We Read-Ing Katresnan

Pambuko rutinan Sanggar Kedirian 5 Maret 2021


Kerinduan yang menggembirakan. Itulah suasana yang tergambar pada setiap malam Sabtu Legi yang diselenggarakan oleh Simpul Sanggar Kedirian. Beragam wajah orang yang merindu, penuh kebahagiaan akan segera terobati karena kembali berjumpa, tentu dengan protokol pemahaman kesehatan masing-masing. Bahkan ada yang saking rindunya dua kali pertemuan dalam hitungan bulan jawapun dirasa masih kurang, sehingga pertemuan-pertemuan dalam lingkaran kecil yang diistilahkan sebagai “ngopi gedhen” bisa saja terjadi baik di warung-warung dan di rumah para penggiat Sanggar Kedirian. Lantas apakah perjumpaan itu sekedar hanya untuk njagong, berdiskusi, berteori dan sekedar rerasan saja? 




Penglihatan Batin


Terus belajar membangun keakraban dengan komunikasi interaktif antar kita yang menitikberatkan pada pendewasaan dan perluasan hikmah dalam mengelaborasi peristiwa yang dialami atau pengalaman antar penggiat nampaknya masih menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Meskipun sementara ini perdebatan dalam mempertahankan kebenaran masih sering terjadi, hal lumrah yang hendaknya kita sadari bersama bahwa dalam menempuh perjalanan kebajikan mestinya selalu berada dalam keseimbangan. Walaupun tak jarang pula dalam memetik pemaknaan hikmah Sinau Bareng itu dapat teraplikasikannya sikap dan perilaku bijaksana serta kearifan dalam bermasyarakatnya masing-masing kita, karena ”Ngelmu kuwi kelakone kanthi laku”.


Meskipun dengan ilmu itu perbedaan akan mudah kita temukan, namun dengan kebijaksanaan kita dapat menemukan kesamaan dari hal yang berbeda-beda. Ada seribu kemungkinan pengetahuan di luar batas logika faktual yang selama ini kita jadikan acuan penglihatan kebenaran, yang patut kita curigai untuk memahami dalam menjangkau analisis kebenaran. 




Maningal, Manekung dan Maneges 


Kali pertama yang diwahyukan oleh Allah kepada Rasulullah SAW adalah kata Iqra’, bacalah. Sebuah perintah yang sangat tegas, bahwa yang pertama kali harus dilakukan oleh manusia adalah Iqra’. Lantas kita membaca apa? Khasanah ilmu modern mungkin tidak mampu menjangkau pemahaman mengenai hidayah, ilham, atau istilah-istilah warungan-seperti tembus, roso ngeng, krenyeng-krenyeng, krenteg ati, dll. yang kadang muncul di dalam interaksi kehidupan kita sehari-hari. Dalam islam dikenal dengan konsep taqwa sedangkan di Jawa ada istilah eling lan waspada yang dikutip dari salah satu syairnya pujangga Ronggowarsito. Sebuah konsep tentang manusia yang beruntung, yang tidak mudah terbawa arus, untuk selalu berpikir dan waspada terhadap segala apa yang dirasakan oleh pacra indra maupun batin kita. 


Tema Sanggar Kedirian bulan Rajab kali ini bertema We Read-Ing Katresnan. Sebuah tema yang memiliki pemaknaan berlipat jika dibaca dengan ejaan inggris berarti “kita membaca” dengan ejaan Indonesia menjadi “wirid” serta ejaan Jawa pada kata terakhirnya dapat diartikan “berawalnya cinta”. Ada tiga kata kunci dalam tema tersebut yaitu: membaca, wirid dan cinta. Jika dirangkai dalam pengertian; Tidak ada satu pun manusia di dunia yang mengetahui tentang segala hal. Sehingga jika satu diantara kita ada yang mengetahui tentang satu hal, kemudian yang lain mengetahui satu hal yang lain. Akan ada nilai lebih tentang pembacaan makna kehidupan ini.


Terhadap sesuatu hal yang masih bisa dijangkau dengan ilmu dan akal, maka kita gunakan semaksimal mungkin akal pikiran kita untuk memahami hal tersebut untuk menyelesaikan persoalan yang kita hadapi. Tetapi jika dengan ilmu dan akal kita sudah tidak mampu menjangkaunya, maka kita gunakan iman. Caranya bisa dengan menyapa Allah dan Rasulullah untuk meneguhkan pijakan tauhid, sekaligus penyataan cinta kita kepada Rasulullah saw. melalui wirid dan sholawat.


Kegembiraan dalam kebersamaan di Sinau Bareng ini tidak mungkin tidak kita syukuri dan tentu saja terima kasih kita kepada Mbah Kiai Drs. Bustanul Arifin, M.Pd.I., yang selama 9 tahun lebih, sudah menanam benih-benih katresnan-nya guna menemani kita di Sanggar Kedirian dengan sangat setia. Semoga kebersamaan ini masih akan terus berlanjut. Aamiin.


Dengan begitu kita dapat belajar dari beliau bahwa nilai-nilai Maiyah bisa disebarluaskan, ditanam, diinformasikan dimana saja dalam spektrum yang beragam, dalam kondisi masyarakat kita masing-masing. 


Mlaku sak tekan-tekane... nyingkirake apa wae sing katon gemletak ora sak mestine ing pinggir utawa tengah ndalanapa wae sing isa mbebayani lakune liyan... Adalah? (isilah dengan pemaknaanmu sendiri).


Continue reading We Read-Ing Katresnan

TOTO-TOTO

Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 29 Januari 2021


Tak terasa begitu cepat waktu berlalu, kini sudah awal tahun lagi, tepatnya dari 2020 menjadi 2021. Sudah tentu pola peristiwa seperti ini berlangsung berkali-kali. Seyogyanya sudah saatnya kita menata apa saja yang sekiranya pada tahun lalu kurang mampu terlaksana dengan baik, pada tahun ini kita tata dengan lebih seksama lagi.


Kiranya sangat tepat jika pada momentum bulan di awal tahun ini, sinau bareng Sanggar Kedirian mengusung tema "Toto-Toto" yang mana diharapkan mampu memantik kita untuk menata segala sesuatu yang perlu kita tata dari yang belum baik menjadi lebih baik. Memang kebutuhan setiap individu maupun kelompok sangat berbeda-beda tergantung tingkat kebutuhannya, sehingga teknis penataannya pun juga akan sangat berbeda pula. 


Toto-toto bisa dimaknai sebagai aktivitas menata sesuatu yang lebih dari satu barang atau nilai atau tatanan itu sendiri. Semestinya di tahun baru ini kita mengharapkan sebuah capaian yang lebih baik dan memuaskan dibandingkan tahun yang lalu. Capaian dalam bidang perekonomian, pendidikan, kesehatan, interaksi sosial, bahkan prestasi ibadah keagamaan. 


Dalam beberapa kesempatan Simbah Nun sering mengungkapkan bahwasanya puncak kehidupan dalam falsafah Jawa ialah gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo. Sedangkan dalam Islam baldatun thayyibatun wa Robbun ghofur. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah Robbun ghofur, ampunan Tuhan. Dalam praktek "toto-toto" harus mempertimbangkan hal itu. Misalnya tahun ini kita menginginkan harta yang lebih banyak dibandingkan tahun kemarin, namun halal dan thayyib-nya harta yang kita dapatkan tidak pernah menjadi bahan pertimbangan. Yang penting kelihatan lebih hebat dibandingkan tahun kemarin. Kira-kira apakah keinginan kita itu akan diridhoi oleh Allah? 


Dalam sebuah ayat, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Quu anfusakum wa ahlikum naaro", jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Jadi setelah menata diri sendiri kemudian baru menata keluarga kita. Bisa juga kelompok kita, tentunya setelah melalui kesepakatan bersama. 


