ROMANTISME ORGANISME SANGGAR KEDIRIAN

Reportase Rutinan Sanggar Kedirian "Problem Solving Organisme" 10 Januari 2020


Adzan Maghrib berkumandang, memanggil-manggil untuk segera mendirikan sholat tiga rokaat. Di sisi lain adzan tersebut mengingatkan untuk segera bersiap-siap bergegas menuju area Taman Hutan Joyoboyo Kota Kediri yang kebetulan saat itu hari Jumat malam Sabtu Legi bertepatan jadwal rutinan Sinau Bareng Majelis Masyarakat Maiyah Sanggar Kedirian edisi tanggal 10 Januari 2020. Bersamaan dengan suara iqomah, tiba-tiba hujan turun membawa berkahnya berupa curahan air yang melimpah, seakan tumpah-ruah dari langit.


Terlihat wajah-wajah yang pasrah. Peralatan sound system, kompor, alas karpet dan lainnya yang terlanjur diturunkan dari kendaraan terpaksa ditutupi dengan menggunakan lembaran banner Sanggar Kedirian. Betapa tidak khawatir hatinya Kang Asrul, Kang Ilham dan beberapa sedulur SK karena peralatan tersebut basah kuyup. Namun apa daya, hujan yang semakin deras memaksa mereka untuk menikmati dingin sembari  berbasah-basahan. Meski telah menepi mencari tempat berteduh seolah derasnya air hujan tidak mau ditinggalkan dan memeluk mereka dengan cipratan-cipratan air lembutnya.


Sementara beberapa sedulur SK lainnya yang berencana berangkat seusai sholat Maghrib, mengabarkan bahwa belum bisa berangkat ke Taman Hutan Joyoboyo. Hujan mulai berkurang curahannya setelah Isya'. Kesempatan ini dimanfaatkan mereka untuk memacu sepeda motor menembus belaian lembut sang hujan.

Adalah Hartono, beserta anak bungsunnya yang masih kelas tiga SD yang pertama kali masuk di Musholla Taman Hutan Joyoboyo. Mereka kemudian langsung memasang banner tema Sanggar Kedirian “Problem Solving Organisme". Sementara ubo rampen lainnya baru cemepak pada pukul 21.15 WIB. Artinya molor satu jam lebih dari rutinan-rutinan sebelumnya. Mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa menyalahkan mekanisme organisme Tuhan. Yang bisa dilakukan hanya mengikuti aliran-Nya.


Begitu juga kesadaran positioning sedulur-sedulur Sanggar Kedirian yang langsung mengambil perannya masing-masing; tidak ada yang memerintah atau pun meminta. Mereka memberikan fungsi dirinya sesuai dengan kemampuan masing-masing; Kang Toma dan Kang Tomy yang paham elektronik memberikan tenaga fikirannya serta membawa perangkat sound system, Kang Dion menginfakkan tenaga pikirannya untuk membikinkan teh hangat dan kopi pelepas kantuk. Begitu juga yang lain, ada yang mengurusi infak pinjam Ndhedher untuk permodalan, ada yang mengurusi infak kas rutinan, yang suka musik memberikan hiburan sholawatan dan masih banyak lainnya. Aliran-aliran yang dilakukan sedulur-sedulur SK ini menjadi semacam romantisme perjalanan sehingga menjadi bahasan tema rutinan kali ini "Problem Solving Organisme”.


Lantas, apa itu Problem Solving Organisme?

Menurut Mas Rida, organisme adalah suatu kumpulan dari beberapa organ yang berkumpul dan bekerjasama. yang diupayakan untuk kerjasama. Kang Fathur menambahinya dengan menganalogikakan organ tubuh manusia yang mempunyai tugas masing-masing dan saling bersinergi meski tidak ada komando yang ditunjuk secara resmi. "Begitulah cara kerja organisme!" tegasnya. Mas Naufal dari Paseban Majapahit kemudian mencontohkannya dengan organisme semut.

