain yang belum saya catat.

Pertanyaan kedua menyoal puncak pencapaian hidup. Kelompok Empat berpendapat bahwa puncak pencapaian hidup ialah bermanfaat bagi orang lain. 

“Kurang tepat,” sahut kelompok lain, “puncaknya kebahagiaan”.

“Fase klimaks dalam menggapai kepuasan adalah pencapaian hidup paling paripurna,” sanggah kelompok lainnya. 

“Bukan semua itu,” jawab kelompok paling ujung. Puncak pencapaian hidup yang paling haqueque ialah mendapatkan ijazah akademik.

Hmm, entahlah, realita hidup macam apa yang mereka temui sehingga membuat jawaban seabsurd itu. Yang jelas, selama saya bergabung dalam Sanggar Kedirian, baru kali itu forum sinau bareng terasa sangat interaktif. 

Beranjak ke pertanyaan ketiga soal respon terhadap unen-unen Arab yang membicarakan bekerja keras seolah-olah akan hidup selamanya dan beribadah dengan giat seakan esok akan mati. Kelompok Satu menjadikannya sebagai motivator hidup, Kelompok Empat mentadabburinya sebagai keseimbangan dalam berperilaku, Kelompok Lima menggarisbawahi pesan saat bekerja agar selalu ingat mati-sehingga bekerjanya menjadi lebih serius, jujur dan semangat. Sementara Kelompok Dua mengelaborasi semua jawaban tersebut menjadi begini: hal itu adalah motivasi agar kita bekerja dan beribadah dengan bersungguh-sungguh sehingga tercipta keseimbangan dunia dan akhirat. Super sekali kelompok ini.

Lantas bagaimana tanggapan anda soal tagline Sanggar Kedirian “perjalanan Diri mengenal Diri”? Kurang lebih seperti itu redaksi pertanyaan keempat. Sebagian besar menganggap bahwa “perjalanan Diri” merupakan washilah dan “mengenal Diri” adalah ghoyah. Sementara sebagian kecil sekali menganggap hal itu tidak lain hanyalah jargon komunitas di era medsos. 

Yang disebutkan terakhir salah satu pengikutnya adalah saya sendiri. Sebab saya bukan anggota Kelompok Lima yang meyakini efek perjalanan panjang suatu pekerjaan bisa menjadi parameter pekerjaan tersebut mempunyai nilai ghoyah. Kalau bernafas, misalnya, pekerjaan yang cukup dengan sekali helaan saja, apakah tidak bisa dikategorikan sebagai pekerjaan yang ber-ghoyah?

Inti dari pertanyaan kelima menyoroti hal itu: parameter ghoyah. Untungnya kelompok lain menengahi perbedaan ini dengan mengajukan terminologi istiqomah. Artinya setiap pekerjaan yang dilakukan secara istiqomah Insya Allah akan menuju ghoyah yang sejati. 

Lanjut ke pertanyaan nomor enam. Washilah dulu atau ghoyah dulu yang dijadikan pertimbangan untuk memulai pekerjaan? Kelompok Dua berpendapat washilah dulu sementara kelompok lain menganggap ghoyah dulu.

Sebenarnya pertanyaan tersebut tak ubahnya pertanyaan kuno yang menanyakan lebih dulu telur atau ayam. Namun masih saja dipertanyakan. Untungnya sedulur-sedulur Sanggar Kedirian melihat adanya keterkaitan dengan pertanyaan ketujuh. Jika tidak, mungkin debat kusir ala filsuf Yunani tidak terhindarkan lagi.

Begini pertanyaan ketujuh: mungkinkah ghoyah tanpa washilah? Saya rasa tak mungkin. Sebab ilmu ladunni sekalipun butuh washilah, entah lewat nirakati sendiri atau ditirakati mbah-mbahane. Beda cerita kalau Allah ikut campur. Tidak ada yang tidak mungkin. 

Menurut Pak Bustanul Arifin, Kanjeng Nabi pernah bersedih karena tidak kunjung mendapat wahyu. Kemudian Allah melalui Malaikat Jibril menurunkan surat ad-Dhuha sebagai pelipurnya. Lantas apa korelasinya dengan pembahasan washilah-ghoyah? Carilah sendiri! Jika tidak menemukan minimal sudah berusaha mencari. Nah, pencarian itulah washilah. 

Bekerja keras dan beribadah tekun juga termasuk washilah. Sebab kehidupan di dunia dan di akhirat itu saling berhubungan satu sama lain. Tujuan akhir dari pekerjaan dan peribadatan itu yang disebut ghoyah.

Bahasa quotable-nya begini: ghoyah adalah puncak dari segala upaya kita, sementara washilah adalah perjalanan untuk mencapainya. Jadi, washilah dan ghoyah tidak terpisahkan. Setiap wasilah pasti ada ghoyah begitu juga sebaliknya.

Pak Bustanul Arifin juga mengelaborasi washilah-ghoyah dengan potensi-titik optimasi makhluk Allah. Setiap orang diberikan potensi yang sama, hanya pengembangannya saja yang berbeda. Dari situ membuat titik optimasi setiap orang berbeda-beda. Titik optimasi itulah yang disebut ghoyah, begitu closing statement dari Pak Bustanul Arifin.

Acarapun diakhiri dengan Shohibu Baiti dan Sholawat Indal Qiyam, sebagai bentuk permohonan Sanggar Kedirian agar kelak di tempat rutinan yang baru masih terus beristiqomah gondelan klambine Kanjeng Nabi. Amin.

Continue reading Istiqomah Menuju Ghoyah Sejati