Kembali ke Setelan Pabrik

Pambuko rutinan Sanggar Kedirian 9 April 2021


Memasuki beberapa hari menjelang bulan Ramadhan 1442 H, Sinau Bareng Sanggar Kedirian kali ini dengan tema Kembali ke Setelan Pabrik, hal ini tak lepas dari sebuah ajakan untuk kita kepo sama diri kita sendiri. Karena ”Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu”, “Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya”. Logika pemahamannya, dengan kita mengenali diri sendiri merupakan salah satu jalan mengenal yang sejati Allah SWT.


Belakangan ini kita memang sedang dilanda oleh fanatisme-fanatisme, heroisme golongan yang direproduksi terus-menerus, pembangunan militansi sempit berbenturan dengan militansi golongan lain sehingga yang terkorbankan adalah kehidupan sesrawungan, bebrayan dan komunalitas. Kita mengingat kembali, bahwa sejak dulu manusia Jawa-Nusantara sudah punya istilah empan papan, atau istilah modernnya disebut positioning dan ini adalah inti dari segala manajemen. Setiap hari bahkan setiap detik harus tahu posisi kita dan harus melakukan apa, ini merupakan satu kunci juga agar kita terselamatkan dari fanatisme golongan dengan menyadari bahwa semua versi kebenaran selalu relatif bila datangnya dari manusia.


Dalam ilmu psikologi ketika kita berada di dalam posisi bersedih, patah hati atau galau itu semua melalui proses yang namanya “menolak”, dan ketika kita merubah proses itu dengan “menerima”, selesai masalah. Tentu dengan pertimbangan presisi batas diri masing-masing manusia dan Intinya perjalanan adalah mencari apa yang sejati. Karena sejati tak akan terganti, maka “Kembali ke Setelan Pabrik” adalah konsep perilaku kepasrahan sebagai manusia kepada Allah Swt.


Tentu ini adalah positioning yang diperlukan dalam nilai-nilai perjuangan panjang yang tidak bersifat sementara, namun untuk sesuatu yang abadi. Tahun-tahun ke depan jelas sangat sulit untuk kita prediksi apa yang akan terjadi. Jangankan mengenai peta perpolitikan nasional ataupun bencana kesengajaan internasional bahkan kita tidak tahu mengenai nasib diri kita sendiri. Harapannya, ini tidak menjadikan diri kita pesimistis dalam menghadapi masa depan, namun justru dengan kepasrahan kita kepada Allah Swt semestinya mampu membuat diri kita untuk optimistis menyongsong masa depan dengan cara berusaha mengikuti akhlak Rasulullah menjalani kehidupannya. Bagaimana caranya?



Catatan:

Akan dimulai lebih awal jam 19.30 dengan kirim doa.


0 komentar:

Posting Komentar