Tampilkan postingan dengan label Kolom Jamaah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Jamaah. Tampilkan semua postingan

Memenjarakan Diri Sendiri

7 Oktober 2019

Gatot SP

Terkadang kita sering memenjarakan diri sendiri dengan menyempitkan makna sebuah kata. Mrongos, misalnya, kita memaknainya sebagai seseorang yang diberi kelebihan gigi dibandingkan orang pada umumnya. Dan orang yang kita anggap mrongos akan tersinggung jika kita menyebutnya seperti itu karena menganggap mrongos itu jelek.

Pertanyaannya, siapa yang menyatakan kalau mrongos itu jelek? Darimanakah stereotip tersebut berasal? Apakah dari lingkungan sekitar atau dari diri kita sendiri? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang patut kita simulasikan sebelum terlalu jauh menuduh Tuhan telah menciptakan sesuatu yang jelek.

Maka mari kita lapangkan dada, meluaskan cakarawala pikiran, dan jangan terburu-buru menyikapi sesuatu yang mungkin belum kita ketahui duduk perkaranya.

Continue reading Memenjarakan Diri Sendiri

Jangan Sempit!

10 November 2019

Gatot SP

Terkadang kita sering memenjarakan diri sendiri dengan kesempitan dalam pemaknaan sebuah kata yang disepakati antara manusia satu dengan manusia yang lainnya.

Semisal dicontohkan manakala seseorang yang kebetulan diberi kelebihan gigi daripada umumnya (mrongos). Manakala dia dibilang mrongos dia akan marah. Karena mrongos dianggapnya jelek.

Siapa bilang kalau mrongos itu jelek?

Pemikiran kita sendiri yang menganggap bahwa mrongos itu jelek. Ditambah perasaan yang seakan mengiyakan bahwa mrongos tersebut jelek.

Dan tanpa sadar kita menuduh Tuhan yang membuatnya jelek.

Maka mari kita lapangan dada, jangan sempit dalam berfikir dan menyikapi sesuatu yang mngkin kita tidak tahu apa maksud dibalik itu, karena kita punya batasan.

Continue reading Jangan Sempit!

Tahaddus Bin Ni'mah, Jejak Perjalanan Batin dalam Maiyah

Nama: Asrul Rifa’i


TAHADDUS BIN-NI’MAH

Kehidupan Pribadi: Alhamdulillah oleh Allah diperjalankan untuk diperkenalkan maiyah. Awal mula maiyahan, saya tidak terasa kuat bertahan berdiri dari acara mulai sampai akhir. Kemudian berlanjut perbaikan-perbaikan diri. Ada kalanya perubahan secara materi biasa-biasa saja. Namun perjalanan batin tak terkira banyaknya rezeki Allah yang turun.

Keluarga: Alhamdulilah bisa berkeluarga dan bertempat tinggal di Kediri, di rumah sendiri setelah sebelumnya tidak karuan.

Kebersamaan Maiyah: Menemukan dulur-dulur yang peduli. Mau mengingatkan ketika salah. Kadang ada dulur yang sangat berseberangan, kadang membencinya dalam lain waktu malah sangat tresno dengannya.

Semacam berorganisasi namun tanpa struktur ketua-anggota. Penugasan atas krentek diri sendiri yang menjadi tanggung jawabnya dan rasa syukur karena telah diberi Allah kemampuan melaksanakan tugas.

Keummatan: Semakin dibukakan pintu-pintu ilmu sehingga bisa berpikir lebih seimbang di tengah berbagai golongan yang ada.

Kemasyarakatan: Menjadi srawung dan urap-urup. Terkadang malah menemukan ilmu kebijaksanaan dari sesrawungan meski di warung kopi.

Sebagai bangsa Indonesia: Mulai sedikit-sedikit belajar tentang Jawa dan mulai “puasa” menikmati sajian hiburan barat. “Puasa” mendewakan Arab. “Puasa” transaksional materi Cina. Bukan anti Arab, Barat dan Cina namun semata mencari titik keseimbangan sebagai orang asli Jawa, yang memangku Arab, Barat dan Cina.

