Di Luar Jangkauan

Review Tema Sanggar Kedirian 31 Maret 2017


Jangkauan, keinginan besar yang menimbulkan istilah “luar biasa”. Tiada beda mana gagal dan mana berhasil, manusia hanya asrah jiwa. Tidak ingin hidup tetapi diberi hidup, jalani pola hidup di tengah pengaruh kehidupan.

Luar biasa, manusia bagai bathang kridha ula keli (arti bathang adalah bangkai, kridha bermakna menjalankan sesuatu untuk mencapai sesuatu). Sekalipun mampu mempengaruhi kehidupan tetapi yang dilakukan manusia bukanlah kehendak manusia. Namun, sebuah keinginan agar tetap hidup di antara reaksi keterpaksaan demi kehidupan. Bagai ula keli, hidup di daratan gelap (leng) dan sesekali keluar memenuhi hasrat hidup. Rela jika harus terjebak dalam arus dan terbawa, beralih tempat hidup dengan pola tidak berubah.

Di mana pun bertempat, keinginan manusia sama yaitu mencari kemapanan dan kedamaian sesuai dengan kehendak diri. Berada di antara bayangan “keberhasilan” yang dicapai kelompok tertentu. Padahal asor kilang mungguhing gelas, bahwa sebenarnya isi gayung dan gelas sama, tetapi kelihatan berbeda bila disejajarkan. Kita berkecil hati dan belum merasa hebat daripada orang lain karena melihat fasilitas secara kuantitas, bukan kemanfaatan.

Kita sering menggunakan tronton hanya untuk mengangkat kursi kecil, padahal sudah cukup dibonceng sepeda. Asor kilang mungguhing gelas memberi ajaran agar dalam hidup tidak terlalu muluk-muluk, membanggakan diri sendiri dan sombong. Dicacad ora gela dielem ora muyeng menjadi landasan membentuk keyakinan, bahwa kita pasti berhasil menaklukkan dunia, karena kita adalah jawata hing ngarcapada.

Sebagai raja di bumi hendaknya mengetengahkan sabar dalam sifat dan menyifati sifat dalam sabar sebagai laku utama. Luas bumi yang tidak seluas dunia manusia tentunya menumbuhkan sikap bijaksana.

Belajar dari perang Badar dan perang Uhud dimana kesabaran menjadi kunci keberhasilan kedua perang tersebut. Sungguh di luar jangkauan, perbandingan pasukan tidak seimbang bukan menjadi soal menggapai kemenangan. Tetapi kemenangan bisa berbalik menjadi kekalahan manakala sabar tidak disifati. Sehingga usai perang Uhud Rasul Saw. bersabda, “Kita baru saja melakukan perang kecil dan perang yang lebih besar telah menunggu yaitu perang melawan nafsu.”

Maka jadikan sabar dan ibadah kita sebagai wasilah menguasai dunia. Dengan sabar dan ibadah menjadikan mulut lebih luas daripada lautan, mata lebih indah daripada bintang, telinga lebih menjangkau daripada angin, dan jiwa lebih tinggi daripada gunung.

____________________________

*Selama Ramadan, rublik Piwedar sanggarkedirian.com akan me-review tema rutinan Sanggar Kedirian yang telah lampau. Rublik ini diasuh oleh Kang Bustanul ‘Arifin.

0 komentar:

Posting Komentar