Monggo merapat bersholawat, berdzikir, bertafakur bersama di rutinan Sanggar Kedirian edisi Januari 2021. Kita diskusikan bagaimana dan apa yang harus ditata, dengan cara apa. Mari kita ulas bersama dengan pagar keilmuan kita.

Continue reading TOTO-TOTO

Siap Kalah

 Pambuka Rutinan Sanggar Kedirian 25 Desember 2021



Kalau biasanya jargon yang sering kita ketahui adalah "siap menang" atau paling tidak "siap kalah untuk menang", namun tema malam ini benar-benar hanya "siap kalah".


Kalah di sini sebagaimana logika umum bisa diartikan ngalah. Nggih monggo, itu terserah panjenengan sedanten. Tapi kalau mau mengaitkannya dengan per-"kompetisi"-an maka idiom Mas Sabrang tentang perang pendek dan perang panjang bisa menjadi analogi yang pas. Mau mengajak cewek kencan, misalnya, tentu persiapannya berbeda dengan mengajaknya menikah. Itu baru dalam persiapan, belum pengaplikasian dan orientasinya.


Soal ini Simbah berpesan begini, "Ciri khas manusia zaman sekarang adalah terlalu sibuk oleh urusan kalah-menang, namun tidak belajar memahami hakikat kemenangan dan kekalahan."


Lha, hakikat kemenangan dan kekalahan niku nopo, Mbah?


Monggo kita rembukan sareng-sareng dengan kejernihan akal dan keluasan hati untuk menerima pendapat dari sedulur lainnya. Itu, koentji malam ini.


Allahumma shalli wa sallim wa barik alaih...

Continue reading Siap Kalah

Pande Me

Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 20 November 2020

Tujuh bulan selama pandemi Covid-19 ini melahirkan berbagai macam rutinitas baru yang oleh kegagapan peradaban modern disebut era "New Normal". Padahal jauh sebelum pandemi sejatinya setiap hari, setiap jam, bahkan setiap berdetaknya jantung kita adalah kematian dan detak berikutnya kita akan lahir kembali. Makna “kelahiran" adalah pengalaman saat kita berada pada kesadaran spiritual, hari ini adalah diri kita yang baru yang tidak sama dengan diri kita yang kemarin. Evolusi ini akan terus berlangsung dalam berbagai skala tranformasi. Namun karena keterbatasan pemahaman kita pada suatu nilai membuat semua hal yang kita lihat, dengar, rasakan dan alami ini belum berada dalam titik kesadaran spiritual, terlebih intelektual. 


Transformasi Diri

Di tengah pandemi ini ada baiknya jika meluangkan waktu dan tenaga sejenak; tuma'ninah sembari memberi makna dengan nalar dan rasa; menempa "besi" dalam diri agar lebih bermanfaat dan  sedangkan harapan kita adalah menjadi ”Pande Me” karena kepiawaian kita mengenali diri.


Kecanggihan teknologi yang pesat, salah satu hasilnya adalah manusia kehilangan dirinya dan manusia menjadi luntur kemanusiaanya. Selain itu, terlebih merasa bahwa diri lebih dibanding dengan orang lain yang akan justru menjerumuskannya ke dalam jurang kesombongan. Tak jarang harapan yang kita inginkan dari orang lain malah menjelma menjadi tuntutan. Dan sejatinya pertarungan sesungguhnya terjadi di dalam alam diri manusia sendiri. Pertarungan yang sesungguhnya maha dahsyat.


Juga menjadi tuan rumah diri sendiri adalah bagian penting bagaimana seharusnya kita mengenali diri kita sendiri, mengetahui potensi dalam diri kita sendiri untuk kemudian kita sendiri, memaksimalkan dan mengevaluasi hal itu, sehingga kita menjadi manusia yang mandiri dengan berbekal keahlian dan potensi diri kita itu.


Dengan mekanisme "khalifah" yang diciptakan oleh Allah, Allah sendiri memang menghendaki agar manusia berdaulat atas dirinya sendiri. Manusia secara fitrahnya adalah mandiri, sementara fakta hari ini mayoritas manusia menjadi bukan dirinya sendiri.


Laboratorium Kedirian

Dengan adanya Sanggar Kedirian ini kita bersama-sama menjadikan forum Sinau Bareng ini untuk menemukan jati diri kita masing-masing. Untuk menemukan siapa kita dan bagaimana seharusnya kita bersikap dalam kehidupan ini. Konsep keseimbangan yang ditawarkan oleh Sinau Bareng adalah mekanisme yang juga harus terus-menerus kita asah, sehingga pada akhirnya kita akan mampu menemukan kedaulatan dalam diri kita sendiri. Kita menjadi diri kita sendiri, bukan menjadi orang lain yang bukan diri kita. Sehingga karunia bagi manusia adalah selalu menemukan hal yang "alhamdulillah". Kita hari ini adalah diri kita yang "alhamdulillah" yang tidak sama dengan kelakuan diri yang "astagfirullah" kemarin.


Continue reading Pande Me

Pemulihan Umum

Pambuko rutinan Sanggar Kedirian 16 Oktober 2020


Pe-mu-lih-an u-mum. Kesan pertama yang ada dalam benak adalah plesetan dari pemilihan umum. Sayangnya kita tak bisa menilai sesuatu hanya dari kesan pertama yang didapat. Perlu pendalaman, menyibak berbagai macam lapisan tabayun untuk mengetahui maksud pencetus tema malam ini; cobalah nanti tanyakan sendiri.

Ini saya coba susunkan pertanyaannya, nanti pengembangannya terserah nalar kritis sedulur-sedulur:

1. Mengapa pemulihan umum perlu dibahas?

2. Kalau nanti sudah ada rumusan dari berbagai macam keilmuan, lantas apa yang bisa dikerjakan?

3. Siapa pelakunya?

4. Kapan?

5. Di mana?

6. Bagaimana mekanisme pelaksanaannya?

7. Seberapa besar dampaknya bagi pemulihan diri kita sendiri? Jika tidak ada, lebih baik wiridan dan sholawatan dulu saja. Sebab bahu siapa lagi yang bisa disandari di tengah huru-hara yang membingungkan ini selain Kanjeng Nabi. 

Ya akramal khalqi maali man aludzu bihi # Siwaka inda huluulil haditsil amimi. Allahumma shalli wasallim wabarik alaih...

Mari melingkar bersama dalam rutinan Sanggar Kedirian di Kampus Tribakti, Jumat malam Sabtu Legi, bakda Isya 16 Oktober 2020.

Continue reading Pemulihan Umum

Pangapuran

Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 11 September 2020

Pangapuran atau pengapuran atau apapun itu namanya, yang penting masih ada kaitan kebahasaan dengan frasa "maaf" mempunyai beragam cerita dan beberapa lapisan. Misalnya "maaf" yang dipertukarkan dalam ucapan Lebaran tak akan terasa sedalam kata "maaf" yang diberikan kepada sedulur yang pernah kita sakiti.

Maka apa arti tema malam ini kalau sedulur yang pernah kita sakiti sudah memaafkan bahkan sebelum diminta? Inilah mula-mula yang harus diurai.

Sanggar Kedirian (SK) adalah sebuah wadah besar yang menampung berbagai macam orang. Adakalanya ketidakcocokan dalam berargumen, bersikap, juga bersosialisasi itu adalah keniscayaan. Kadangkala ketidakcocokan tersebut merenggangkan paseduluran yang kita bangun bersama, itu juga wajar. Namun kalau kita sampai menganggap bahwa SK tak pernah bisa jadi wadah bagi siapa saja, kapan saja, dan hanya merupakan alat kekuasaan kelas tertentu di ruang dan waktu tertentu, maka alangkah Marxis-nya kita ini. 

