Gak Bar-Bar..!!, Sabaaar..?!

Pambuko rutinan Sanggar Kedirian 23 Juli 2021


Berduyun-duyun sejumlah orang, belasan, puluhan namun belum pernah hingga berjumlah hingga ratusan orang duduk melingkar sambil ngopi, tertawa, bergembira. Ada pula yang sambil ngudud namun akan dimatikan batangnya ketika saatnya sholawatan dan wiridan. Semua hanyut dalam kekhusyukan kerinduan. Itulah gambaran suasana Sinau Bareng di Sanggar Kedirian, salah satu Majelis Maiyah yang telah diselenggarakan hampir satu dekade.


Berawal dari segelintir orang, kemudian belasan hingga kini mencapai puluhan. Di setiap malam Sabtu Legi bersama duduk melingkar, bertukar pikiran, berbagi pengetahuan membunuh kesombongan ego intelektual, tak ada yang merasa lebih tahu, tak ada yang dianggap paling dungu, semua berproses mencari kebenaran di dalam kesabaran, bukannya saling tuding menyesat-sesatkan pandangan.


Tak mudah menjaga keberlangsungan forum Sinau Bareng ini. Keswadayaan bersama membangun kesadaran organisme yang terus menerus meniti kesabaran untuk tidak tergoda memadatkan dirinya menjadi suatu identitas komunal tertentu, apakah itu organisasi massa (ormas), perkumpulan, yayasan, perguruan, atau bentukan-bentukan lain. Di sini tampak bahwa kesabaran yang ditempuh Maiyah tidak berarti kelambanan atau stagnasi dalam geraknya, bahkan di dalamnya secara personal berlangsung pusaran yang terus menerus nggiser. Namun demikian, sejak adanya pandemi Covid-19-yang sudah berlangsung kurang lebih 16 bulan hingga entah sampai kapan hal ini akan berlangsung-terjadi dampak kepada pola kehidupan kita bahkan juga mungkin pada pendapatan kita dan banyak hal lain yang mungkin kita mengalami apa yang disebut sebagai kekacauan batin dan pikiran. Baik dari kebijakan pejabatnya, kebenaran informasinya, kepentingan pribadi-pribadi manusianya dan segala macam hal yang terkesan tidak becus dan serius pengelolaannya. 


Dari kerangka itulah bagaimana kita saling menguatkan batin agar tidak terlibat dalam kekacauan ini? Meskipun dalam keadaan yang seperti ini, adakah kita menemukan jawaban terhadap taddaburan kita selama ini?


Mbah Nun pernah menyinggung idiom ”La'ibun wa lahwun" dalam Surat al-An'am ayat 32, “Wa mal hayatud dunya illa la'ibun wa lahwun, walad darul akhiratu khairul lillazdiina yattaquun, afalaa ta'qiluun.” Artinya: ”Dan setiap kehidupan yang ada di dunia ini tiada lain kecuali permainan dan senda gurau, dan sungguh akhirat adalah tempat yang terbaik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” Pendek kata, Mbah Nun mengingatkan bahwa jauh-jauh hari Gusti Allah sudah memperingatkan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah permainan, tinggal kita mampu untuk memahaminya atau tidak. Memangnya kalau sudah paham lantas mau bagaimana? Nah itulah salah satu pertanyaannya. Barangkali bisa dijadikan sebagai bahan pemantik diskusi rutinan Sanggar Kedirian malam ini. Monggo...


0 komentar:

Posting Komentar