Ajeg Jejeg

 


Pambuko Sanggar Kedirian 20 April 2018

 

Kedaulatan seseorang sangat berpengaruh terhadap kewaspadaannya. Harusnya ajeg jejeguntuk menambah kekuatan kewaspadaanya. Ajeg jejeg sebagaimana membiasakan diri untuk bersikap kuda-kuda. Dimana orang tidak mudah terombang-ambing dengan informasi yang ada. “Urip kudu tansah eling lan waspodo” salah satu terjemahan bisa menjadi Dzikr dan Taqwa. Waspada berbeda dengan curiga. Waspada terhadap apapun yang bisa menghambat kemuliaan hidup. Berposisi di tengah-tengah terhadap informasi yang berkembang misalnya. “Asa antakrohu syaian wahuwa khoirun lakum wa ‘asa an tuhibbu syaian wahuwa syarrun lakum”. Terkadang sesuatu yang buruk menurut kita adalah yang baik dan bisa jadi sesuatu yang menurut kita jelek ternyata baik. Ajeg jejeg menjadi modal untuk waspada terhadap apa-apa yang dihadirkan Allah.

“Undzur ma qola wala tandzur man qola”. Lihatlah apa yang diucapkan bukan siapa yang mengucapkan. Mau tidak mau sikap subyektif kita masih terpengaruh dengan ketokohan seseorang sehingga lupa dan tidak waspada terhadap apa yang diucapkannya. Ucapan pun akan ditelan mentah-mentah tanpa ada tabayyun terlebih dahulu. Ketika sudah sinkron dengan orang yang kita anggap tokoh di situlah seharusnya lebih waspada. Jangan-jangan kita hanya menjadi duplikatnya dan tidak berdaulat atas diri. Ketika menganggap orang yang tidak sesuai dengan kita di situlah kita juga harus waspada, jangan-jangan kita malah mendapat pelajaran yang agung darinya.

Mari sinau bareng dengan tema “Ajeg Jejeg” dalam rutinan sanggar Kedirian di musholla GNI Kota Kediri pada hari Jumat malam Sabtu Legi, 20 April 2018, pukul 20.00 WIB. Bersama Kang Bustanul ‘Arifin (Pauger keilmuan) dan Kanjeng Kustik. Semoga Alloh memberikan kita semua kekuatan untuk Ajeg Jejeg.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Tentang Sanggar Kedirian

Foto saya
Sanggar Kedirian (SK) adalah majelis ilmu yang sederhana, duduk melingkar saling menghadapkan wajah dan mempertemukan kesamaan-kesamaan, sebuah lingkaran keakraban dan kejujuran. Yang berfokus pada upaya-upaya membangun manusia maiyah yang berilmu, bermartabat dan bermanfaat, dengan kesadaran organisme. Maiyah bukanlah organisasi, lembaga, aliran ataupun bentuk padatan-padatan lainnya, melainkan sebuah gerakan organisme. Geraknya yang nyaris tak bernama, tak beridentitas padat, tetapi akan terasa “nilai” pergerakannya, itulah sebagian dari ciri dari organisme yang dimaksud.

Terjemahkan