Bagi penganut Marxisme, wadah besar ini bukan sesuatu yang siap. Ia menjelma bak proyek penertiban; unsur dan bagian-bagian diklasifikasikan, diberi sebutan, posisi, dan peran. Mungkin sekilas tampak utuh, tapi dalam tersusunnya sistem itu selalu ada "bagian yang tak punya bagian". Di situlah titik rawan sengketa bermula.

Jika persengketaan tak bisa lagi dielakkan, lantas siapakah yang bersalah? 

Dari sini alangkah lebih baiknya jika mengoreksi diri sendiri. Kanjeng Nabi, yang kita elu-elukan syafaatnya, dalam banyak riwayat sering mencontohkan kebesaran hati dan jiwanya untuk memaafkan orang-orang yang menyakitinya bahkan sebelum diminta. Apakah kita bisa menirunya? Kalau tidak, bayangkan jika esok di Yaumul Mahsyar, saat sedang gondhelan jubahe beliau, kemudian ditanya, "Kowe sopo?"

Maka, monggo malam ini sareng-sareng melingkar,  bersholawat dan mengintimi pembicaraan yang langka ini. Shollu 'ala an-nabi Muhammad.

Continue reading Pangapuran

Manutallah Manutullah

Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 7 Agustus 2020

Keinginan manusia bisa jadi jebakan kepada ketidaktenangan, kegelisahan dan ketidakbahagiaan. Itu terjadi apabila keinginan dan kenyataan tidak sesuai terjadi. 

Lain halnya apabila yang terjadi adalah keinginan Tuhan, manusia tidak akan bisa menolak dan pasti terjadi. Tentunya menselaraskan keinginan Tuhan dan keinginan manusia perlu kunci-kunci, agar kebahagiaan atau istilah lain hati yang penuh "hore" itu selalu tercipta.

ManutAllah atau manutullah perpaduan dua bahasa Jawa dan Arab, yang dimaksudkan manut kersane allah, mengikuti keinginan Tuhan. 

Mari bersama melingkar tadabbur mencari kunci-kunci keinginan Tuhan di dalam rutinan Sanggar Kedirian, pada :

Hari : Jumat malam Sabtu Legi 

Tgl : 7 Agustus 2020 

Lokasi : Kampus IAI Tribakti, Kota Kediri

Jam : 20.30-selesai

Insyaallah pagar keilmuan Sanggar Kedirian Ust. DR. Bustanul Arifin membersamai sinau bareng.

Monggo luangkan waktu sejenak dalam menjaga istiqomah rutinan Sanggar Kedirian dalam rangka terus belajar menemukan nilai-nilai Maiyah.

Continue reading Manutallah Manutullah

Kelayang Kangen

Pambuko rutinan Sanggar Kedirian 3 Juli 2020



Kebahagiaan berkumpul bersama, melingkar bareng, bersholawat bareng, bercengkrama hangat, mentadabburi apa saja dengan adu dengkul menjadi sebuah kekangenan tersendiri. Pandemi Corona memaksa kita menjaga jarak, memaksa kita tidak bisa berkumpul bersama sehingga tercipta jarak dalam bersosial di antara kita.

Tidakkah kau kangen? Berkumpul bersama kembali seperti dulu membangun kemesraan bersama menatap masa depan.

Tidakkah kau kangen? Meluapkan cinta bersholawat bersama mengharap syafaat cinta Rosulullah.

Corona boleh saja memaksa kita ambil jarak, tapi jangan sampai membuat jarak persaudaraan kita yang telah lama kita bangun. Kesalahan dan khilaf mungkin banyak kita lakukan sehingga bisa jadi Corona itu adalah diri kita sendiri yang membuat jarak persaudaran kita.

Sebelum ada Corona yang memaksa bikin jarak, diri kita sendiri adalah Corona itu sendiri. Perilaku kita adalah Corona. Kita menyakiti dulur dewe sehingga akhirnya tercipta jarak dalam bersaudara. Bukankah ini juga semacam Corona?

Marilah kita luapkan bersama kekangenan paseduluran ini dalam rutinan Sanggar Kedirian bertempat di Kampus IAI Tribakti, pukul 20.30 WIB. Jumat malam Sabtu Legi, 3 Juli 2020.

Mari bersama melakukan restart diri dengan titik awal Kelayang Kangen.

Continue reading Kelayang Kangen

Keistiqomahan di Tengah Keterbatasan Pandemi Covid-19

Reportase rutinan Sanggar Kedirian "Tan Kena Kinaya Ngapa", 29 Mei 2020


Udara dingin Desa Kelutan tak berhenti datang menghampiri. Hembusannya datang dengan sepoi-sepoi. Merasakannya kadang membuat bulu kuduk berdiri. Namun, membuat rasa tenteram di hati.

Malam itu, tepat malam Sabtu Legi, Pak Bustanul 'Arifin mengundang dulur-dulur Sanggar Kedirian (SK), Tasawwuf Cinta (TC), Kiai Bagus, Ki Anom Kusumo untuk menyelenggarakan acara rutinan di ndalem beliau. Berbeda dengan rutinan biasanya yang digelar di Taman Hutan Joyoboyo atau dua bulan sebelumnya yang dipindahkan ke Kampus Tribakti karena kondisi pandemi.

Meski masih berada dalam kondisi pandemi Covid-19 yang melarang perkumpulan massa, toh kegiatan ini tetap istiqomah dijalankan. Tampaknya, penggiat Sanggar Kedirian memang memilih tetap menjalankan keistiqomahan daripada ikut arus berita yang terkadang tidak sesuai dengan kenyataan.

Acara dimulai, Kang Hartono sebagai moderator mengajak para hadirin untuk membaca surat al-Fatihah. Hajat paling utama ditujukan kepada mertua Pak Bus yang sehari sebelumnya meninggal dunia. Jadi selain rutinan, acara kali ini juga dalam rangka takziyah sekaligus syawalan. Tiga hajat dalam satu acara.

Tahlilan dipimpin oleh Kang Tholib. Dilanjutkan membaca wirid "Duh Gusti" bersama-sama. Di sela-sela pembacaan wirid, Kang Hartono membacakan puisi yang telah dikarangnya.

Mengawali sinau bareng, Kang Hartono meminta para hadirin untuk menyampaikan apa yang sedang dialaminya, terutama dalam menghadapi kondisi pandemi Covid-19. Satu per satu hadirin dari SK maupun TC bergantian menyampaikan kondisinya. Tak jarang cerita berubah menjadi curhatan.

Kang Rifa'i mulai menyampaikan kondisinya. Aktivitasnya dalam pengeboran sumur tetap berjalan seperti biasa. Air tetap menjadi kebutuhan primer, tak peduli masa pandemi. Kang Rifa'i yang biasa dipanggil Bang Djoni ini juga punya aktivitas lain. Kepiawaiannya dalam memainkan keyboard dan organ tunggal dalam keadaan normal sering diminta mengisi event. Namun, larangan pengumpulan massa merubah job menjadi sepi.

Sementara itu, Makdhe Girin menceritakan aktivitasnya selama pandemi Covid-19. Sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap kebersihan di ATM, Makdhe mempunyai ceritanya sendiri. ATM sering dianggap sebagai tempat yang rawan dalam penyebaran penyakit Covid-19 karena di dalam suatu bilik kecil yang bermacam-macam orang bergantian memasukinya. Sama juga dengan uang yang dianggap sebagai salah satu sarana sebaran Covid-19 karena dipegang oleh banyak orang. Ada orang yang saking hati-hatinya membuka pintu ATM dengan menggunakan sikut. Adalagi cerita orang yang menyemprot uangnya dengan hand sanitizer setelah keluar dari mesin ATM.