Sebagai warga dunia: Mulai sedikit-sedikit belajar tentang sejarah. Sirna Ilang Kertaning Bhumi, Renaissance, Turki Usmaniyah, Khulafaur-Rasyidin, Abbasiyah, Umayyah, Revolusi Industri, Globalisai, Kapitalisme, Sosialisme-Komunisme, dll.


SARAN

Mbah Nun: Mboten pantes menawi kulo maringi saran. Namung badhe ngucap, “Matur sembah nuwun, Mbah”. Kulo gadhah utang katah teng nggene panjenengan. Mugi anggen kulo urap-urup teng Sanggar Kedirian saget dados “nyicil utang” kulo kalian rasa syukur teng nggene gusti Allah sampun dikenalne panjenengan lan Maiyah. 

Koordinator Simpul: Maaf mas. Para penggiat simpul kami masih tahap belajar. Dunia literasi, dokumentasi dan IT masih banyak yang asing di telinga para penggiat. Meskipun ada juga yang mahir dalam bidang itu tapi kurang “berjodoh” dengan Maiyah dan Sanggar Kedirian. Kami masih berkutat dengan persoalan ekonomi, ketentraman keluarga, utang-piutang, dll. Dunia kami berkutat pada pereratan silaturahmi fisik di warung kopi.

Semoga dilipatgandakan kesabaran ya mas.


Redaktur Maiyah:

  1. Mengadakan even-even seperti halnya diskusi sewelasan di daerah-daerah.

  2. Jika ada tulisan yang tidak lolos di web caknun.com mohon dikonvirmasi bahwa tulisannya kurang layak. Syukur diberi tahu kekurangannya. Ibarat sorogan Al-quran, agar cepat bisa, jika ada kesalahan langsung saja disalahkan agar tahu mana yang salah dan tahu mana yang harus dibenahi. Ditolak 7x pun tidak masalah dan malah bersyukur jika dengan itu tahu kekurangannya.


*Artikel ini ditulis untuk dikirim ke progres sebagai jawaban atas permintaan progres kepada seluruh simpul untuk menuliskan tadaddus bin ni’mah atas Maiyah.


Continue reading Tahaddus Bin Ni'mah, Jejak Perjalanan Batin dalam Maiyah

Tahaddus Bin Ni'mah, Cinta untuk Maiyah

Oleh: Hartono Basingkem

Maiyah adalah jawaban solusi permasalahan negeri ini untuk era mulai tahun 2000 hingga era milenial muncul sekarang. diakui atau tidak oleh seluruh elemen bangsa Indonesia, Maiyah sudah banyak memberi peran memecahkan masalah bangsa ini. sebagaimana dulu lahir Muhammadiyyah dan juga Nahdlotul Ulama yang saat itu zaman penjajahan Belanda diatas era tahun 1900 menjadi solusi bangsa Indonesia untuk lepas dari penjajahan Belanda. 


Maiyah lahir disaat bangsa Indonesia mengalami pemimpinnya saling curiga saling menjatuhkan satu sama lain, golongan satu menjatuhkan golongan lain, budaya indonesia yang mulai tergerak oleh budaya luar, saat rakyat mulai kehilangan kepercayaan kepada pemimpin, disaat rakyat selalu dibohongi oleh pemimpinnya sendiri dan disaat terjadi dismoralisasi di berbagai elemen. 


Maiyah membangkitkan kembali untuk hidup saling mencintai secara sejati dalam konteks kemanusiaan maupun kenegaraan. Maiyah mencoba mengembalikan jati diri bangsa Indonesia kepada karakter asli bangsa Indonesia yang sebenarnya sebagaimana nenek moyangnya yang merupakan orang-orang hebat. Kehebatan nenek moyang bangsa Indonesia ini bisa dilihat dari peninggalan yang ada seperti Candi Borobudur salah satunya. 


