Obor Paseduluran

Pambuko Sanggar Kedirian 20 Januari 2017


Mereka yang diperjalankan ke majelis rutinan Sanggar Kedirian berbekal hati yang murni. Ketika kemurnian hati itu yang dibawa dari rumah, maka yang akan didapatkan adalah ilmu-ilmu dan kesadaran-kesadaran rohani yang dianugerahkan langsung oleh Allah. Dengan Ke-diri-an, akan menumbuhkan manusia-manusia sejati yang bertanggung jawab atas kedaulatan dirinya, keluarganya dan manusia-manusia yang diberkahi ilmu dan ke-linuwih-an yang consern pada nilai-nilai kebersamaan untuk saling memanusiakan manusia

NILAI PASEDULURAN

Seiring berjalannya waktu sejak rutinan Kedirian generasi awal, tahun 2011 hingga sekarang bernama Sanggar Kedirian telah mengalami berbagai perjumpaan yang saling menyemburatkan cahaya, layaknya pertemuan sinar fajar mentari kepada penghuni bumi yang membuat kita lebih semangat dalam mengarungi kehidupan. Kehidupan kita bukan hanya menerima atau memantulkan tapi juga turut berpartisipasi dalam pembentukan cahaya dalam diri, keluarga, masyarakat bahkan semesta. Perjumpaan yang saling memantulkan cahaya ilmu kehidupan  tak hanya perjumpaan fisik namun juga gelombang dan rohani. Ada yang menarik di sini, tumbuhnya mereka merupakan satu kesadaran baru, ghirah gerakan Islam yang tidak sekadar berlandaskan satu gejala ikut-ikutan (eskapisme) saja, apalagi bernuansa bisnis, namun tumbuh dari hati yang paling dalam, yakni sebuah kerinduan akan tumbuhnya paseduluran dan cinta kasih kepada Allah dan Rasulullah.

Di antara mereka bahkan dengan bangga menyebut Sanggar Kedirian sebagai Majelis Tanpa Ustadz. Ini bisa saja hanya sebuah sindiran atas maraknya ustadz-ustadz komersial, namun boleh jadi pula mereka sudah memahami apa itu sebenarnya yang dimaksud sifat Kedirian. Dalam Sanggar Kedirian tidak ada aktor tunggal, tidak ada tokoh, semuanya duduk melingkar, sederajad, tidak ada ustadz, namun semuanya tunduk dan berendah hati di hadapan Allah SWT dan Rasulullah guna menjalin paseduluran. Tidak  ada yang pandai atau yang bodoh. Kalaupun ada yang berbicara atau sebagai narasumber, itu sifatnya hanya fasilitator untuk berdiskusi, sembari memberi pancingan-pancingan segar agar ditanggapi bersama.

Ada energi yang menguatkan mereka, dan bermuara kepada tujuan untuk saling membesarkan hati diantaranya dan saling menabur cinta, membesarkan tekad untuk memperbaiki diri, memperbaiki keluarga, syukur memperbaiki bangsa negara sampai alam semesta ini. Mereka adalah orang-orang yang bersentuhan hatinya satu sama lain. Lalu mereka saling membukakan sesuatu di antara mereka. Dan saling menemukan puzzling masing-masing.

Kalau meminjam dari bahasa Maiyah, ma`a, Maiyah yang berarti kebersamaan, bukan kebersamaan yang hanya secara fisik belaka, namun bersama menyatu dalam hati kita. Tidak saja hanya bersama antara kita saja namun juga bersama dengan Allah sang pencipta dan Rasulullah SAW. Bersama disini adalah “saling” dengan berbagai hal baik. Rosulullah SAW juga berpesan kepada umatnya agar selalu menjaga persaudaraan dengan saling bantu membantu serta berbuat baik. Orang muslim itu saudara muslim lainnya”(HR Abu Dawud). Dalam riwayat lain, “Orang mu’min dengan mu’min lainnya bagaikan suatu bangungan kokoh yang saling menguatkan antara satu dengan lainnya”(HR Bukhori, Muslim, Tarmidzi dan Nasai’ dari Abu Musa Al-Asy’ari). Dalam surat Al-hujurat, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara karena itu damaikanlah diantara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”(Al-hujuraat: 10).

SEMUT IRENG

Di tengah gelombang pragmatisme, materialisme, dan hubbud dunya yang begitu dahsyat, kita tidak perlu galau, tidak perlu terlalu cemas, atau mengeluh dan kecewa berkepanjangan. Kita percaya bahwa nilai-nilai luhur tidak akan pernah mati dalam lubuk hati manusia. Masih banyak di sekitar kita ini orang-orang baik, jujur, istiqamah fi dinillah, dan komunitas-komunitas yang memelihara akal sehat umat.

Salah satu konsep Maiyah adalah ke dalam Maiyah kita melakukan penyadaran, ke luar Maiyah kita melakukan pengayoman. Pengayoman terhadap keluarga utamanya, kita menekuni pekerjaan kita masing-masing. Baik sendiri maupun kerjasama antar paseduluran. Yang pedagang menekuni perdagangannya. Yang petani menekuni pertaniannya. Yang wirausahawan menekuni wirausahanya. Yang guru dan dosen menekuni keguruan dan kependidikannya. Yang karyawan menekuni kekaryawannya. Yang pejabat negara melakukan kewajibannya sebagai pejabat yang adil dan jujur. Islam menghargai semua jenis pekerjaan yang halal. Islam menghargai semua pekerja di bidang apapun.

Ketika telah menyadari hal itu semua, maka kekuatan yang kita miliki hari ini adalah pertahanan paseduluran. Kekuatan silaturahmi, gotong royong dan toleransi tentunya dapat kita tumbuh dan tingkatkan lagi. Ibarat bangsa semut yang  memiliki karakter berupa tingkat kerjasama dan gotong royong yang sangat tinggi serta tidak rakus. Bangsa semut melayani orang lain sampai tingkat ekstrem, dia Ikhlas menjadi dirinya, sangat mandiri dan dia membuat kelemahan menjadi kelebihannya, seperti saat memasuki telinga gajah. Peristiwa yang sama bisa berbeda proses akhlaknya, pencurian bisa menjadi paseduluran dan itu salah satu wilayah perjuangan Maiyah. Karena baik buruknya akhlak itu ada konteks dan tempatnya, membunuh tidak selamanya buruk dan memberi makan tidak selalu baik.


Ia baik
Tapi tak merasa lebih baik dari siapapun,
Sehingga tak juga mempengaruhi mereka untuk mengikutinya
Ia pintar
Tapi tak merasa lebih pintar dari siapapun
Sehingga tak juga merasa berhak untuk mengatur-atur mereka

0 komentar:

Posting Komentar