Pria bernama asli Budi Santoso ini berpendapat bahwa seharusnya kita jangan terlalu takut kepada virus Covid-19. Imun terbentuk ketika kita tidak takut. Jika imun kuat, Covid-19 yang takut pada kita.

Berbeda dengan Makdhe Girin, Kang Roy menyampaikan apa yang dialami di desanya. Penggiat SK yang dipercaya oleh warganya menjadi pamong desa ini bercerita bahwa pada kenyataannya penanganan Covid-19 benar-benar berbeda dengan protokol Covid-19 yang diberitakan. Covid-19 diberitakan secara wah dengan segala macam protokolnya. Pada kenyataannya, protokol itu tidak didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai.

Memang sebaiknya dalam melihat berita harus pintar-pintar melihat bagaimana kenyataannya. Setidaknya dengan adanya Covid-19 ini orang-orang menjadi lebih sadar bahwa berita di media massa terkadang tidak sesuai dengan kenyataannya.

Sebagai moderator, Kang Hartono menengahi. Dalam menghadapi apapun termasuk pandemi ini, tidak semestinya terlalu takut juga harap hati-hati jangan menjadi takabbur. Berkaitan dengan mata pencaharian yang terpengaruh, yakinlah tetap ada jalan. Menyitir apa yang berkali-kali dipesankan oleh Pak Bus, "Boleh pasrah tapi jangan berputus asa."

Diskusi semakin hangat. Petikan gitar Kang Gatot "Ndrengez" membawakan lagu "Tan Kena Kinaya Ngapa" menambah hangatnya suasana. 

"Tan kena kinaya ngapa"

"Manungsa isane ngreka lan njangka"

"Mula aja nganti ndhisiki kersa"

"Supaya lakumu ora rekasa"


Jika dulur-dulur penasaran dengan lagunya, langsung saja klik linknya https://youtu.be/RWtaBScfcig. Saat reportase ini ditulis, tak kurang dari 2.000 pengguna Youtube sudah mendengarkan lagu ini.

Suara Kang Gatot mampu membangkitkan simpul-simpul saraf yang sempat tak terfokus. Kini tiba saatnya memfokuskan pikiran guna menyerap apa saja ilmu-ilmu yang akan di-wedar-kan oleh Pak Bus.

"Surat al-Baqarah ayat 286, itu adalah ayat rahman. Ayat yang penuh berkah yang ketika turun ayat itu Nabi Muhammad sujud berkali-kali. Ayat yang memberikan motivasi besar dalam kehidupan. Laa yukallifallahu nafsan illa wus'aha. Jadi, gak usah kuatir. Apapun yang dilakukan manusia sudah terukur dengan kemampuan." Pak Bus mengawali wedaran-nya.

Lebih lanjut, Pak Bus juga menyampaikan tadabbur surat al-Mu'minun ayat 78. "Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati (fuad). Amat sedikitlah kamu bersyukur." Pendengaran lebih bisa menangkap banyak informasi dalam waktu yang sama daripada penglihatan. Misalnya saat kita berdiam diri di rumah. Informasi yang ditangkap oleh penglihatan adalah barang yang ada di rumah itu. Namun, pendengaran bisa menangkap informasi suara tetangga yang punya 3 hajatan sekaligus. Tetangga sebelah ada tahlilan, yang agak jauh ada mantu, desa sebelah nanggap ludruk. Itu semua bisa diterima oleh pendengaran dalam satu waktu.

Masih di surat al-Mu'minun ayat 78. Informasi bisa diterima dalam bentuk apa saja. Tetapi, karena pengalaman, daya, cipta manusia berbeda menghasilkan pendapat yang juga berbeda.

"Neng ndunyo piro suwene, paribasan mung mampir ngombe," pesan Pak Bus mengingatkan. Kehidupan dunia itu tidak lama akhir episodenya. Wayang itu rame saat palagan, kalau dhalangnya sudah tancep kayon ya sudah berakhir.

"Abot anak ketimbang telak. Wis aku rapopo rekasa sing penting anakku kepenak." dawuh Pak Bus mengakhiri wedaran-nya.

Continue reading Keistiqomahan di Tengah Keterbatasan Pandemi Covid-19

Eling lan Waspada

Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 20 Maret 2020


“Rabbana atina qothrata luthfi Muhammadin fi qolbi”

“Rabbana atina qothrata luthfi Muhammadin fi ruhi”

“Rabbana atina qothrata luthfi Muhammadin fi jasadi”

“Rabbana atina qothrata luthfi Muhammadin fi hayati”


Wirid Tetes Kelembutan Muhammad (Qothrata Luthfi Muhammad) yang dibuat oleh Mbah Nun ini berisi harapan agar kita senantiasa mendapat Tetes Kelembutan Muhammad di dalam hati, ruh, jasad serta kehidupan.

Luthfi yang sering diartikan kelembutan ini tak berhenti pada “kelembutan sifat”. Ada pemaknaan lain yaitu ngglepung, satuan partikel terkecil yang menggumpal lembut.

Untuk menggambarkan proses ngglepung, bolehlah kita meminjam isu yang sedang hangat. Ya, itu. Corona. Konon, ukuran virus ini 100-120 nano meter. 1 cm setara dengan 10.000.000 nano meter atau bahasa gampangnya kalau sedulur mempunyai pengaris ada ukurannya 1 centi meter, lha 1 cm itu silakan dibagi 100.000. Itulah ngglepung-nya virus corona.

Jika dunia saat ini sedang diributkan dengan ngglepung-nya corona, apa yang sebaiknya kita lakukan? Ikut-ikutankah atau justru memasang kuda-kuda kewaspadaan agar lebih mendekatkan diri pada yang membuat corona?


Monggo, kita rembukkan!

Hari: Jumat (nanti malam)

Tanggal: 20 Maret 2020

Jam: 20.00 WIB

Lokasi: Masjid Kampus Tribakti, Jalan KH. Wahid Hasyim 62, Kota Kediri

Continue reading Eling lan Waspada

Mereka yang Ndhedher Angin dan Ngunduh Badai

Reportase Rutinan Sanggar Kedirian "Ngunduh Wohing Pakarti, 14 Februari 2020


Sanggar Kedirian (SK) adalah  suatu wadah untuk menempa diri. Bagaimanapun keadaannya rutinan harus berjalan. Dengan fasilitas atau tidak, kesempatan bertemu selapan sekali harus diistiqomahi sebagai media berbagi ilmu, kebijaksaan, dan kebahagiaan.

Sebagaimana yang dilakukan Mas Adi malam itu. Dia selalu berpesan "hore" dalam banyak kesempatan. Menurutnya dengan ber-hore segala kerisauan akan dibereskan sendiri oleh Allah. Metodenya seperti ini: sebelum bertawasul, lupakan dulu semua masalah yang ada; bayangkan sesuatu yang indah-indah; bisa pantai, pegunungan atau bayangan indah lainnya. Jika visualisasinya sudah selesai baru dimulai tawasulannya. "Sudah (membaca) alhamdulillah masak susah," begitulah kata Kang Adi menularkan energi kegembiraannya.


Barangkali karena ketularan energi dari Mas Adi, Kang Tri Wibowo membawakan lagu ciptaannya sendiri yang diberi judul "Sinau". Uniknya, lagu ini di-mix dengan lagu anak-anak yang bunyinya begini:

//Ayo kanca dolanan ning jobo//Padhang mbulan padhange kaya rina//Rembulane sing awe-awe//Ngelingake ojo turu sore-sore//

Penasaran ingin dengar lagunya? Monggo bisa klik disini  https://youtu.be/gytBmHK8NRw.