Candi Borobudur adalah salah satu saksi nyata bahwa leluhur bangsa Indonesia memiliki peradaban yang luar biasa. Dari sisi arsitektur apakah pemerintah Indonesia mampu membuat karya yang menyamai Borobudur? Dari sisi kualitas apakah pemerintah Indonesia mampu menyaingi membuat proyek yang bisa bertahan hingga berabad-abad seperti Borobudur? Jangan kan bertahan berabad-abad, proyek negara saat ini banyak yang belum selesai sudah bermasalah entah itu terbelit masalah korupsi atau yang lainnya hingga akhirnya mangkrak. 


Maiyah mencoba mengembalikan kemurnian kepemimpinan bangsa sebagaimana leluhurnya. Borobudur dibangun hingga memakan waktu 75 tahun, di zaman sekarang adakah proyek yang berkelanjutan hingga memakan waktu melebihi setengah abad? apalagi dengan kepemimpinan yang hanya memiliki masa 5 tahunan setelah itu disibukkan dengan memilih kembali pemimpinnya yang kenyataannya diwarnai pertengkaran satu sama lain. apalagi dengan model pemilihan pemimpin yang membutuhkan biaya besar untuk maju menjadi pemimpin memaksa kepemimpinan menjadi model industri baru yang tentunya menghitung berapa modal dikeluarkan dan berapa neraca keuntungan yang bisa diperoleh? 


Borobudur dibangun dengan melalui masa kepemimpinan raja yang berganti-ganti karena proses pembangunan memakan waktu lama. raja yang berikutnya memimpin melanjutkan kembali proses Borobudur yang digagas raja sebelumnya. disini bisa kita lihat betapa pemimpin tidak berfikir membuat proyek yang bisa menguntungkan di masa kepemimpinannya saja, tapi membuat proyek yang menguntungkan anak cucunya hingga masa sekarang zaman negara indonesia. 


Maiyah lahir untuk kembali membangkitkan dan melahirkan pemimpin yang tidak mencari keuntungan saja selama masih bisa berkuasa. Maiyah membangun keberanian generasi yang siap berfikir untuk anak cucu nya kelak. Maiyah mengajak pemimpin bangsa ini berani membuat sesuatu yang manfaatnya bisa dirasakan anak-anak cucunya kelak sebagaimana kerajaan syeilindra membangun Borobudur yang masih memiliki banyak manfaat dari sisi ekonomi sosial maupun budaya oleh rakyat Indonesia. 


Maiyah adalah jawaban atas permasalahan bangsa saat ini. Maiyah adalah sebuah kebenaran untuk saat ini. namun sebagai pelaku Maiyah mari tetap kita bangun rasa berendah hati, Maiyah bukan satu-satunya kebenaran yang ada saat ini. mari tetap bersadar diri bahwa masih ada yang murni diluar Maiyah yang sangat mungkin yang diluar itu tidak bersedia menampilkan dirinya. 


Jangan sampai ajibah - ajibah Maiyah yang ada malah menjadikan kita menjadikan kita takabur, jangan sampai ajibah Maiyah menjadi penglulu allah atas kesombongan kita yang timbul atas rasa paling baik paling benar. mohon maaf saya sangat mencintai Maiyah karena Maiyah menjadikan diri ini kuat, Maiyah adalah universitas kehidupan saya yang sangat saya cintai. ini Tahaddus bin ni'mah ku untuk Maiyah ku. mohon maaf cak fuad, mohon maaf cak Nun kalau tulisan ini terlalu lancang. ini adalah bagian dari cintaku. 



*Artikel ini ditulis untuk dikirim ke progres sebagai jawaban atas permintaan progres kepada seluruh simpul untuk menuliskan tadaddus bin ni’mah atas Maiyah.