Sementara menurut Cak Kan, dengan memakai cara pandang organisasi untuk melihat problem solving dalam organisme, pemimpin dalam sebuah organisasi yang telah ditunjuk harus tahu dan bertanggung jawab pada yang dipimpinnya. Itu sah-sah saja. Meski dalam organisme yang selama ini kira pahami, semua orang bertanggung jawab pada dirinya sendiri terlebih dahulu. Dari situ muncul istilah yang populer di kalangan penggiat Maiyah Sanggar Kedirian: tiada yang bisa kita tagih selain diri sendiri.


Jika kita bisa nanthing diri sendiri dan sudah sumeleh dengan kehendak-Nya, niscaya  masalah sebesar apapun tidak menjadi soal, begitu kata Mas Adi. Ia juga tak lupa mengingatkan untuk terus wiridan dan sholawatan agar bisa mengetahui kehendak Allah.

Allahu Allahu//Ya Rabbi Shalli Ala Mukhtar Thibbil Qulub... Menjadi salah satu kunci untuk mengetahui momentum kapan mencair, memadat, menguap, juga bertumbuh-kembang, sebelum akhirnya membusuk dan kembali kepada-Nya.

Dalam proses pembusukan tersebut, menurut Mas Andry, ada yang masih bisa digunakan dan ada yang harus dibuang karena mengandung racun. Keduanya bisa diketahui dengan mudah jika kita mengetahui permasalahan organisme. Dan jika mau memecahkannya atau menjadi problem solver, maka alangkah lebih baiknya jika meneladani Kanjeng Nabi yang sanggup mempersaudarakan kaum Ansor dan Muhajirin.


Namun satu hal yang harus kita tanamkan sebelum jauh-jauh membahas bagaimana menjadi problem solver dari organisme; pertama kita harus mengidentifikasi diri; di posisi manakah diri kita dalam sebuah organisme?

Continue reading ROMANTISME ORGANISME SANGGAR KEDIRIAN

PROBLEM SOLVING ORGANISME

Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 10 Januari 2020


Judul tema kali ini, menurut saya, terasa agak-gimana-gitu. Barangkali karena terbiasa dengan judul yang agak ke-jawa-jawa-an dan baru kedua kali ini menemui tema rutinan yang keminggris. Alhasil saya terpaksa membuka Google Translate untuk mengetahui artinya. Bukannya mendapat jawaban yang memuaskan, saya justru bingung dan tidak pedhe ketika akan menulis pambuka ini. Nah, di tengah kebimbangan itu secara klise saya teringat dawuhe Mbah Nun: Jawa digawa, Arab digarap, Barat diruwat. Seketika saja saya langsung menulis sembari berujar, "Sebenarnya yang saya bicarakan dari tadi itu tidak penting." Ada yang lebih penting dari itu, yaitu pembahasan mengenai organisme Maiyah. 

Dari dulu hingga kini bahkan mungkin sampai ke-1001 esok harinya lusa, kita akan terus mendialektikakan lelaku berorganisme yang sedang kita jalani. Selain karena di dunia ini tidak ada yang final juga karena kita lebih familiar dengan sistem organisasi yang rigid, kaku, dan padat. Ketika dihadapkan dengan organisme yang seolah-olah nampak cair dan alamiah, kita gagap memahaminya. Misalnya, dalam banyak forum diskusi yang sering kita perdebatkan cuma tentang kecairan dan kepadatan sebuah organisme. Bukankah masih ada proses lainnya; penguapan, pertumbuhan, perkembangbiakan, pembusukan, dan masih banyak lagi lainnya; termasuk yang ditiadakan ialah Sang Pemilik Organisme.

Di situlah letak kamanungsane kita. Seandainya kita diciptakan sebagai batu pasti auto madhep-mantep pada tatanan organisme-Nya sebagaimana yang disebutkan dalam al-Isra ayat 44. Disitu ada frasa walakin la tafqahuna, tetapi kamu tidak mengerti. Mbah-mbahane dewe pernah membuat rumusan bahwa wong pinter kui durung mesti ngerti, orang pintar itu belum tentu mengerti. Untuk lebih mengerti alangkah lebih baiknya jika dalam pembahasan Problem Solving Organisme kali ini kita lebih mengedepankan akal daripada syahwat untuk memenangkan argumentasi diri sendiri. 

Jadi, monggo kita saling urun rembug untuk mendalami organisme-Nya. 

Continue reading PROBLEM SOLVING ORGANISME