Ndhedher dan Ngunduh Wohing Syukur

Sedulur-sedulur yang datang ke rutinan SK mayoritas anak muda dan cowok. Tapi malam itu seorang ibu rumah tangga ditemani oleh suaminya ikut melingkar bersama. Dialah Bu Ema dan Pak Sugeng. Perjalanan mereka sangat panjang dan patut dipotret sebagai pembelajaran bagi kita yang masih muda. 

Tunggu edisi khusus tentang reportase perjalanan mereka! Sekarang lebih baik mari kembali ke reportase rutinan ini. 

Adalah Kang Ali, sedulur SK spesialis belakang layar, pada malam itu turut urun rembug. Bisa mendengarnya berpendapat di forum besar adalah kelangkaan yang hanya bisa disamai dengan jumlah badak bercula satu. Ia sedikit membagikan pengalam tentang kegiatan pelestarian alam; bersama lingkar LJR  mengupayakan reboisasi dan menebar bibit ikan di beberapa titik yang bisa dijangkau. "Orang-orang sering mengaji, wudhu menggunakan air suci. Namun tak pernah dibahas dan diupayakan bagaimana agar terus dapat air bersih sampai generasi berikutnya. Salah satu tujuan tanam pohon ya untuk ini," jelas Kang Ali mantap.


Dari sisi lain, Kang Zainuri berpendapat bahwa ngunduh tidak selalu berupa woh (buah). Tanaman pisang, misalnya, sudah bisa diambil hasilnya meski belum berbuah; daun, ontong, pelepah. 

Mas Adi menimpali dengan petuah-petuah motivasinya:

  1. Agar pakarti sehari-hari tetap positif tipsnya ialah, saat bangun tidur membaca Alhamdulillah kemudian dalam hati ditanamkan untuk siap senang "hore" untuk diajak outbond seharian oleh Gusti Allah;

  2. Tips selanjutnya agar pakarti tetap positif ialah mengatur pakarti dalam bersosmed, utamanya Facebook. Akun Facebook yang selalu membagikan postingan negatif, lebih baik diblokir saja. Bangun tidur sudah diawali dengan Alhamdulillah dan bahagia, masak harus lenyap begitu saja hanya karena Facebook-an.


Benang merah dari beberapa pendapat di atas ialah ada tidaknya unduhan yang bisa diambil dari sebuah proses tergantung cara penyikapan terhadap suatu hal. Apakah bisa mengambil hikmah kemudian bersyukur atau justru tidak mendapat apa-apa? 

Namun dalam Surat Ibrahim ayat 7 disebutkan, lainsyakartum la azidannakum wa lainkafartum inna adzabi lasyadid. Menurut Pak Bus bisa diartikan: terlambat bersyukur dapat mengakibatkan kesalahan, itulah yang biasa disebut kufur.


Kemudian Pak Bus mulai menerangkan makna "Ngunduh Wohing Pakarti". Ngunduh (download). Wohing dari akar kata woh yang artinya adalah hasil, sementara pakarti dari kata karto yang artinya menang besar-karena diakhiri -i menjadi kemenangan kecil.

Sementara makna secara istilahi-nya oleh Pak Bus dipadu-padankan dengan pepatah lama, "Siapa yang menabur angin, akan menuai badai." Artinya, tema malam ini sama dengan hukum sebab akibat yang akan terus berlanjut. Misalnya ketika saat disakiti orang lain namun tidak membalas, barangkali dengan itu membuat kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan akan ditutupi oleh-Nya. Amin.


Continue reading Mereka yang Ndhedher Angin dan Ngunduh Badai

NGUNDUH WOHING PAKARTI

Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 14 Februari 2020


Sedulur-sedulurku, rasa-rasanya dunia saat ini sedang kronis dan tak menunjukkan tanda-tanda akan segera sembuh. Saat menulis pambuko ini, sebuah virus yang konon sangat berbahaya sedang mewabah bahkan mulai menjangkiti alam bawah sadar kita. Kemudian banjir yang terjadi hampir di setiap pemukiman padat penduduk. 

Seperti inikah wujud balasan dari Tuhan bagi hambanya yang berdosa? Entahlah, adalah jawaban sementara yang lebih bijak daripada terburu-buru menghakimi seperti share-share-an yang bersliweran dalam grup Whatsaap.

Yang berhak menghakimi dan membalas hanyalah Dia. Kita cuma diberi sedikit spoiler sebagaimana yang disebutkan dalam surat al-Zalzalah: fa maiya'mal mitsqala dzarratin khairai yarah, wa maiya'mal mitsqala dzarratin syarrai yarah, barang siapa berbuat kebaikan dan keburukan se-dzarrah niscaya akan diperlihatkan (balasannya).

Entah kebetulan atau tidak dalam khazanah Jawa hal semacam itu diistilahkan sebagai ngunduh wohing pakarti. Bagaimana asal-usul istilah tersebut, saya tidak tahu. Silahkan bagi yang tahu untuk menjelaskannya.

Yang menggelitik benak saya justru pertanyaan-pertanyaan tidak penting: kapan waktunya ngunduh perbuatan kita? Apakah langsung saat itu juga sebagaimana di medsos atau menunggu esok pascamati? 

Jika ada yang ikut urun-rembug silahkan.

Seorang teman urun contoh kasus begini: jika yang ngunduh dampaknya orang lain bagaimana? Misalnya tetangga kiri-kanan yang ikut terdampak zina atau koruptor yang menggasak uang negara atau penebangan hutan yang membabi-buta sehingga menyebabkan ekosistem terganggu.

Simulasi-simulasi semacam itu pasti masih banyak lagi. Kalau tidak percaya coba buka Caknun.com kemudian carilah tulisan Mbah Nun "Khairon? Yaroh, Syarron? Yaroh". Barangkali kita bisa memulai tema Ngunduh Wohing Pakarti dari situ. Monggo....

Continue reading NGUNDUH WOHING PAKARTI

ROMANTISME ORGANISME SANGGAR KEDIRIAN

Reportase Rutinan Sanggar Kedirian "Problem Solving Organisme" 10 Januari 2020


Adzan Maghrib berkumandang, memanggil-manggil untuk segera mendirikan sholat tiga rokaat. Di sisi lain adzan tersebut mengingatkan untuk segera bersiap-siap bergegas menuju area Taman Hutan Joyoboyo Kota Kediri yang kebetulan saat itu hari Jumat malam Sabtu Legi bertepatan jadwal rutinan Sinau Bareng Majelis Masyarakat Maiyah Sanggar Kedirian edisi tanggal 10 Januari 2020. Bersamaan dengan suara iqomah, tiba-tiba hujan turun membawa berkahnya berupa curahan air yang melimpah, seakan tumpah-ruah dari langit.


Terlihat wajah-wajah yang pasrah. Peralatan sound system, kompor, alas karpet dan lainnya yang terlanjur diturunkan dari kendaraan terpaksa ditutupi dengan menggunakan lembaran banner Sanggar Kedirian. Betapa tidak khawatir hatinya Kang Asrul, Kang Ilham dan beberapa sedulur SK karena peralatan tersebut basah kuyup. Namun apa daya, hujan yang semakin deras memaksa mereka untuk menikmati dingin sembari  berbasah-basahan. Meski telah menepi mencari tempat berteduh seolah derasnya air hujan tidak mau ditinggalkan dan memeluk mereka dengan cipratan-cipratan air lembutnya.


Sementara beberapa sedulur SK lainnya yang berencana berangkat seusai sholat Maghrib, mengabarkan bahwa belum bisa berangkat ke Taman Hutan Joyoboyo. Hujan mulai berkurang curahannya setelah Isya'. Kesempatan ini dimanfaatkan mereka untuk memacu sepeda motor menembus belaian lembut sang hujan.