Continue reading Tahaddus Bin Ni'mah, Cinta untuk Maiyah

Tahaddus Bin Ni'mah, Ndhedher di Rumah Kedua

 


Nama: Andry Khusnul Ichsan

Bagi saya, Maiyah adalah “rumah kedua”. Rumah yang mempunyai ruangan sangat luas sehingga mampu menampung apapun saja. Saya memandang bahwa masing-masing jamaah Maiyah mempunyai hak prerogratif memegang kunci dan passwordnya, sehingga siapapun ia bisa memasuki rumah tersebut dari segala sisi yang ia sukai.

Hal yang membuat saya seringkali kangen dan betah berlama-lama di rumah ini adalah aktivitas melingkar Sinau Bareng. Karena segala hal yang disampaikan di “Rumah Maiyah” ini bukan merupakan bentuk klaim kebenaran mutlak, bukan pula sesi pengkultusan buah pemikiran yang dianggap sebagai satu-satunya kebenaran yang harus diamini bersama, akan tetapi intinya lebih pada sesrawungan dalam belajar bersama-sama menikmati proses pencarian kebenaran yang sejati.

Paseduluran, asah-asih-asuh, saling memberi rasa aman antara satu dengan lainnya menjadi semen perekat bangunan rumah ini. Maka tak ayal jika dari rumah ini pulalah terinisiasi gerakan-gerakan seperti PPD, Ndeder, Reresik, dll.

Harapan saya semoga “Rumah Maiyah” ini bisa menjadi ikhtiar kebersamaan untuk terus menurus ndhedher, nandur serta merawat benih-benih kelapangan hati, keluasan sudut pandang dan kejernihan berfikir sehingga menghasilkan kuda-kuda yang jejeg serta langkah yang mantap. Dan mudah-mudahan dari Rumah ini pula kelak akan tumbuh benih-benih baru yang senantiasa bersemi dari generasi ke generasi berikutnya. Generasi Pembaharu masa depan bangsa.

*Artikel ini ditulis untuk dikirim ke progres sebagai jawaban atas permintaan progres kepada seluruh simpul untuk menuliskan tadaddus bin ni’mah atas Maiyah.

Continue reading Tahaddus Bin Ni'mah, Ndhedher di Rumah Kedua

Pendidikan yang Mendidik

 


Kehidupan terus bergulir, tak berhenti, hingga tercipta skema jalur regenerasi. Begitupun jalur pendidikan. Pendidikan anak tercipta karena pemahaman dan pengalaman orang tua. Mempersiapkan generasi anaknya agar bisa lebih terampil dan mudah dalam berkehidupan. Inilah cikal bakal pendidikan formal.

Setiap orang tua tentu tidak memiliki keterampilan di semua bidang sehingga muncullah ide pendidikan dengan keterampilan tertentu. Meluasnya interaksi masyarakat melahirkan pendidikan formal seperti yang sekarang kita kenal.

Pendidikan pondok pesantren sebagai pendidikan semi-formal merupakan pendidikan yang tidak melupakan orang tua sebagai acuan awal pendidikan. Lembaga ini menerapkan pendekatan-pendekatan emosi. Interaksi guru dan murid menjadi lebih mudah dalam berbagi ilmu seperti orang tua dan anaknya. Namanya pondok pesantren syaratnya ya harus mondok/bermukim.

Pendidikan formal yang basisnya memposisikan pendidik hanya sebagai penyampai mulai mengikis metode pendidikan orang tua-anak dan merubah alur regenerasi pendidikan. Pendidikan yang awalnya mencakup berbagai lini mengerucut hanya beberapa saja. Tujuannya berubah menjadi urusan materi saja. Pengetahuan tidak membuahkan perbaikan perilaku. Maka seperti inilah warna pendidikan kita.

Kesimpulanya, monggo kita beteti dulu kemanusiaan kita. Baik sebagai orang tua ataupun sebagai penggagas pendidikan umum. Agar generasi kita tak hilang kemanusiaannya. (Fajar)

Continue reading Pendidikan yang Mendidik