Adalah Hartono, beserta anak bungsunnya yang masih kelas tiga SD yang pertama kali masuk di Musholla Taman Hutan Joyoboyo. Mereka kemudian langsung memasang banner tema Sanggar Kedirian “Problem Solving Organisme". Sementara ubo rampen lainnya baru cemepak pada pukul 21.15 WIB. Artinya molor satu jam lebih dari rutinan-rutinan sebelumnya. Mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa menyalahkan mekanisme organisme Tuhan. Yang bisa dilakukan hanya mengikuti aliran-Nya.


Begitu juga kesadaran positioning sedulur-sedulur Sanggar Kedirian yang langsung mengambil perannya masing-masing; tidak ada yang memerintah atau pun meminta. Mereka memberikan fungsi dirinya sesuai dengan kemampuan masing-masing; Kang Toma dan Kang Tomy yang paham elektronik memberikan tenaga fikirannya serta membawa perangkat sound system, Kang Dion menginfakkan tenaga pikirannya untuk membikinkan teh hangat dan kopi pelepas kantuk. Begitu juga yang lain, ada yang mengurusi infak pinjam Ndhedher untuk permodalan, ada yang mengurusi infak kas rutinan, yang suka musik memberikan hiburan sholawatan dan masih banyak lainnya. Aliran-aliran yang dilakukan sedulur-sedulur SK ini menjadi semacam romantisme perjalanan sehingga menjadi bahasan tema rutinan kali ini "Problem Solving Organisme”.


Lantas, apa itu Problem Solving Organisme?

Menurut Mas Rida, organisme adalah suatu kumpulan dari beberapa organ yang berkumpul dan bekerjasama. yang diupayakan untuk kerjasama. Kang Fathur menambahinya dengan menganalogikakan organ tubuh manusia yang mempunyai tugas masing-masing dan saling bersinergi meski tidak ada komando yang ditunjuk secara resmi. "Begitulah cara kerja organisme!" tegasnya. Mas Naufal dari Paseban Majapahit kemudian mencontohkannya dengan organisme semut.

Sementara menurut Cak Kan, dengan memakai cara pandang organisasi untuk melihat problem solving dalam organisme, pemimpin dalam sebuah organisasi yang telah ditunjuk harus tahu dan bertanggung jawab pada yang dipimpinnya. Itu sah-sah saja. Meski dalam organisme yang selama ini kira pahami, semua orang bertanggung jawab pada dirinya sendiri terlebih dahulu. Dari situ muncul istilah yang populer di kalangan penggiat Maiyah Sanggar Kedirian: tiada yang bisa kita tagih selain diri sendiri.


Jika kita bisa nanthing diri sendiri dan sudah sumeleh dengan kehendak-Nya, niscaya  masalah sebesar apapun tidak menjadi soal, begitu kata Mas Adi. Ia juga tak lupa mengingatkan untuk terus wiridan dan sholawatan agar bisa mengetahui kehendak Allah.

Allahu Allahu//Ya Rabbi Shalli Ala Mukhtar Thibbil Qulub... Menjadi salah satu kunci untuk mengetahui momentum kapan mencair, memadat, menguap, juga bertumbuh-kembang, sebelum akhirnya membusuk dan kembali kepada-Nya.

Dalam proses pembusukan tersebut, menurut Mas Andry, ada yang masih bisa digunakan dan ada yang harus dibuang karena mengandung racun. Keduanya bisa diketahui dengan mudah jika kita mengetahui permasalahan organisme. Dan jika mau memecahkannya atau menjadi problem solver, maka alangkah lebih baiknya jika meneladani Kanjeng Nabi yang sanggup mempersaudarakan kaum Ansor dan Muhajirin.


Namun satu hal yang harus kita tanamkan sebelum jauh-jauh membahas bagaimana menjadi problem solver dari organisme; pertama kita harus mengidentifikasi diri; di posisi manakah diri kita dalam sebuah organisme?

Continue reading ROMANTISME ORGANISME SANGGAR KEDIRIAN

PROBLEM SOLVING ORGANISME

Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 10 Januari 2020


Judul tema kali ini, menurut saya, terasa agak-gimana-gitu. Barangkali karena terbiasa dengan judul yang agak ke-jawa-jawa-an dan baru kedua kali ini menemui tema rutinan yang keminggris. Alhasil saya terpaksa membuka Google Translate untuk mengetahui artinya. Bukannya mendapat jawaban yang memuaskan, saya justru bingung dan tidak pedhe ketika akan menulis pambuka ini. Nah, di tengah kebimbangan itu secara klise saya teringat dawuhe Mbah Nun: Jawa digawa, Arab digarap, Barat diruwat. Seketika saja saya langsung menulis sembari berujar, "Sebenarnya yang saya bicarakan dari tadi itu tidak penting." Ada yang lebih penting dari itu, yaitu pembahasan mengenai organisme Maiyah. 

Dari dulu hingga kini bahkan mungkin sampai ke-1001 esok harinya lusa, kita akan terus mendialektikakan lelaku berorganisme yang sedang kita jalani. Selain karena di dunia ini tidak ada yang final juga karena kita lebih familiar dengan sistem organisasi yang rigid, kaku, dan padat. Ketika dihadapkan dengan organisme yang seolah-olah nampak cair dan alamiah, kita gagap memahaminya. Misalnya, dalam banyak forum diskusi yang sering kita perdebatkan cuma tentang kecairan dan kepadatan sebuah organisme. Bukankah masih ada proses lainnya; penguapan, pertumbuhan, perkembangbiakan, pembusukan, dan masih banyak lagi lainnya; termasuk yang ditiadakan ialah Sang Pemilik Organisme.

Di situlah letak kamanungsane kita. Seandainya kita diciptakan sebagai batu pasti auto madhep-mantep pada tatanan organisme-Nya sebagaimana yang disebutkan dalam al-Isra ayat 44. Disitu ada frasa walakin la tafqahuna, tetapi kamu tidak mengerti. Mbah-mbahane dewe pernah membuat rumusan bahwa wong pinter kui durung mesti ngerti, orang pintar itu belum tentu mengerti. Untuk lebih mengerti alangkah lebih baiknya jika dalam pembahasan Problem Solving Organisme kali ini kita lebih mengedepankan akal daripada syahwat untuk memenangkan argumentasi diri sendiri. 

Jadi, monggo kita saling urun rembug untuk mendalami organisme-Nya. 

Continue reading PROBLEM SOLVING ORGANISME

Menjalani Lelaku Kehidupan dengan Kesadaran Sami'na wa Atha'na

Reportase Sanggar Kedirian 6 Desember 2019


Saat Mas Sabrang dengan gaya retorika ala filsuf sedang membedah eskalasi kompleksitas yang mesti disadari oleh Simpul Maiyah yang hadir pada Silatnas Maiyah 2019, di Musholla Taman Hutan Joyoboyo, sedulur-sedulur Sanggar Kedirian, tengah menyinauni "Lika-Liku Lelaku". 

Ya, kebetulan rutinan Sanggar Kedirian pada Malam Sabtu Legi 7 Desember 2019 berbarengan dengan Silatnas Maiyah yang diselenggarakan di Semarang. Secara kebetulan juga saat Silatnas Maiyah tengah membahas complexity kahanan saat ini, Pak Bustanul Arifin tengah mentadabburi al Baqarah ayat 284-286-yang intinya adalah Al-Qadir tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Terakhir, satu contoh kebetulan lainnya ialah pada malam hari saat pembahasan lakuning urip seseorang sudah diatur oleh Sang Dalang, esoknya Mbah Nun menambahi, "Anda memasuki kompleksitas dengan trust. Yakni bukan hanya Anda berusaha percaya kepada Allah, tetapi juga bagaimana Anda harus membuktikan bahwa Anda dapat dipercaya oleh Allah." Seolah-olah semua kebetulan tersebut saling berkaitan meski dipisahkan ruang dan waktu. Jangan-jangan, seperti inikah sistem koordinasi organisme Maiyah?

Pertanyaan itu tidak perlu saya jawab di sini. Bagi yang sempat membacanya silahkan merenungkan jawabannya sendiri. Sekarang mari kita lanjutkan kembali reportasenya. Dimulai dengan tanggapan dari beberapa sedulur Sanggar Kedirian.


Kang Zainuri: kalau sudah diniati, maka tidak akan ada lika-liku lagi.

Mas Andri: tidak ada makhluk di dunia ini yang tidak diuji. Semua diuji dengan kapasitasnya masing-masing. Kalau tidak percaya mengapa Kanjeng Nabi sesampainya berjumpa Allah dan Bima setelah bisa masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci disuruh kembali ke dunia lagi? Artinya, tugas kekhalifahan di bumi belum selesai dan tidak boleh ditinggalkan. Semua harus dihadapi meski kadang tak semulus yang kita harapkan.


Seorang sedulur dari Pati: bercerita mengenai lika-liku kehidupannya yang pernah menjadi pemulung.

Kang Lathif: turut urun cerita perjalanan hidupnya hingga sampai aktif rutinan Sanggar Kedirian. Menurutnya, iklim paseduluran yang dibangun di Sanggar Kedirian tidak menganggap rendah orang yang baru masuk. Semua sama dan dianggap seperti saudara sendiri.


Lik Hartono: sebelum menanyakan perbedaan antara lelaku dengan aurad sempat bercerita sedikit mengenai kehidupannya yang sangat berlika-liku. 

Pak Bustanul Arifin kemudian menerangkan arti lelaku-yang tidak sama dengan pengertian kebanyakan orang karena beliau belajar Bahasa Jawa dari wejangan orang tua. Lelaku berasal dari kata laku. Laku berasal dari perkataan "loh itu aku", seperti itulah aku. Setiap orang memiliki kekhasan masing-masing. Ibarat penjahit satu dengan penjahit lainnya yang mempunyai teknik memasang kancing baju yang berbeda. Manakah yang paling benar? Entahlah. Yang penting tujuan dari adanya kancing baju tersampaikan, ya tidak masalah. 


Itu makna laku menurut othak-athik kebahasaan ala Pak Bustanul Arifin. Sementara lelaku secara sosio-culture dapat dimaknai sebagai syarat agar kita dapat melakukan "lakon" dengan baik. Kalau tidak tahu syarat suatu lelaku maka bertanyalah pada yang lebih mengetahui. Di sinilah posisi aurad itu-sebagai salah satu syarat dalam lelaku.

Lebih lanjut, Pak Bustanul Arifin bercerita, "Saya pernah sowan kepada seorang Kiai bersama teman-teman saya. Ada 5 orang dengan kasus yang sama. Diberi aurad yang berbeda-beda. Ada yang diberi aurad puasa 7 hari dengan berbuka tiap harinya berkurang satu kepel nasi. Hari pertama 7 kepel, kedua 6 kepel dan seterusnya. Tiba saatnya saya diberi aurad hanya perintah bersholawat saja. Tetap boleh makan." Kalau tujuannya menggak-menggok, tentu akan bertanya lagi, "Mbah Yai, kenapa tidak seperti teman saya? Seumpama ditambahi masih kuat kok."


Jika kita langsung mantep nglakoni, maka sebenarnya tidak pernah ada lika-liku. Semua yang sudah, yang sekarang, yang belum, dan yang akan kita kerjakan sesungguhnya selalu diberikan petunjuk oleh Allah. Tinggal kita mau atau tidak menjemputnya sembari matur, "Wa qalu sami'na wa atha'na," sendika dawuh, Gusti.

(Zakaria)

Continue reading Menjalani Lelaku Kehidupan dengan Kesadaran Sami'na wa Atha'na

Lika-Liku Lelaku

Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 6 Desember 2019


Duh Gusti mugi paringo ing margi kaleresan||Kados margine manungso kang manggih kanikmatan||Sanes margine manungso kang paduko laknati||

Wirid Duh Gusti yang baru saja kita lantunkan, konon, adalah hasil renungan dari ayat terakhir surat Al-fatihah. Jika setelah ini ada yang mau mengamalkannya setiap tarikan nafas atau setelah shalat atau sekali seumur hidup, itu terserah. Yang pasti, kita membutuhkan hidayah-Nya untuk mengarungi lika-liku lelaku kehidupan. 

Ihdinas shirathal mustaqim... sampai segitunya Allah mengajari makhluk hina ini lewat kalam-Nya. Sebab Allah tahu bahwa shirat yang kita tempuh bukan kaleng-kaleng. Dengan terus membacanya sembari centak-centuk selama lebih dari sekali dalam sehari, barangkali bisa membuat kita tatag meniti shirat-yang tak selamanya mulus; kadang jalanannya rusak, bergelombang; tidak jarang ada kelokan tajam nan curam; tak sekali-duakali menemui pengendara lain yang memaksa kita ke luar jalur. 

Dalam Maiyah kita dibekali pemahaman mengenai sabil, syari', thariq, dan shirat. Sabil itu arah hidup kita; apakah untuk kesia-sian atau beribadah. Jika sudah tahu, kita akan menempuhnya melalui jalan yang disebut syari'. Kadangkala saat fokus menuju tujuan, tak disangka di pinggir jalan kita melihat orang yang kehabisan bensin. Lantas bagaimanakah sikap kita? Jika sumeleh dan menyadari bahwa hal itu adalah dinamika ijtihad dalam menempuh jalan, maka kita sadar dengan konsekuensi thariqah ini. Jika tidak? Entahlah. Di situlah shirat kita diuji; seberapa presisikah kita menempatkan diri dalam perjalanan fana menuju baqa

Atau jangan-jangan kita terlanjur GR-karena beranggapan dengan seringnya bermaiyah secara otomatis membuat kita tidak bingung dengan arah tujuan hidup. Oh...

Continue reading Lika-Liku Lelaku

Seperti Tempe, Manusia Juga Terus Berproses untuk Mengetahui Dirinya

Reportase Rutinan Sanggar Kedirian “Tahu ke-Diri” 1 November 2019


Malam itu, sampai dengan pukul 20.30 WIB yang berkumpul hanya sekitar sepuluh orang. Sebagai penggiat, tentu ada rasa khawatir juga. Bagaimana jika nanti sinau bareng hanya diikuti oleh beberapa orang saja? Meski jumlah orang bukan patokan keberhasilan dan rutinan sinau bareng tetap akan dilaksanakan, namun terlalu sedikit yang datang juga perlu menjadi bahan evaluasi.

Untungnya setengah jam kemudian banyak yang datang berbondong-bondong. Mereka langsung bergabung, melingkar bersama sedulur yang lain. Diskusi pun semakin semarak dan hangat setelah pemanasan “adu dengkul” yang digawangi oleh Kang Har.

Tamu dari Ndalem Pojok turut hadir pada malam itu. Ndalem Pojok pernah menjadi saksi kehidupan Soekarno. Sewaktu kecil beliau pernah hidup di situ. Rumah yang pernah ditempati Soekarno sekarang menjadi situs bersejarah dan menjadi wadah berkegiatan lintas komunitas. 

“Saya menemukan tempat diskusi dimana orang-orangnya rendah hati,” ucap Mas Kusno, selaku perwakilan dari Ndalem Pojok. “Inilah perbedaan sinau bareng dengan diskusi pada umumnya. Di sini tidak ada yang memaksakan kehendaknya.”

“Memang benar. Orang-orangnya rendah hati. Saya harus mesti belajar tahu diri. Belajar mengetahui diri sendiri dulu sebelum mengetahui orang lain,” timpal perwakilan Ahmadiyah yang turut datang bersama Mas Kusno. Ia selalu mengawali dan mengakhiri pendapatnya dengan salam. Barangkali karena ia adalah seorang muballigh Ahmadiyah yang tahu diri. Beliau sadar berbeda dengan yang lain. 


Perbedaan tidak perlu dirisaukan, apalagi sampai dilabeli sesat. Simbah kita mengajarkan untuk menampung semua perbedaan yang ada, kemudian mengeksplorasinya hingga menemukan titik ketersambungannya dengan Tuhan. 

Dan tidak hanya perbedaan saja yang dieksplorasi, kemampuan diri adakalanya juga harus dieksplorasi, begitu dawuh Pak Bustanul Arifin. Tujuannya agar kita tahu ke-diri; artinya tidak hanya sadar kesalahan dan kekurangan melainkan juga sadar dengan potensi yang ada pada diri kita. “Kalau mau tahu diri baca surat Thoha!” Tegas Pak Bustanul Arifin.


Beliau kemudian mengeksplorasi pemaknaan unen-unen “isuk dele sore tempe”. Selama ini rura basa tersebut dikonotasikan negatif. Pak Bustanul Arifin kemudian mengembalikan denotasinya: hidup itu yang diharapkan selalu ada perubahan. Seperti proses kedelai menjadi tempe yang melalui peragian. Ragi, dalam Bahasa Jawa, sama dengan regi, artinya sesuatu yang berharga. Seseorang yang terus-menerus mengolah dirinya akan menjadi berharga. Ibarat kedelai berubah menjadi tempe. Tempe lama-kelamaan juga akan mengalami perubahan menjadi tempe bosok. Seseorang yang sudah berharga akan mengalami fitnah. Maka tempe bosok diolah lagi menjadi sambel tumpang agar kembali bermanfaat. Nah, biasanya sambel tumpang dilauki tahu karena tahu tidak bakal berubah. Di situlah manfaat tahu (ke-diri).

Sekian.

Continue reading Seperti Tempe, Manusia Juga Terus Berproses untuk Mengetahui Dirinya

Tahu ke-Diri

Pambuko Rutinan Sanggar Kedirian 1 November 2019
Mungkin di antara kita, ketika membaca judul tema ‘Tahu ke-Diri” maka yang terbesit di kepala adalah makanan tahu kuliner khas Kediri yang melegendaris hingga kini. Makanan yang menggunakan kedelai sebagai bahan baku utamanya ini, seakan merupakan menu wajib makanan kita sehari-hari. Meskipun tidak salah juga jika apa yang terbesit dari judul tema kali ini adalah sebatas materi berupa makanan khas tadi, namun setidaknya kita tidak berhenti sampai disitu. Bukankah keseluruhan alam semesta ini Allah mempersaksikan diri-Nya kepada setiap hamba-Nya dengan beragam cara dan berbagai peristiwa? Itulah nilai dari peristiwa kehidupan.

Sebelum menyimpulkan dan memetakan segala masalah, kita harus berhati-hati dengan yang namanya alur sebab-akibat. Jangan sampai gara-gara hal tersebut, kita salah identifikasi. Sehingga bekal utama manusia itu bukan ilmu, tetapi tawadhlu’. Harapannya, dengan tema “Tahu ke-Diri” ini minimal kita dapat mengindetifikasi permasalahan sehingga tahu bagaimana cara menyelesaikannya. Sudahkah kita mencari penyelesaian dari asal-muasal dari bermacam sebab-akibat yang telah kita lalui di kehidupan ini oleh segala macam peristiwa yang terjadi?


Continue reading Tahu ke-Diri

Tahaddus Bin Ni'mah, Jejak Perjalanan Batin dalam Maiyah

Nama: Asrul Rifa’i


TAHADDUS BIN-NI’MAH

Kehidupan Pribadi: Alhamdulillah oleh Allah diperjalankan untuk diperkenalkan maiyah. Awal mula maiyahan, saya tidak terasa kuat bertahan berdiri dari acara mulai sampai akhir. Kemudian berlanjut perbaikan-perbaikan diri. Ada kalanya perubahan secara materi biasa-biasa saja. Namun perjalanan batin tak terkira banyaknya rezeki Allah yang turun.

Keluarga: Alhamdulilah bisa berkeluarga dan bertempat tinggal di Kediri, di rumah sendiri setelah sebelumnya tidak karuan.

Kebersamaan Maiyah: Menemukan dulur-dulur yang peduli. Mau mengingatkan ketika salah. Kadang ada dulur yang sangat berseberangan, kadang membencinya dalam lain waktu malah sangat tresno dengannya.

Semacam berorganisasi namun tanpa struktur ketua-anggota. Penugasan atas krentek diri sendiri yang menjadi tanggung jawabnya dan rasa syukur karena telah diberi Allah kemampuan melaksanakan tugas.

Keummatan: Semakin dibukakan pintu-pintu ilmu sehingga bisa berpikir lebih seimbang di tengah berbagai golongan yang ada.

Kemasyarakatan: Menjadi srawung dan urap-urup. Terkadang malah menemukan ilmu kebijaksanaan dari sesrawungan meski di warung kopi.

Sebagai bangsa Indonesia: Mulai sedikit-sedikit belajar tentang Jawa dan mulai “puasa” menikmati sajian hiburan barat. “Puasa” mendewakan Arab. “Puasa” transaksional materi Cina. Bukan anti Arab, Barat dan Cina namun semata mencari titik keseimbangan sebagai orang asli Jawa, yang memangku Arab, Barat dan Cina.

Sebagai warga dunia: Mulai sedikit-sedikit belajar tentang sejarah. Sirna Ilang Kertaning Bhumi, Renaissance, Turki Usmaniyah, Khulafaur-Rasyidin, Abbasiyah, Umayyah, Revolusi Industri, Globalisai, Kapitalisme, Sosialisme-Komunisme, dll.


SARAN

Mbah Nun: Mboten pantes menawi kulo maringi saran. Namung badhe ngucap, “Matur sembah nuwun, Mbah”. Kulo gadhah utang katah teng nggene panjenengan. Mugi anggen kulo urap-urup teng Sanggar Kedirian saget dados “nyicil utang” kulo kalian rasa syukur teng nggene gusti Allah sampun dikenalne panjenengan lan Maiyah. 

Koordinator Simpul: Maaf mas. Para penggiat simpul kami masih tahap belajar. Dunia literasi, dokumentasi dan IT masih banyak yang asing di telinga para penggiat. Meskipun ada juga yang mahir dalam bidang itu tapi kurang “berjodoh” dengan Maiyah dan Sanggar Kedirian. Kami masih berkutat dengan persoalan ekonomi, ketentraman keluarga, utang-piutang, dll. Dunia kami berkutat pada pereratan silaturahmi fisik di warung kopi.

Semoga dilipatgandakan kesabaran ya mas.


Redaktur Maiyah:

  1. Mengadakan even-even seperti halnya diskusi sewelasan di daerah-daerah.

  2. Jika ada tulisan yang tidak lolos di web caknun.com mohon dikonvirmasi bahwa tulisannya kurang layak. Syukur diberi tahu kekurangannya. Ibarat sorogan Al-quran, agar cepat bisa, jika ada kesalahan langsung saja disalahkan agar tahu mana yang salah dan tahu mana yang harus dibenahi. Ditolak 7x pun tidak masalah dan malah bersyukur jika dengan itu tahu kekurangannya.


*Artikel ini ditulis untuk dikirim ke progres sebagai jawaban atas permintaan progres kepada seluruh simpul untuk menuliskan tadaddus bin ni’mah atas Maiyah.


Continue reading Tahaddus Bin Ni'mah, Jejak Perjalanan Batin dalam Maiyah